Colliers Ungkap Strategi Baru Mal Jakarta Hadapi Perubahan Konsumen

Oleh : Hariyanto | Jumat, 22 Mei 2026 - 10:41 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pusat perbelanjaan di Jakarta mulai menggeser orientasi bisnisnya dari sekadar tempat transaksi menjadi ruang pengalaman dan gaya hidup. Pergeseran ini terlihat dari strategi pengelola mal yang kini lebih agresif memperkuat konsep lifestyle demi mempertahankan tingkat kunjungan dan okupansi di tengah tekanan platform belanja online serta perubahan perilaku konsumen muda.

Laporan terbaru Colliers Quarterly Property Market Report Q1 2026 untuk sektor ritel Jakarta mencatat rata-rata tingkat hunian pusat perbelanjaan berada di level 73% pada kuartal I-2026. Namun, performa mal tidak bergerak seragam. Segmen premium dan menengah atas masih menjadi penopang utama pasar ritel modern ibu kota.

Kepala Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan pusat perbelanjaan premium masih mampu menarik merek internasional serta konsumen dengan daya beli tinggi. “Meskipun rerata tingkat hunian di Jakarta tercatat sekitar 73% pada kuartal pertama 2026. Mal kelas premium dan menengah atas mempertahankan kinerja yang lebih baik dengan terus menarik minat brand internasional dan konsumen berdaya beli tinggi,” ujarnya.

Menurut Ferry, daya tarik mal kini tidak lagi hanya bertumpu pada tenant ritel konvensional, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan pengalaman sosial yang sulit digantikan platform digital. “Mal mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” katanya.

Kategori makanan dan minuman masih menjadi motor utama aktivitas penyewaan ruang ritel. Konsep gerai minuman hingga restoran yang menawarkan pengalaman sosial dinilai paling agresif berekspansi. Di saat bersamaan, tren gaya hidup sehat turut mengangkat ekspansi tenant pakaian olahraga seiring meningkatnya minat masyarakat urban terhadap kebugaran.

Sebaliknya, peritel fesyen menghadapi tekanan yang semakin berat. Persaingan dengan platform online dan merek lokal berbasis UMKM membuat konsumen, terutama generasi Z, semakin selektif dalam berbelanja. Kelompok ini dinilai lebih mempertimbangkan value produk dan pengalaman dibanding sekadar merek.

Perubahan perilaku konsumen tersebut mendorong peritel menyesuaikan strategi ekspansi. Banyak tenant kini memilih format toko yang lebih kecil, durasi sewa lebih pendek, serta lokasi dengan trafik pengunjung tinggi guna menjaga efisiensi operasional.

Di sisi pengelola mal, strategi ekspansi agresif mulai ditinggalkan. Pemilik pusat perbelanjaan lebih memilih melakukan renovasi dan peremajaan aset untuk menjaga relevansi pasar. Pengembangan area semi-outdoor, fasilitas gaya hidup, hingga ruang interaksi sosial menjadi fokus baru untuk meningkatkan pengalaman pengunjung.

Colliers menilai arah transformasi ini tercermin dari tren okupansi. Mal premium dan menengah atas masih mampu menjaga tingkat hunian di kisaran 90%. Sementara itu, mal kelas bawah menghadapi tantangan penyerapan tenant yang lebih lambat di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Kondisi tersebut membuat kualitas aset, komposisi penyewa, serta pengalaman pengunjung menjadi faktor pembeda utama dalam persaingan industri ritel modern. Colliers memperkirakan pelaku usaha yang mampu menghadirkan diferensiasi merek, efisiensi operasional, dan pengalaman relevan bagi konsumen akan lebih unggul dalam menjaga kinerja bisnis ke depan.