Investasi Properti Asia Pasifik Cetak Rekor US$47 Miliar pada Kuartal I 2026
INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Investasi properti komersial di kawasan Asia Pasifik mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal pertama 2026. Perusahaan konsultan properti global JLL melaporkan nilai investasi commercial real estate (CRE) di kawasan tersebut mencapai US$47 miliar atau meningkat 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap pasar Asia Pasifik di tengah ketidakpastian global, termasuk perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi dunia. Aktivitas investasi lintas negara juga menunjukkan penguatan signifikan dengan total transaksi mencapai US$16,3 miliar, naik 87 persen secara tahunan dan menjadi rekor tertinggi dalam satu kuartal.
Singapura menjadi negara dengan pertumbuhan investasi tertinggi di Asia Pasifik pada kuartal pertama 2026. Nilai investasi melonjak 433 persen menjadi US$11,5 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh transfer aset milik Hongkong Land dan Qatar Investment Authority ke dana investasi SCPREF senilai US$6,4 miliar. Selain itu, kondisi pembiayaan yang dinilai kondusif turut mendorong transaksi di sektor ritel dan industri.
Sementara itu, Jepang masih mempertahankan posisi sebagai pasar properti komersial terbesar di kawasan Asia Pasifik dengan total investasi mencapai US$13,2 miliar, meski turun 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Aktivitas investasi di negara tersebut didominasi sektor perkantoran, termasuk transaksi akuisisi kantor pusat Dentsu Group oleh Brookfield dari Hulic senilai US$1,9 miliar.
CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, Stuart Crow, mengatakan kawasan Asia Pasifik masih menghadapi risiko akibat gejolak harga energi yang dipicu situasi geopolitik global.
“Meski awal 2026 mencatat rekor, ekonomi Asia Pasifik masih rentan terhadap gejolak harga energi akibat perkembangan geopolitik terbaru. Jepang dan Korea Selatan, yang masing-masing mengimpor 93% dan 67% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah, menghadapi tingkat risiko tertinggi,” ujar Stuart Crow.
Ia menambahkan bahwa dalam jangka pendek arus modal diperkirakan akan lebih banyak mengalir ke pasar yang matang dan likuid seperti Jepang dan Singapura. Menurutnya, kenaikan biaya konstruksi akibat harga energi juga dapat membatasi pasokan baru dan memperkuat prospek nilai aset strategis.
Sektor perkantoran menjadi kontributor terbesar investasi properti komersial pada kuartal pertama 2026 dengan nilai transaksi mencapai US$24 miliar atau naik 46 persen dibandingkan tahun lalu. Nilai tersebut menyumbang lebih dari separuh total investasi regional.
Di sisi lain, sektor industri dan logistik juga mencatat pertumbuhan kuat dengan nilai transaksi meningkat 53 persen menjadi US$8,5 miliar. Kondisi ini menunjukkan investor masih menaruh perhatian besar pada aset logistik berkualitas tinggi seiring penguatan fundamental pasar di sejumlah negara utama Asia Pasifik.
Permintaan terhadap data center turut mengalami lonjakan signifikan. Nilai investasi sektor ini mencapai US$4,1 miliar pada kuartal pertama 2026, didorong oleh meningkatnya kebutuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), penerapan regulasi kedaulatan data, serta kebijakan pemerintah yang aktif menarik investasi digital.
JLL memperkirakan permintaan kapasitas data center berbasis AI dan layanan cloud akan tumbuh rata-rata 19 persen per tahun selama lima tahun ke depan. Keterbatasan pasokan dan daya listrik di pasar utama Asia Pasifik membuat pengembang mulai melirik kawasan berkembang seperti Johor Bahru di Malaysia, Batam di Indonesia, dan Bangkok di Thailand.
Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, menilai Indonesia tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan.
“Indonesia terus menarik minat investor yang kuat, didukung oleh fundamental pasar yang solid serta tren struktural jangka panjang seperti ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, populasi usia produktif yang besar, serta adopsi AI yang semakin luas. Kami melihat minat investor yang tetap tinggi terhadap sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk logistik dan manufaktur, data center, dan perhotelan,” kata Farazia Basarah.
Kinerja sektor perhotelan di Asia Pasifik juga menunjukkan tren positif. Jumlah wisatawan internasional meningkat 6,3 persen sepanjang 2025, didorong pemulihan kawasan Asia Timur Laut dan Oseania. Pendapatan per kamar hotel yang tersedia atau RevPAR dalam dolar AS juga naik 11 persen pada dua bulan pertama 2026.
Sejalan dengan itu, volume transaksi hotel pada kuartal pertama 2026 meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 73 persen dari total transaksi hotel regional.
Head of Investor Intelligence Asia Pacific JLL, Pamela Ambler, mengatakan investor institusional kini mulai mengadopsi pendekatan investasi “HALO” atau Heavy Assets with Low Obsolescence.
“Pendekatan ini semakin meningkatkan daya tarik aset yang mampu memberikan pendapatan berkelanjutan dan lebih tahan terhadap disrupsi teknologi. Bagi investor jangka panjang, kondisi pasar saat ini, ditambah dengan menurunnya pasokan baru secara signifikan serta peluang untuk memperoleh aset dengan harga di bawah biaya penggantian, menjadikan periode ini sebagai momentum yang menarik investor untuk masuk ke pasar,” ujar Pamela Ambler.