Hutan Papua Terancam, Masyarakat Adat Bicara: Kami Masih Mau Hidup

Oleh : Candra Mata | Senin, 06 April 2026 - 08:51 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Dalam Rapat Paripurna ke-6 Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia di Kompleks Parlemen Jakarta, Senator Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, menyampaikan interupsi tegas yang menggema jauh melampaui ruang sidang. Ia menyoroti berbagai kebijakan pusat yang dinilai mengabaikan hak dan kearifan masyarakat adat Papua, mulai dari rencana ekspansi perkebunan hingga pendekatan militer dalam program ketahanan pangan.

Di hadapan pimpinan sidang, Mayor menegaskan bahwa Papua memiliki kekhususan yang diatur dalam Undang-Undang Otonomi Khusus Nomor 21 Tahun 2001. Menurutnya, inti dari otonomi khusus tersebut adalah pengakuan terhadap hukum adat sebagai dasar kehidupan masyarakat Papua.

“Papua sudah ada otonomi khusus. Yang khusus di situ adalah syariat adat. Kalau saudara-saudara kita di Aceh syariat Islam, kita di Papua syariat adat,” tegasnya.

Ia juga menyoroti persoalan kepemilikan tanah yang kerap menjadi sumber konflik. Dalam pandangan masyarakat adat, seluruh tanah di Papua adalah tanah adat, bukan tanah negara. Namun praktik di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

“Semua di Papua itu tanah adat, bukan tanah negara. Tapi kementerian turun tanpa koordinasi dengan lembaga adat, langsung keluarkan sertifikat. Ini yang selalu bikin konflik," imbuhnya.

Kritik tajam juga diarahkan kepada rencana pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa dan sawit, serta program ketahanan pangan berbasis militer. Mayor menilai kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat Papua yang lebih mendesak.

“Orang Papua butuh sekolah dan rumah sakit, bukan markas tentara," ungkapnya.

Ia bahkan meminta agar aspirasi ini langsung disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, agar kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat adat dapat dihentikan.

Di luar ruang parlemen, persoalan yang disampaikan Senator Mayor berakar pada kenyataan yang lebih luas: ancaman terhadap hutan Papua. Hutan ini merupakan salah satu benteng terakhir hutan primer Indonesia yang menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Namun, ekspansi industri dan pembukaan lahan telah menyebabkan penyusutan hutan secara signifikan setiap tahunnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem ekologis nasional dan global.

Hilangnya hutan bukan sekadar kehilangan pepohonan, melainkan juga hilangnya sistem kehidupan yang telah terjaga selama ratusan tahun.

Di tengah ancaman tersebut, suara masyarakat adat terus bergema. Mereka menolak dianggap sebagai penghalang pembangunan, dan justru menegaskan bahwa mereka adalah penjaga alam.

“Kami masih mau hidup di tanah kami sendiri, bukan di tanah orang lain. Jangan bunuh kami," ucap salah satu warga adat Papua.

Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar sumber ekonomi. Hutan adalah “Mama”, sumber kehidupan, identitas, dan keberlangsungan generasi.

Pesan yang paling menyentuh datang dari seorang pemuda Kampung Malagufuk, dari Suku Moi di Kabupaten Sorong. Dalam pernyataan yang viral, ia menyampaikan filosofi sederhana namun mendalam tentang hubungan manusia dan alam.

“Oksigen lebih penting daripada uang," ujarnya.

Pernyataan ini bukan sekadar kritik terhadap eksploitasi alam, tetapi juga refleksi dari cara hidup masyarakat adat yang menempatkan keseimbangan ekosistem sebagai prioritas utama.

Bagi mereka, hutan adalah sumber pangan, obat-obatan, identitas budaya, sekaligus penyangga kehidupan. Mereka mengambil dari alam secukupnya, sambil menjaga agar generasi berikutnya tetap dapat hidup dari sumber yang sama.

Menjaga Papua, Menjaga Masa Depan

Apa yang terjadi di Papua hari ini bukan hanya persoalan lokal, melainkan cerminan arah pembangunan bangsa. Ketika hutan terus menyusut dan masyarakat adat terpinggirkan, yang dipertaruhkan adalah masa depan bersama.

Kearifan lokal masyarakat adat Papua menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam. Kesejahteraan tidak selalu diukur dari nilai ekonomi semata, tetapi dari keberlanjutan hidup itu sendiri.

Menjaga hutan Papua berarti menjaga keseimbangan bumi. Dan mungkin, seperti yang diingatkan pemuda Moi, masa depan itu sesederhana memahami bahwa oksigen—bukan uang—adalah yang paling kita butuhkan.

Candra Mata

Redaksi

Candra Mata adalah seorang jurnalis dan wartawan di media cetak dan portal berita online nasional bernama Industry.co.id, tercatat aktif sebagai salah satu tim redaksi dan jurnalis yang mengulas berbagai perkembangan sektor industri di Indonesia.Fokus Liputan: Artikel berita yang ditulisnya banyak berfokus pada kebijakan ekonomi, aktivitas ekspor-impor, program investasi nasional, perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), hingga inovasi Industri Kecil Menengah (IKM)

Lihat semua artikel →