Konektivitas Jadi Nyawa Hunian Gen Z Jakarta, TOD Dongkrak Harga Sewa Co-living Hingga 10%

Oleh : Hariyanto | Kamis, 23 April 2026 - 17:18 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Kemacetan Jakarta tidak hanya menggerus waktu, tapi juga mengubah total cara generasi muda memilih tempat tinggal. Bagi Gen Z urban, hunian kini dinilai dari satu metrik utama: seberapa cepat bisa sampai ke kantor tanpa harus bertarung dengan jalanan ibu kota.

Momentum Hari Angkutan Nasional 24 April kembali menegaskan realitas itu. Lokasi yang menempel dengan simpul transportasi umum bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan syarat wajib yang menentukan laku tidaknya sebuah properti di mata anak muda.

Tekanan mobilitas tersebut tergambar jelas dari temuan Cove. Platform co-living itu mencatat mayoritas Gen Z Jakarta sudah sampai di titik mempertimbangkan pindah rumah hanya demi memangkas waktu perjalanan harian.

“Sebanyak 6 dari 10 Gen Z di Jakarta mempertimbangkan untuk pindah hunian semata demi mengurangi durasi perjalanan harian mereka. Angka tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh mobilitas terhadap kualitas hidup anak muda, terutama di kota padat seperti Jakarta. Konektivitas bukan sekadar nilai tambah sebuah hunian, tetapi sudah menjadi faktor penentu untuk pilihan hunian generasi muda,” ujar Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing, Cove.

Bagi Gen Z yang beraktivitas di Jakarta dan sekitarnya, dua hal yang tidak bisa ditawar adalah efektivitas perjalanan dan pengeluaran. Perilaku ini langsung tercermin dalam keputusan sewa. Dua faktor paling dominan yang memengaruhi pilihan hunian adalah jarak ke kantor dengan porsi 40 persen dan keterjangkauan harga 38 persen.

Hal serupa dikonfirmasi dari sisi penghuni Cove sendiri. Mayoritas menyebut tantangan terbesar dalam mencari hunian adalah lokasi yang kurang strategis. Sebab, lokasi menentukan dua beban sekaligus: durasi perjalanan yang panjang dan biaya transportasi yang membengkak.

Ekspektasi mereka sebenarnya sederhana. Sebanyak 47 persen Gen Z di Jakarta merasa waktu tempuh ideal ke kantor ada di rentang 15-30 menit. Angka yang terdengar masuk akal, tetapi nyaris mustahil dicapai saat jam produktif. Kemacetan, aturan ganjil genap, hingga tarif dinamis ojek dan taksi daring membuat mereka terjebak dalam tiga pilihan yang sama-sama pahit: bayar lebih mahal untuk tinggal di pusat kota, berebut transportasi daring setiap pagi, atau merelakan waktu habis di jalan.

Di titik inilah hunian yang menempel dengan transportasi massal menjadi jawaban paling rasional. Bukan hanya soal ongkos yang lebih murah, tetapi waktu tempuh yang konsisten dan bisa diprediksi. Dua hal yang kini lebih dicari Gen Z ketimbang sekadar luas kamar.

Tren ini membuat konsep Transit Oriented Development (TOD) tidak hanya berdampak ke masyarakat, tapi juga mendongkrak kinerja sektor properti, terutama co-living. Data internal Cove menunjukkan lokasi strategis menjadi pertimbangan utama penyewa setelah fasilitas bangunan. Dari kelompok yang memprioritaskan lokasi, lebih dari sepertiga secara spesifik memburu kedekatan dengan transportasi umum.

Dampaknya langsung terasa ke valuasi. Hunian co-living yang berada dekat KRL, MRT, LRT, atau Transjakarta cenderung mematok harga sewa 5-10% lebih tinggi. Kenaikan bahkan bisa lebih signifikan jika jaraknya kurang dari 500 meter ke stasiun atau halte, dengan catatan fasilitas bangunan tetap kompetitif. Sebaliknya, minat pasar langsung turun jika jarak ke transportasi umum sudah di atas 1 kilometer.

“Tidak hanya mendukung mobilitas generasi muda yang tinggi, pengembangan hunian yang berfokus pada aksesibilitas transportasi umum juga berkontribusi terhadap peningkatan performa sektor properti, khususnya co-living. Properti Cove dengan waktu tempuh kurang dari 15 menit berjalan kaki ke transportasi umum memiliki rata-rata occupancy rate di atas 80 persen, dengan permintaan yang didominasi para pekerja dan pelajar Gen Z,” tutup Dian.

Fenomena ini mempertegas pergeseran definisi hunian di Jakarta. Bagi Gen Z, alamat yang prestisius kalah penting dibanding akses ke stasiun. Dan selama kemacetan masih jadi menu harian ibu kota, properti yang bisa memotong waktu perjalanan akan terus punya daya tawar lebih tinggi.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →