Kementerian Ekraf Buka Peluang Bogor Jadi Kota Gastronomi UCCN
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya membahas peluang Bogor menjadi Kota Gastronomi dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Hal itu disampaikan dalam audiensi bersama Forum Bogor Kota Gastronomi di Thamrin Nine, Rabu (11/3/2026).
“Tentu positioning atau upaya Kota Bogor menjadi Kota Gastronomi di bawah UCCN itu patut diperjuangkan. Tinggal rapor yang disyaratkan oleh UNESCO harus disesuaikan standar-standar atau dipenuhi kriteria penetapannya. Kalaupun Pemda sudah pernah mengajukan subsektor unggulan sebelumnya, maka bisa saja dilakukan re-assessment atau repositioning potensi pergeseran fokus dari seni pertunjukan ke kuliner,” ungkap Teuku Riefky.
Sebelumnya, pada 26 November 2025, Bogor menetapkan seni pertunjukan sebagai subsektor unggulan melalui Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) yang ditandatangani oleh wali kota, pegiat ekraf, akademisi, komunitas, dan media.
“Coba dimusyawarahkan lagi kepada Pemerintah Daerah Bogor mau menggeser ke subsektor gastronomi atau tetap seni pertunjukan. Apapun hasilnya, Kementerian Ekraf siap mendukung proses pendampingan agar potensi subsektor kuliner di Bogor bisa mendapat penguatan ekosistem dan kolaborasi yang tepat. Selain itu, peluang untuk maju ke jejaring kota kreatif dunia akan semakin terbuka,” ujar Teuku Riefky.
Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Rian Syaf, menjelaskan bahwa pengajuan ke UCCN harus melalui tahapan panjang, dimulai dari penguatan status kota kreatif melalui PMK3I hingga pemenuhan standar yang ditetapkan oleh UNESCO.
“Jadi, setiap kota atau kabupaten harus melalui proses yang lumayan panjang dari mulai koordinasi, pendampingan, sampai dengan seleksi. Teman-teman bisa berkoordinasi dengan Direktorat Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekraf sehingga bisa diikhtiarkan menuju UCCN. Sebab kalau perbandingan dari pengajuan yang sudah ada, kuliner belum menjadi faktor penunjang utama, baru menjadi pendukung hidupnya ekosistem seni pertunjukan yang diajukan sebelumnya,” imbuh Rian Syaf.
Sementara itu, Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi, Haidhar Wurjanto, menyampaikan bahwa Bogor memiliki ekosistem gastronomi lengkap mulai dari bahan baku, tradisi kuliner, hingga dukungan akademik dan komunitas kreatif. Menurutnya, identitas gastronomi dapat memperkuat pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus mengenalkan kuliner Sunda ke tingkat global.
Forum yang dibentuk pada 4 Februari 2026 tersebut juga mempresentasikan kekuatan gastronomi Bogor yang mencakup sejarah, budaya, dan sistem pengetahuan pangan masyarakat Sunda dengan jejak dokumentasi hingga abad ke-15.
“Kami perlu mendapat arahan dari Kementerian Ekraf untuk memperbaiki secara administrasi dan koordinasi teknis yang kita akan lakukan ke depannya. Harapan kami bimbingan seperti apa mengerjakan proses teknis sehingga bisa belajar dengan kota-kota lain menuju UCCN. Kami tetap melihat optimis serta positif untuk bersaing dengan sehat sehingga pertumbuhan serta kualitas kuliner semakin meningkat setiap tahun sehingga bisa meningkatkan jumlah wisatawan di Bogor,” imbuh Haidhar Wurjanto.