Rupiah Anjlok, Industri Mebel Nasional Ketar-ketir
INDUSTRY.co.id - Jakarta — Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi ancaman serius bagi industri mebel dan kerajinan nasional.
Meski secara teori eksportir diuntungkan karena penerimaan berbasis dolar meningkat, kondisi di lapangan justru memunculkan tekanan baru terhadap biaya produksi dan arus kas pelaku usaha.
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai pelemahan rupiah tidak otomatis membawa keuntungan besar bagi industri. Sebab, sektor mebel nasional masih sangat bergantung pada berbagai komponen impor yang menggunakan dolar AS.
“Industri mebel Indonesia masih memiliki ketergantungan pada hardware, chemical finishing, mesin produksi, sparepart, hingga material penunjang impor. Akibatnya, kenaikan kurs justru menaikkan biaya produksi dan menekan margin industri,” ujar Ketua HIMKI, Abdul Sobir dalam keterangannya di Jakarta (19/5).
Kondisi tersebut diperparah dengan situasi ekonomi global yang membuat buyer luar negeri lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian. Alhasil, kenaikan kurs dolar belum tentu sejalan dengan peningkatan keuntungan industri mebel nasional.
Menurut Sobur, banyak pelaku usaha justru menghadapi ketidakpastian cashflow dan kesulitan dalam menyusun perencanaan produksi akibat volatilitas nilai tukar yang tinggi.
“Momentum ini harus menjadi alarm penting untuk memperkuat daya saing industri nasional secara fundamental, bukan sekadar menikmati windfall jangka pendek akibat kurs,” lanjutnya.
Di tengah tekanan global dan pelemahan rupiah, HIMKI mendorong pelaku industri untuk belajar dari ekosistem industri di China. Dalam kunjungan ke sejumlah kota industri seperti Shandong, Qingdao, Zhangzhou, Xiamen, hingga Shenzhen, HIMKI melihat bagaimana industrialisasi dibangun secara terintegrasi dan efisien.
Di Xiamen, misalnya, pengembangan kota dilakukan dengan pendekatan human oriented melalui waterfront economy, retail experience, café & creative ecosystem, city branding, hingga integrasi pariwisata dan industri kreatif.
Sementara di Zhangzhou dan kawasan industri lainnya, HIMKI menyoroti efisiensi logistik, kedisiplinan produksi, penguasaan teknologi mesin, hingga rantai pasok yang terhubung cepat.
“Yang paling terasa bukan hanya soal teknologi, tetapi mentalitas industrialisasi mereka. Pemerintah, kawasan industri, logistik, pendidikan vokasi, hingga dunia usaha bergerak dalam satu arah yang sama,” ungkap Sobur.
Dia menilai Indonesia memiliki potensi besar karena didukung sumber daya kayu dan bahan baku melimpah. Namun, industri nasional masih perlu memperkuat sektor hilirisasi dan industrialisasi lanjutan.
Beberapa sektor yang dinilai perlu diperkuat antara lain pengolahan engineered wood, industri komponen, chemical industry pendukung, hingga pengembangan industri mesin nasional.
Ke depan, pelaku industri juga mulai realistis untuk melakukan diversifikasi sumber pasokan dan teknologi, termasuk membuka peluang kerja sama dengan China maupun negara lain demi meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Namun Sobur menegaskan, tujuan utamanya bukan sekadar mengganti negara asal impor, melainkan membangun industri nasional yang lebih efisien, produktif, dan memiliki nilai tambah tinggi.
“Daya tahan industri tidak bisa hanya bergantung pada kurs dolar. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun ekosistem industri yang kuat, efisien, produktif, dan kompetitif secara global,” tutup HIMKI.