Data Burson: Skala “Ekonomi Reputasi” Global Tembus US$7 Triliun, Jadi Aset Baru Perusahaan di Era AI

Oleh : Nina Karlita | Kamis, 15 Januari 2026 - 23:03 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – Reputasi perusahaan kini bukan lagi sekadar citra, melainkan telah bertransformasi menjadi aset bernilai ekonomi tinggi. 

Studi terbaru dari Burson mengungkap bahwa skala “Ekonomi Reputasi” global mencapai US$7,07 triliun, dengan perusahaan berreputasi kuat mampu menciptakan tambahan keuntungan bagi pemegang saham hingga 4,78% per tahun.

Temuan ini tertuang dalam riset bertajuk The Global Reputation Economy: A New Asset Class for a New Era, yang untuk pertama kalinya berhasil mengukur reputasi sebagai aset finansial konkret. 

Analisis tersebut menunjukkan bahwa di antara perusahaan yang diteliti, nilai “laba reputasi” dapat berkisar dari US$2 juta hingga US$202 miliar, melampaui proyeksi kinerja berbasis indikator keuangan konvensional.

“Selama puluhan tahun, para pemimpin bisnis memahami pentingnya reputasi secara intuitif, tetapi tidak pernah bisa mengukurnya sebagai aset keuangan. Kini, itu bisa dilakukan,” ujar **Corey duBrowa, Global CEO Burson. 

Menurutnya, reputasi merupakan sistem yang saling terhubung dan, bila dikelola dengan tepat, mampu menciptakan miliaran dolar keuntungan terukur sekaligus membangun ketahanan perusahaan di tengah gejolak.

Studi Burson juga menyoroti bahwa tempat kerja dan integrasi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi medan persaingan reputasi terbaru. 

Meski faktor tempat kerja hanya menyumbang 11% dari total delapan penentu reputasi, kualitas lingkungan kerja justru menentukan kesenjangan reputasi hingga 11,8% antara perusahaan berkinerja terbaik dan terburuk.

Kesenjangan ini berpotensi menjadi krisis reputasi jika perusahaan gagal mengelola transisi AI secara manusiawi.

“Perusahaan harus melampaui sekadar ‘strategi AI’ dan membangun strategi SDM berbasis AI,” tegas Matt Reid, Global Corporate & Public Affairs Lead Burson sekaligus U.S. CEO Burson Buchanan. Ia menambahkan, organisasi yang berinvestasi pada reskilling karyawan akan memperoleh keuntungan reputasi.
 
Sebaliknya, perusahaan yang menjadikan AI hanya sebagai alat pemangkasan tenaga kerja akan menghadapi apa yang disebut sebagai ‘pajak reputasi’—keuntungan efisiensi yang tergerus oleh turunnya nilai kepercayaan publik.

Dalam riset tersebut, perusahaan dengan reputasi terbaik terbukti mendominasi seluruh delapan faktor penentu reputasi, mulai dari inovasi, kualitas produk, tata kelola, hingga kepemimpinan. Rata-rata skor mereka unggul 11–15 poin dibanding perusahaan lain. 

Keunggulan terbesar terlihat pada faktor Inovasi (15,5 poin), Produk (15,2 poin), dan Tata Kelola (14,4 poin). Temuan ini mempertegas bahwa reputasi bukan sekadar hasil komunikasi, melainkan refleksi nyata dari kualitas operasional dan strategi jangka panjang perusahaan.

Burson juga mengidentifikasi pola pemulihan reputasi unik di sektor-sektor berisiko tinggi seperti aerospace dan energi. Di industri ini, reputasi justru pulih bukan lewat promosi keunggulan produk, melainkan dari penguatan tata kelola dan budaya kerja.

Sebaliknya, sektor keuangan menghadapi tantangan serius. Penurunan reputasi yang konsisten pada aspek kepemimpinan (-24%), tata kelola (-11%), dan peran sosial (-15%) menempatkan nilai reputasi senilai US$4,3 miliar dalam risiko—atau sekitar 38% dari total nilai reputasi sektor tersebut.

“Model lama dalam mengukur reputasi sudah tidak relevan. Reputasi bersifat organik dan terus berkembang,” tambah duBrowa. Dengan pemetaan yang presisi, perusahaan kini dapat memprediksi sekaligus memengaruhi faktor-faktor yang membentuk persepsi publik dan berdampak langsung pada kinerja finansial.

Di kawasan Asia-Pasifik, Burson menilai reputasi kini menjadi faktor penentu daya saing global. HS Chung, CEO Asia-Pasifik Burson, menegaskan bahwa perusahaan Asia harus mengelola reputasi secara lebih terstruktur agar mampu bersaing di panggung internasional.

“Reputasi bukan lagi konsep abstrak, melainkan aset terukur dengan dampak langsung terhadap nilai perusahaan,” ujar Chung. 

Melalui platform Reputation Capital Burson, klien kini dapat memantau kondisi reputasi mereka secara real time dan memahami bagaimana peristiwa eksternal memengaruhi persepsi publik, sehingga keputusan bisnis dapat diambil lebih cepat dan tepat.