Empat Bulan Pascabencana Banjir Sumatra, Kebutuhan Gizi Spesifik Anak Masih Terabaikan
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Empat bulan telah berlalu sejak banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, namun pemenuhan gizi bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan balita hingga kini dinilai belum menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan.
Fakta ini ditemukan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) saat menyalurkan bantuan ke Desa Serba dan Desa Pematang Durian di Aceh Tamiang pada awal Februari lalu. Di lapangan, bantuan yang mengalir terpantau masih didominasi oleh produk praktis seperti mie instan dan kental manis yang sebenarnya tidak cocok untuk dikonsumsi oleh balita.
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira, menjelaskan bahwa bantuan yang ada saat ini mayoritas masih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa. Ia menekankan bahwa kebutuhan pangan balita sangat berbeda dan memerlukan spesifikasi nutrisi yang lebih ketat.
“Bantuan yang ada saat ini kebanyakan ditujukan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak,” ujar Satria di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Temuan ini menjadi catatan krusial bagi pemerintah maupun relawan agar mulai beralih pada pemenuhan kebutuhan yang lebih spesifik pada fase pemulihan. Satria menambahkan bahwa ia menaruh harapan besar agar ke depannya semua pemangku kepentingan lebih memperhatikan nasib anak-anak.
“Harapannya ke depan bantuan dari siapapun baik dari pemerintah atau masyarakat mulai memperhatikan anak,” ucapnya.
Selain masalah pangan, kondisi psikologis anak-anak pascabencana juga menjadi sorotan serius. YAICI berupaya melakukan kegiatan trauma healing melalui berbagai permainan edukatif guna mengurangi rasa takut dan kecemasan yang menghantui para korban kecil tersebut.
Satria menegaskan bahwa pemulihan mental sama pentingnya dengan pemulihan fisik. “Kami juga buat kegiatan untuk trauma healing pada anak-anak, karena ini penting. Psikologis mereka juga perlu diperhatikan,” tutur Satria.
Persoalan distribusi pangan instan ini turut mendapat peringatan keras dari sisi medis. Penyuluh Kesehatan Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad, menjelaskan bahwa pola bantuan yang didominasi makanan instan dan kental manis berpotensi memicu masalah kesehatan serius jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Kental manis khususnya, disebut dapat memberikan efek kenyang palsu yang membuat anak enggan menyantap makanan bergizi lainnya.
“Jangka pendeknya bisa ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya bakal mengutamakan kental manis, ketimbang makan,” tegas Ersyad.
Kondisi di Aceh Tamiang semakin mengkhawatirkan karena minimnya ketersediaan alat medis dan obat-obatan. Ersyad melaporkan bahwa pascabanjir, berbagai penyakit seperti diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mulai merebak akibat debu dari lumpur banjir yang telah mengering.
Sayangnya, pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan maksimal karena banyak fasilitas yang mengalami kerusakan parah. “Kita butuh obat dan alat-alat medis. Soalnya alat medis kita sudah rusak semua. Akhirnya kita tidak maksimal memberikan pelayanan,” tutup Ersyad.