Gila 86% Pimpinan Rencanakan Suntik Dana Lebih Besar ke AI, 77% Sudah Pakai AI Agents di Enterprise Level

Oleh : Kormen Barus | Sabtu, 09 Mei 2026 - 11:24 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Asia Pasifik– Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di Asia Pasifik kian membara. Perusahaan tak lagi sekadar eksperimen, tapi langsung scaling ke level enterprise untuk kuatkan bisnis di tengah badai ketidakpastian.

Riset Accenture Pulse of Change ungkap, 86% pimpinan rencanakan tingkatkan investasi AI tahun ini. Saat ini, 77% sudah gunakan AI agents, dan 29% integrasikan ke berbagai proses bisnis.

Dari Efisiensi ke Mesin Cetak Revenue

Cara pandang berubah drastis. Sebanyak 76% pimpinan kini lihat AI sebagai pendorong pertumbuhan pendapatan, bukan cuma alat hemat biaya. Fokus utama? Operasionalkan AI secara luas: benahi tata kelola, redesign proses kerja, dan sesuaikan struktur serta budaya perusahaan.

Riset Sovereign AI Accenture catat 62% perusahaan APAC bakal tambah investasi AI mandiri. Sementara Talent Trends sebut 41% CXO prioritaskan transformasi talenta, karena skill gap jadi ancaman terbesar ikuti perkembangan tech. "Di era margin tipis, disrupsi perdagangan, dan talenta tak rata, perusahaan APAC serius scaling AI bangun ketahanan," tegas Ryoji Sekido, Co-CEO APAC Accenture.

Ia ingatkan, sukses bukan soal sebanyak tools AI diluncur, tapi disiplin pakai di titik krusial seperti proses utama atau keputusan kunci. "Nilai datang dari fokus, bukan luas semata," tambahnya.

Talenta Manusia Kunci Kolaborasi dengan AI

Vivek Luthra, AI & Data Lead Accenture APAC, soroti: "Banyak organisasi sadar transformasi talenta jadi kunci scaling AI. 41% sebut skill gap tantangan nomor satu. Perusahaan maju redesign peran kerja, dorong kolaborasi manusia-AI harian."

Contoh nyata dari One New Zealand. Operator telekom ini wajibkan pelatihan "Ka Tika: Using AI Responsibly" untuk semua karyawan, plus AI School, program AI Elevate, dan platform Skills Edge. Hasilnya? Jaringan lebih cerdas, pengalaman pelanggan prima, adaptasi cepat. "Di industri kompetitif, investasi manusia bikin AI optimal—dari kelola jaringan hingga dorong pertumbuhan berkelanjutan," kata Summer Collins, Chief AI & Business Services Officer One New Zealand.

UOB dan Dabur: AI Terintegrasi Operasi Inti

UOB ambil pendekatan terstruktur. Bank ini scale AI generatif dan agentic secara bertanggung jawab via Gen AI Enablement, Build-Your-Own-Bot, Innovation Academy, serta AIDA Centre of Excellence. Tata kelola kuat dengan human-in-the-loop pastikan aman regulasi. "Kepercayaan nasabah dan ketahanan prioritas, tingkatkan produktivitas serta pengalaman personal," ujar Alvin Eng, Head of Enterprise AI UOB.

Dabur India tak mau ketinggalan. Raksasa FMCG ini gabungkan warisan Ayurveda dengan digital via Dabur GPT, workshop "AI Horizon", digital academy LinkedIn, plus pelatihan data-cybersecurity. Peran karier kini tekankan AI adaptability. "AI empower karyawan hadapi pasar cepat, ciptakan nilai bisnis lewat produktivitas dan continuous learning," kata Manas Mehra, Global CIO Dabur India Limited.

Tren APAC: Siap Saingi Global

Inisiatif ini sejalan SDGs ekonomi digital. Perusahaan APAC yang sigap tak hanya efisien, tapi ciptakan revenue baru dan ketahanan bisnis. Dengan talenta siap, proses ulang, dan tata kelola solid, kawasan ini posisi kuat di era AI.

Referensi: Accenture Pulse of Change (Jan 2026), Sovereign AI (Nov 2025), Talent Reinventors (Mar 2026).

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →