DPP ALFI: Penguatan Ketahanan Energi Beri Efek Berantai bagi Sektor Logistik dan Rantai Pasok
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Para pelaku usaha logistik dan rantai pasok nasional menyampaikan apresiasi atas langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi sepanjang tahun 2025. Berbagai kebijakan seperti hilirisasi energi, percepatan transisi energi baru terbarukan (EBT), program B40, hingga peningkatan lifting minyak dinilai tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi serta memberikan efek berantai bagi sektor logistik dan rantai pasok.
Ketua Dewan Pembina DPP ALFI sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, menegaskan bahwa kebijakan-kebijakan tersebut memiliki efek berganda terhadap daya saing ekonomi dan penguatan ekosistem logistik nasional. “Kami mengapresiasi pemerintah yang berkomitmen meningkatkan ketahanan energi nasional melalui berbagai kebijakan strategis. Ketika sektor energi kuat dan berfokus pada domestic supply chain, maka permintaan pada sektor logistik rantai pasok turut mengalami kenaikan,” ujarnya.
Yukki menjelaskan bahwa meningkatnya kebutuhan transportasi logistik terjadi seiring dengan distribusi bahan bakar migas maupun biofuel, pengiriman peralatan pendukung proyek transisi energi, hingga penyaluran energi ke wilayah terpencil. Lonjakan permintaan ini tidak hanya memperluas pemerataan aktivitas logistik, tetapi juga dipandang sebagai peluang untuk menekan biaya logistik nasional melalui peningkatan volume secara berkelanjutan.
Ia mencontohkan capaian lifting minyak yang terus menunjukkan tren positif dan berada pada jalur menuju target 1 juta barel per hari. “Sebagai contoh, realisasi lifting minyak terus menunjukan peningkatan yang on track dengan target menuju 1 juta barel per hari, dimana hingga November ini SKK Migas mencatat produksi minyak yang telah mencapai 606.020 barel per hari, melebih target APBN 2025. Juga sama halnya dengan target B50 yang akan mengalihkan ekspor CPO ke pasar domestik yang nantinya akan mendorong permintaan logistik untuk distribusi bahan baku. Kami memaknai angka pertumbuhan ini dengan optimis untuk melihat peluang bisnis pada sektor logistik rantai pasok yang menopang sektor energi,” jelasnya.
Kondisi tersebut turut sejalan dengan peningkatan realisasi investasi, di mana riset INDEF pada Oktober lalu menunjukkan tren positif di sektor hulu migas. Pada kuartal III 2025, pertumbuhan investasi tercatat naik 12% (yoy), meningkat dari USD 9,30 miliar pada Q3 2024 menjadi USD 10,37 miliar.
Para pelaku usaha pun berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat agar dunia usaha dapat berperan aktif dalam mendukung kebijakan ketahanan energi nasional. “Kami berharap penguatan kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, BUMN, swasta, dan pemangku kepentingan lainnya terus terjadi dari hulu ke hilir, agar sektor logistik juga dapat tetap menjadi penopang dalam kebijakan ketahanan energi,” tutup Yukki.