Di Balik Laba BFIN: Lonjakan CoC Menguji Ketahanan Bisnis
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kinerja BFI Finance Indonesia di awal 2026 terasa seperti memasuki fase yang lebih berhati-hati. Laba bersih tercatat Rp354 miliar pada 1Q26—turun 13% secara tahunan dan 15% dibanding kuartal sebelumnya—sebuah sinyal bahwa tekanan mulai terasa nyata.
Namun, cerita utama bukan sekadar penurunan laba. Yang lebih mencuri perhatian adalah lonjakan cost of credit (CoC) ke level 5,7%, melampaui ekspektasi dan menjadi yang tertinggi setidaknya dalam dua tahun terakhir. Kenaikan ini seolah menjadi cermin dari kualitas aset yang mulai retak di beberapa lini pembiayaan.
Beban provisi pun melonjak tajam menjadi Rp399 miliar, didorong terutama oleh segmen kendaraan roda empat yang menyerap porsi terbesar. Di saat yang sama, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) ikut merangkak naik ke 1,6%, mempertegas bahwa risiko kredit kini tidak lagi bisa diabaikan sebagai gangguan sementara.
Meski demikian, manajemen melihat ini bukan sebagai tren permanen. Ada keyakinan bahwa tekanan CoC mulai mereda sejak April, dengan proyeksi kembali mendekati kisaran target tahunan sekitar 4,1%, selama kondisi eksternal—khususnya harga energi—tidak kembali bergejolak. Efek musiman seperti pergeseran libur Idulfitri juga disebut turut memperburuk angka kuartal pertama.
Di sisi operasional, pertumbuhan tetap berjalan, meski tidak agresif. PPOP hanya naik 6% YoY, sejalan dengan pertumbuhan managed receivables yang juga moderat. Sentimen konsumen yang melemah dan kalender libur yang padat di paruh pertama tahun membuat ekspansi terasa tertahan. Harapan kini bergeser ke paruh kedua 2026, di mana aktivitas ekonomi diperkirakan kembali lebih hidup.
Dalam lanskap yang penuh ketidakpastian—termasuk bayang-bayang geopolitik, manajemen memilih pendekatan defensif. Fokus diarahkan pada kualitas aset dan likuiditas, alih-alih mengejar pertumbuhan pembiayaan secara agresif. Ini bukan sekadar strategi, melainkan bentuk adaptasi terhadap risiko yang semakin kompleks.
Di tengah dinamika tersebut, ada satu hal yang tetap dijaga: komitmen terhadap pemegang saham. Perusahaan memberi sinyal pembagian dividen yang lebih tinggi untuk tahun buku 2025, melanjutkan tren payout yang atraktif. Setelah dividen interim Rp35 per saham dibagikan, pasar kini menantikan keputusan final dalam RUPS pada 20 Mei 2026—yang berpotensi menambah setidaknya Rp25 per saham lagi.
Singkatnya, 2026 bagi BFIN tampaknya bukan tentang seberapa cepat tumbuh, melainkan seberapa kuat bertahan.