WCCE 2026, Arena Baru Diplomasi dan Industri Kreatif

Oleh : Candra Mata | Kamis, 07 Mei 2026 - 07:11 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta kembali menyiapkan diri sebagai panggung percakapan global. Di tengah lanskap kota yang terus bergerak, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) meluncurkan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, sebuah forum yang tidak hanya dirancang sebagai pertemuan internasional, melainkan juga sebagai ruang perumusan arah baru ekonomi kreatif dunia.

Peluncuran yang berlangsung di Autograph Tower, Jakarta, Rabu (6/5), menjadi penanda dimulainya langkah Indonesia untuk memperkuat posisi ekonomi kreatif sebagai salah satu fondasi pertumbuhan nasional. Dalam momentum itu pula, Indonesia mulai menyiapkan dokumen Jakarta Vision for Creative Economy, yang diproyeksikan menjadi dasar agenda kebijakan ekonomi kreatif di tingkat global.

“WCCE sejak awal bukan hanya forum diskusi, tetapi platform untuk menyusun agenda kebijakan internasional. Fokusnya adalah memastikan ekonomi kreatif masuk dalam prioritas global dengan output yang terukur,” ujar Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, dalam acara peluncuran yang berlangsung di Autograph Tower, Jakarta, Rabu (6/5).

Ruangan peluncuran dihadiri berbagai unsur yang memperlihatkan luasnya jejaring ekonomi kreatif saat ini. Sebanyak 27 perwakilan kementerian dan lembaga hadir bersama 70 asosiasi bisnis serta 48 perwakilan media. Organisasi internasional seperti British Council dan US-ASEAN Business Council turut ambil bagian, bersama delegasi negara sahabat seperti Filipina, Malaysia, dan Rusia.

WCCE 2026 dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran. Sekitar 80 negara ditargetkan berpartisipasi dalam forum yang mempertemukan pemerintah, organisasi internasional, pelaku industri, akademisi, komunitas kreatif, hingga investor ke dalam satu ekosistem dialog dan kolaborasi.

Sejak pertama kali digelar pada 2018, WCCE berkembang menjadi forum yang tidak berhenti pada diskusi seremonial. Konferensi ini tercatat berkontribusi terhadap lahirnya dua resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2019 dan 2023. Pada penyelenggaraan 2026, Indonesia kembali menargetkan langkah lebih jauh melalui penyusunan Jakarta Vision for Creative Economy yang akan diajukan dalam Sidang Majelis Umum PBB.

“Dokumen Jakarta Vision akan dirumuskan bersama negara peserta dan ditujukan untuk menjadi resolusi berikutnya di PBB, sehingga ekonomi kreatif memiliki pijakan kebijakan yang lebih kuat secara global,” ujar Teuku Riefky 

Optimisme Indonesia dalam forum ini bertumpu pada pertumbuhan sektor ekonomi kreatif nasional yang terus menunjukkan penguatan. Pada 2024, sektor tersebut menyumbang Rp 1.611,15 triliun atau sekitar 7,28 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional. Sementara pada 2025, capaian utamanya meliputi ekspor sebesar 31,94 miliar dolar AS, investasi Rp 183,01 triliun, dan penyerapan tenaga kerja mencapai 27,4 juta orang.

Angka-angka tersebut menjadi pijakan pemerintah untuk mendorong kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional hingga 8,0–8,4 persen pada 2029, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi kreatif internasional.

Mengusung tema Inclusively Creative: Collective Continuity, WCCE 2026 menempatkan kolaborasi lintas sektor sebagai inti penyelenggaraan. Forum kebijakan, pertemuan bilateral, hingga business matching dirancang berjalan beriringan demi menghasilkan kerja sama yang konkret dan berkelanjutan.

Salah satu ruang yang disiapkan adalah Creativillage, kawasan integratif yang memadukan pameran, interaksi bisnis, dan aktivasi industri kreatif. Di dalamnya hadir Screenverse dan KultKreo sebagai bagian dari penguatan ekosistem kreatif nasional.

Screenverse diposisikan sebagai platform internasional yang menghubungkan industri berbasis layar—mulai dari film, serial, gim, layanan streaming, hingga konten digital—dalam satu ruang kolaborasi yang mempertemukan kreator, studio, platform, dan investor demi memperluas investasi serta distribusi karya ke pasar global.

Sementara KultKreo diarahkan untuk memperkuat talenta ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). Fokusnya mencakup pengembangan karya, perlindungan hak cipta, dan perluasan akses pasar, terutama pada subsektor fesyen, musik, dan budaya populer.

Plt. Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Dian Permanasari, menambahkan bahwa forum ini juga memfasilitasi pertemuan bilateral dan business matching lintas negara untuk mempercepat realisasi kerja sama.

“Melalui skema pertemuan antarpemerintah dan pelaku usaha, WCCE membuka ruang implementasi kerja sama yang dapat ditindaklanjuti secara langsung,” ujarnya.

Pada akhirnya, WCCE 2026 tidak hanya diposisikan sebagai konferensi internasional, tetapi juga bagian dari rangkaian Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) yang menghidupkan aktivitas ekonomi kreatif di berbagai daerah. Dari Jakarta, Indonesia mencoba menegaskan satu hal: ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pendukung, melainkan bahasa baru pertumbuhan dan diplomasi global.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →