Impor Semikonduktor RI Tembus USD 4,8 Miliar, Menperin Agus Tancap Gas Bangun Desain Chip Nasional
INDUSTRY.co.id - Bandung – Pemerintah semakin seirus membangun kemandirian industri semikonduktor nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat fondasi pengembangan industri semikonduktor sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia di tengah ketatnya persaingan global.
Penguatan tersebut difokuskan pada pembangunan ekosistem semikonduktor yang terintegrasi, dengan prioritas awal pada pengembangan desain chip dan sumber daya manusia (SDM). Langkah ini dinilai krusial mengingat semikonduktor merupakan komponen strategis yang menopang berbagai sektor industri, mulai dari elektronik, otomotif, telekomunikasi, energi, hingga transformasi digital.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pengembangan industri semikonduktor nasional tidak bisa dilakukan secara instan.
“Pengembangan industri semikonduktor nasional harus ditempuh melalui pendekatan bertahap dan realistis, dengan menempatkan pengembangan talenta dan desain chip sebagai langkah utama pada tahap awal,” ujar Agus dalam sambutannya pada Indonesia Semiconductor Summit (ISS) 2026 di Bandung (29/1).
Tingginya kebutuhan semikonduktor nasional tercermin dari aktivitas industri hilir yang terus meningkat. Pada sektor elektronik, produksi ponsel nasional mencapai sekitar 30–60 juta unit per tahun, sementara kebutuhan laptop ditargetkan menyentuh 1,57 juta unit pada 2026.
Sementara itu, di sektor otomotif, produksi kendaraan bermotor Indonesia pada 2025 tercatat sebanyak 803.867 unit, termasuk kendaraan listrik dan hybrid. Kendaraan jenis ini bahkan membutuhkan kandungan semikonduktor hingga tiga kali lebih besar dibandingkan kendaraan konvensional.
Di balik peluang besar tersebut, Kemenperin menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor semikonduktor melonjak hampir dua kali lipat, dari USD 2,33 miliar pada 2020 menjadi USD 4,87 miliar pada periode Januari–November 2025.
Menurut Menperin Agus, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi ketahanan industri nasional. “Tingginya ketergantungan impor semikonduktor harus direspons melalui penguatan ekosistem dalam negeri, khususnya pada aspek desain chip dan pengembangan kekayaan intelektual sebagai fondasi awal kemandirian teknologi,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, Kemenperin telah menyusun roadmap pengembangan industri semikonduktor nasional dengan visi menjadikan Indonesia berperan aktif dalam rantai pasok global.
Roadmap tersebut mencakup penguatan empat pilar utama, yakni material, desain, fabrikasi (front end), serta assembly, testing, and packaging (back end). Seluruh pilar tersebut didukung oleh pengembangan SDM, riset dan inovasi, infrastruktur, serta kebijakan industri yang kondusif.
“Kami tidak hanya mengejar investasi, tetapi juga ingin menciptakan nilai tambah nasional dan memperkuat kemandirian teknologi Indonesia,” ujar Agus.
Untuk mendukung implementasi roadmap tersebut, Kemenperin menginisiasi pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC). Lembaga nonprofit ini diprakarsai bersama PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) dan para pakar desain chip dari 13 universitas, dengan dukungan 16 perguruan tinggi mitra.
ICDEC diharapkan menjadi simpul kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam memperkuat kapasitas desain semikonduktor nasional.
ISS 2026 sendiri menjadi momentum strategis untuk memperluas kolaborasi global, alih teknologi, serta peningkatan kapasitas industri semikonduktor nasional. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan demi memperkuat daya saing industri manufaktur Indonesia dan meningkatkan peran nasional dalam rantai pasok global.