Pasar Haji - Umrah Menggiurkan, Kemenperin Ajak IKM Lokal Rebut Peluang Triliunan Rupiah
INDUSTRY co.id - Jakarta  – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meyakini industri kecil dan menengah (IKM) nasional memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kemenperin memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Haji, perusahaan travel, serta bank penerima setoran haji dan umrah.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, Indonesia merupakan kontributor terbesar jemaah haji di dunia dan memiliki tingkat keberangkatan umrah yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Indonesia merupakan kontributor terbesar ibadah haji di dunia, sekitar 10 persen, serta penyumbang jemaah umrah yang sangat tinggi dengan antusiasme yang terus meningkat,” ujar Reni saat membuka Business Matching Sektor IKM Pangan dan Barang Gunaan dengan HIPPINDO dan Ekosistem Haji dan Umrah di Jakarta, Rabu (17/12).
Reni menjelaskan, Kemenperin membuka akses pasar bagi IKM untuk masuk ke ekosistem haji dan umrah, mulai dari makanan dan minuman halal, obat-obatan dan kosmetik, perlengkapan ibadah, busana muslim dan modest fashion, koper dan tas perjalanan, hingga perlengkapan hotel.
Menurutnya, penguatan kemitraan antara IKM dengan ritel, restoran, kafe, travel haji dan umrah, serta bank penerima setoran merupakan amanat regulasi nasional yang menekankan kemitraan sebagai upaya membangun ekosistem industri yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Pada kegiatan temu bisnis tahun ini, Kemenperin melibatkan lebih dari 45 pelaku IKM, yang terdiri dari IKM pangan, batik, kain ihram, mukena, alas kaki, hingga kosmetik dan kimia, untuk dipertemukan langsung dengan pelaku ekosistem haji dan umrah.
Reni memaparkan, berdasarkan data Dukcapil Kementerian Dalam Negeri tahun 2024, populasi muslim Indonesia mencapai 244,4 juta jiwa, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi ekonomi syariah terbesar di dunia, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia tercatat memberangkatkan lebih dari 2 0 ribu jemaah haji setiap tahun. Bahkan, pada 2024 menjadi puncak kuota terbesar dalam sejarah dengan total 241 ribu jemaah.
“Jumlah tersebut berkontribusi sebesar 11,5 persen dari total 1,8 juta jemaah haji dunia, menjadikan Indonesia sebagai penyumbang terbesar secara global,” kata Reni.
Selain haji, jumlah jemaah umrah juga terus meningkat. Data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus mencatat, jumlah jemaah umrah naik dari 1 juta orang pada 2022, menjadi 1 3 juta pada 2023, dan 1,4 juta jemaah pada 2024.
Besarnya arus pergerakan jemaah tersebut membentuk ekosistem haji dan umrah yang membuka peluang luas bagi industri nasional untuk menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan jemaah, terutama pangan halal, produk kesehatan, kosmetik dan personal care, perlengkapan ibadah, serta modest fashion.
Reni optimistis, industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan tersebut seiring kinerja industri pengolahan nonmigas (IPNM) yang tumbuh 5 58 persen, dengan kontribusi terbesar berasal dari industri pangan sebesar 37,87 persen nilai tambah IPNM. Selain itu, subsektor tekstil dan pakaian jadi (TPT) serta alas kaki juga berkontribusi signifikan terhadap PDB IPNM.
Data BPS menunjukkan, pada 2024 terdapat 8 6 ribu industri kecil TPT dan alas kaki yang menyerap 1 8 juta tenaga kerja, sementara industri menengah TPT mencapai 2.900 unit usaha.
Di sisi lain, pasar farmasi dan kosmetik nasional juga menunjukkan potensi besar. Data BPOM dan PERKOSMI mencatat, jumlah pelaku usaha kosmetik nasional pada 2025 mencapai 1 292 pelaku usaha, dengan 8 persen merupakan IKM, serta lebih dari 343 ribu produk kosmetik terdaftar.
"Ini membuktikan industri dalam negeri memiliki kapasitas dan kemampuan untuk dibina masuk ke dalam ekosistem haji dan umrah, guna mendukung kenyamanan dan kelancaran ibadah jemaah," tutup Reni.