IRF 2026 Soroti Pentingnya Transparansi dan Reformasi Pasar Modal
INDUSTRY.co.id - Jakarta, 11 Mei 2026 — Di tengah tekanan ekonomi global, tensi geopolitik, dan ancaman capital outflow dari pasar negara berkembang, pemerintah bersama regulator pasar modal menegaskan komitmennya menjaga stabilitas sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Langkah reformasi pasar modal dinilai menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia dan menjaga kesinambungan pertumbuhan investasi nasional. Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2026 bertema “Reformasi Pasar Modal Tingkatkan Kepercayaan di Era Ketidakpastian Global” yang digelar Kitacomm dan SUAR.id dengan dukungan Bursa Efek Indonesia (BEI), di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (11/5).
Mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, Evita Manthovani, menegaskan bahwa Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global yang tidak menentu. Ia menyebut fundamental ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi relatif kuat dengan valuasi pasar yang masih menarik di mata investor.
Evita juga menyoroti sejumlah reformasi yang mendapat respons positif dari pelaku pasar global, termasuk peningkatan ketentuan free float saham dari 7,5% menjadi 15% serta kenaikan porsi saham RTI 45 bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi dari 8% menjadi 20%. Kebijakan tersebut dipandang sebagai upaya memperluas aksesibilitas sekaligus meningkatkan likuiditas pasar modal domestik.
“Ke depan, kebutuhan pembiayaan Indonesia diperkirakan meningkat signifikan, dari Rp7.400 triliun menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan memperkuat daya tarik pasar modal menjadi sangat penting,” ujar Evita. Ia menambahkan, Indonesia memiliki ruang sekaligus tanggung jawab untuk menunjukkan kepada pasar global bahwa agenda reformasi ekonomi dan pasar modal berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai pasar modal Indonesia masih memiliki fondasi domestik yang solid di tengah volatilitas global, terutama dengan terus bertambahnya jumlah investor domestik.
Menurut Friderica, penguatan basis investor domestik baik ritel maupun institusi menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pasar keuangan nasional. “Selama fundamental ekonomi Indonesia tetap baik, maka pasar modal Indonesia juga akan tetap memiliki daya tahan yang kuat,” ujar Friderica.
Ia turut menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan kolaboratif antara regulator, emiten, investor, media, dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal dalam menjaga kepercayaan publik terhadap industri pasar modal nasional.
“Pasar modal yang sehat membutuhkan komunikasi yang sehat. Karena komunikasi membentuk perspektif, dan perspektif membentuk kepercayaan,” katanya.
IRF 2026 sendiri merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2025 yang pertama kali digelar oleh Kitacomm bersama RAC Capital dengan dukungan Bursa Efek Indonesia. Pada penyelenggaraan perdananya, forum tersebut mengangkat tema “Decoding the New Era of Investor Relations” dengan fokus pada penguatan praktik investor relations, tata kelola perusahaan (GCG), serta implementasi ESG di pasar modal Indonesia.
Lebih dari 250 pimpinan perusahaan dan pelaku pasar modal hadir dalam IRF 2025, menjadikannya salah satu inisiatif yang mendorong standardisasi praktik investor relations yang lebih strategis dan transparan di Indonesia.
Melanjutkan inisiatif tersebut, IRF 2026 menyoroti reformasi pasar modal dan penguatan kepercayaan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perubahan pola investasi, serta pertumbuhan investor ritel domestik yang semakin signifikan.
Sebagai pionir konsultan public relations yang berfokus pada industri pasar modal selama lebih dari 25 tahun, Kitacomm menilai investor relations kini memegang peran yang semakin strategis, tidak hanya sebagai fungsi komunikasi perusahaan, tetapi juga sebagai jembatan kepercayaan antara perusahaan, investor, dan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pasar modal.