IHSG Terseret Tekanan Global: Dari Rupiah Melemah hingga Minyak Menguat
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Pasar tampaknya sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar -3,38% ke level 7.129 pada Jumat (24/4), memperpanjang tekanan menjadi -6,6% secara mingguan. Koreksi ini bukan tanpa sebab—beban utama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA (-5,48%), DSSA (-10,22%), BBRI (-2,85%), BREN (-6,29%), dan BMRI (-2,81%), yang seolah menjadi jangkar penarik indeks ke bawah.
Di balik layar, arus dana asing turut memperkeruh suasana. Dalam dua hari terakhir saja, tercatat net foreign outflow sebesar Rp979 miliar pada Kamis (23/4) dan melonjak menjadi Rp2 triliun pada Jumat (24/4). Angka-angka ini mencerminkan satu hal: kepercayaan investor global sedang goyah.
Sentimen negatif ini tidak berdiri sendiri. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi katalis utama. Mata uang domestik sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di level 17.315 per dolar AS pada perdagangan intraday Kamis, sebelum sedikit bernapas lega dan menguat +0,52% ke 17.205 pada hari berikutnya.
Bank Indonesia, melalui Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan intensitas intervensi demi menjaga stabilitas. Namun, tekanan belum sepenuhnya mereda—secara year-to-date, rupiah telah terdepresiasi -3,1%, sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya.
Akar masalahnya menjalar hingga ke pasar energi global. Harga minyak kembali menembus ambang psikologis US$100 per barel, didorong oleh gangguan pasokan di Selat Hormuz. Meski Brent sempat terkoreksi tipis ke sekitar US$104,3 per barel pada Jumat sore, volatilitas tetap tinggi. Padahal, hanya sepekan sebelumnya harga sempat turun ke kisaran US$90,4 per barel, dipicu harapan akan kelanjutan negosiasi AS–Iran, harapan yang kini kembali meredup.
Dari sisi fundamental, perhatian juga tertuju pada ketahanan fiskal Indonesia. Fitch Ratings, melalui Direktur George Xu, menyampaikan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk melampaui batas defisit fiskal tanpa langsung memicu penurunan peringkat, selama langkah tersebut bersifat sementara dan responsif terhadap guncangan eksternal seperti konflik di Timur Tengah. Namun, peringatan tetap disematkan: jika defisit tinggi menjadi kebiasaan, maka risiko terhadap kualitas kredit akan meningkat.
Perlu diingat, pada Maret 2026, Fitch telah menurunkan outlook kredit Indonesia dari ‘stable’ menjadi ‘negative’, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian dan menurunnya kredibilitas kebijakan. Bahkan, isu perluasan mandat Bank Indonesia disebut berpotensi memperumit arah kebijakan dan membuka ruang kesalahan yang lebih besar.
Kembali ke pasar, arus keluar dana asing yang terkonsentrasi pada saham-saham perbankan besar memperjelas satu narasi: tekanan pada rupiah telah merembet menjadi tekanan pada sentimen investor. Dan selama harga minyak bertahan tinggi, beban fiskal berisiko semakin berat—terutama di tengah kebijakan penyesuaian harga BBM yang masih selektif.
Dalam konteks ini, pasar tidak hanya menunggu, tetapi juga menguji. Bagaimana pemerintah merespons skenario “higher-for-longer” pada harga minyak akan menjadi kunci—apakah melalui realokasi anggaran, penyesuaian belanja, atau langkah strategis lainnya. Satu hal pasti: ketidakpastian belum akan pergi dalam waktu dekat.