RI Dinilai Butuh ChatGPT Versi Lokal
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pemerintah menilai Indonesia perlu memiliki large language model (LLM) nasional yang mampu memahami budaya, perilaku, hingga karakter masyarakat Indonesia secara lebih akurat dibandingkan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) buatan luar negeri.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan, pemerintah menegaskan bahwa model AI global saat ini masih memiliki keterbatasan dalam memahami konteks sosial dan budaya lokal Indonesia.
“Idealnya, kita punya LLM nasional yang benar-benar mencerminkan kondisi, budaya, bahkan behavior masyarakat Indonesia,” kata Bonifasius dalam sebuah diskusi berjudul “Strengthening National Resilience in The Era of Artificial Intelligence” di Jakarta, Selasa (19/5).
Menurutnya, AI berbasis Barat memiliki pola pemahaman yang berbeda dengan budaya masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan soal etika sederhana seperti penggunaan tangan kanan saat memberikan barang yang dianggap penting dalam budaya lokal, namun belum tentu dipahami oleh AI luar negeri.
“Bagi negara barat mungkin menerima barang dengan tangan kiri tidak masalah. Tapi di Indonesia berbeda. Hal-hal seperti ini tidak akan bisa terjawab bila versinya masih berbasis barat,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah mengakui saat ini Indonesia masih mengandalkan teknologi AI asing untuk sejumlah kebutuhan strategis, mulai dari pengamanan ruang digital, analisis judi online, hingga pengelolaan data analitik dan foto.
Berdasarkan hasil riset internal yang dilakukan, salah satu model AI luar negeri dinilai masih unggul dari sisi performa dan kemampuan analitik. “Untuk analitik foto dan sebagainya , saat ini masih unggul. Jadi sementara kami masih menggunakan itu karena paling cocok secara performance,” ungkap Bonifasius.
Namun, pemerintah menekankan bahwa kebutuhan AI akan sangat bergantung pada use case atau kebutuhan penggunaannya. Karena itu, Indonesia dinilai perlu mulai membangun kemampuan AI sendiri agar tidak terus bergantung pada teknologi asing.
Meski demikian, tantangan terbesar dalam membangun LLM nasional terletak pada kebutuhan investasi yang sangat besar, baik dari sisi infrastruktur komputasi, data, maupun riset.
“Investasinya tidak mudah dan sangat besar. Pemerintah juga tidak punya resources sebesar itu dalam arti budget,” ungkapnya.
Karena itu, pengembangan AI nasional dinilai harus dilakukan melalui kolaborasi lintas stakeholder, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga investor strategis.
Pemerintah juga membuka peluang keterlibatan Danantara maupun pihak lain untuk mendukung pendanaan pengembangan AI nasional agar Indonesia mampu bersaing di level global.
“Kalau Danantara bisa masuk tentu ini sangat luar biasa. Tapi jangan setengah-setengah, karena negara lain juga serius ketika masuk ke sektor ini,” katanya.
Dia menambahkan, tanpa dukungan pendanaan besar dan konsisten, Indonesia akan sulit mengejar kemampuan AI kelas dunia yang mampu menangani analisis data dalam skala besar.
“Kalau hanya riset-riset kecil, kita tidak akan sampai untuk handling huge number of analytical data,” pungkasnya.