Dari Puncak Monas ke Balik Jeruji: Kisah Tragis Teuku Markam
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Siapa tak kenal Monumen Nasional (Monas)? Ikon Jakarta yang menjulang tinggi dengan lidah api berlapis emas di puncaknya. Saat awal pembangunannya, mahkota api itu dilapisi sekitar 38 kilogram emas murni. Namun tak banyak yang tahu, 28 kilogram di antaranya berasal dari sumbangan satu orang: Teuku Markam.
Lahir dari Aceh, Tumbuh dalam Keterbatasan
Teuku Markam (12 Maret 1924 – Desember 1985) lahir di Alue Campli, Seunuddon, Aceh Utara. Ia berasal dari keturunan uleebalang, putra Teuku Marhaban. Sejak kecil hidupnya tidak mudah. Ia menjadi yatim piatu di usia dini dan hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 4 Sekolah Rakyat.
Meski demikian, semangatnya tak surut. Saat muda, ia mengikuti pendidikan militer di Koetaradja (kini Banda Aceh) dan lulus dengan pangkat letnan satu. Ia bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut dalam berbagai pertempuran di Sumatera Utara.
Karier militernya membawanya menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto di Bandung. Dari sinilah jalan hidupnya berubah. Ia kemudian diperkenalkan kepada Presiden Soekarno, yang mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha pribumi kuat untuk menopang ekonomi nasional.
Bangkit Menjadi Pengusaha Besar
Pada 1957, dengan pangkat kapten, Markam mendirikan PT Karkam. Perusahaan ini berkembang pesat dan dipercaya pemerintah mengelola berbagai aset rampasan perang untuk mendukung dana revolusi.
Bisnisnya merambah ekspor-impor, perkapalan, baja, kendaraan, hingga pengadaan senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Presiden. Ia memiliki kapal dan dok di berbagai kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, dan Surabaya.
Di masa Orde Lama, Markam dikenal sebagai salah satu pengusaha pribumi paling sukses. Ia turut membantu pembiayaan proyek-proyek nasional, termasuk dukungan terhadap pelaksanaan Konferensi Asia Afrika dan pembebasan Irian Barat.
Emas untuk Monas
Ketika Presiden Soekarno menggagas pembangunan Monumen Nasional sebagai simbol kebanggaan bangsa, Markam tanpa ragu menyumbangkan 28 kilogram emas murni untuk melapisi puncaknya.
Di masa itu, nilai emas sebesar itu sungguh luar biasa. Sumbangan tersebut menjadi simbol kecintaan dan nasionalismenya terhadap Indonesia. Selain itu, ia juga terlibat dalam pembebasan lahan kawasan Senayan untuk pembangunan pusat olahraga nasional. Nama Markam pun melambung sebagai pengusaha nasionalis yang dekat dengan kekuasaan.
Kejatuhan di Era Orde Baru
Namun roda sejarah berputar cepat. Setelah peristiwa 1965 dan runtuhnya kekuasaan Soekarno, rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengambil alih pemerintahan.
Kedekatan Markam dengan Soekarno menjadi beban politik. Pada 1966, ia ditangkap tanpa proses pengadilan yang jelas, dengan tuduhan terlibat PKI dan korupsi — tuduhan yang kala itu kerap digunakan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh yang dianggap pro-Soekarno.
Ia dipenjara selama delapan tahun dan berpindah-pindah tahanan: Budi Utomo, Guntur, Salemba, Cipinang, hingga Nirbaya di Pondok Gede. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama hampir dua tahun.
Harta Dirampas, Nama Dihapus
Seluruh asetnya disita negara. Perusahaannya diambil alih dan menjadi cikal bakal BUMN PT Berdikari. Melalui Keppres No. 31 Tahun 1974, status harta eks PT Karkam ditegaskan sebagai modal negara.
Saat bebas pada 1974, Markam bukan lagi pengusaha besar. Namanya tercoreng. Ia kehilangan hampir seluruh hartanya dan harus memulai dari nol. Ia mendirikan PT Marjaya dan kembali mengerjakan proyek-proyek infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat, termasuk yang didanai Bank Dunia. Namun ia tak pernah lagi mendapat panggung besar seperti dahulu.
Akhir yang Sunyi
Teuku Markam wafat pada 1985 di Jakarta akibat komplikasi penyakit. Ia meninggal dalam keadaan jauh dari gemerlap kejayaan masa lalunya.
Ironisnya, jutaan orang berfoto di bawah bayang-bayang Monas setiap tahun, tanpa mengetahui bahwa kilau emas di puncaknya berasal dari pengorbanan seorang pengusaha Aceh yang kemudian tersisih oleh perubahan politik.
Warisan yang Terlupakan
Kisah Teuku Markam adalah potret betapa kerasnya pusaran politik terhadap individu. Ia pernah menjadi simbol kebangkitan ekonomi pribumi, penyumbang emas untuk monumen kebanggaan nasional, sekaligus korban perubahan rezim.
Emas di puncak Monas tetap berkilau, namun nama penyumbangnya perlahan meredup dalam ingatan kolektif bangsa. Sejarah kadang mencatat pembangunan fisik dengan jelas, tetapi melupakan manusia yang berdiri di baliknya. (Disadur dari berbagai sumber)