Sagu Bisa Selamatkan Indonesia dari Krisis Pangan Global, Ini Bukti Nyatanya!
INDUSTRY.co.id -
Jakarta – Pelaku usaha sekaligus penggiat pangan lokal, pendiri Sagolicious, Jenny Widjaja menegaskan komitmennya dalam mengembangkan sagu sebagai sumber pangan nasional yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi tinggi.
Melalui berbagai inovasi produk turunan seperti mie sagu, keripik, dan minuman instan, ia bertekad menjadikan sagu sebagai bagian penting dari gaya hidup modern masyarakat Indonesia.
“Sagu ini bukan hanya makanan, tapi juga budaya dan ketahanan pangan kita. Indonesia punya 5,5 juta hektare hutan sagu dari total 6,5 juta hektare dunia, tapi baru 5 persen yang dimanfaatkan,” ujarnya dalam sebuah kesempatan di Jakarta, Rabu (29/10).
Menurutnya, sagu memiliki keunggulan alami yang tidak dimiliki tanaman pangan lain. Tanaman ini tumbuh subur di lahan basah tanpa perlu irigasi atau pestisida, serta mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar. Bahkan, sagu tetap dapat bertahan hidup pasca kebakaran hutan.
“Di mana ada sagu, di situ ada air dan kehidupan,” tambahnya.
Perempuan yang pernah tinggal di Papua, Ambon, dan Seram ini mengaku terinspirasi oleh masyarakat di Indonesia Timur yang menjadikan sagu sebagai sumber hidup utama.
“Masyarakat di sana tidak sekadar makan sagu, tapi menjadikannya bagian dari budaya dan mata pencarian. Saya ingin masyarakat Indonesia kembali mencintai pangan asli kita,” katanya.
Melalui Sagolicious, ia telah mengembangkan beragam produk modern berbahan dasar sagu, mulai dari mie instan gluten-free, hingga Sagu Chips dengan cita rasa khas Nusantara seperti balado, barbeque, dan rasa laut.
“Produk-produk ini sudah diminati oleh banyak pasar modern dan mulai diekspor secara terbatas ke Timur Tengah, Australia, hingga Tiongkok,” ujarnya.
Meski potensi besar, ia mengaku masih menghadapi keterbatasan bahan baku dan pendanaan untuk ekspansi produksi.
“Satu pohon sagu bisa menghasilkan hingga 500 kilogram tepung sagu kering, tapi pemanfaatannya masih minim. Kami butuh dukungan kebijakan agar hutan sagu tetap lestari dan tidak dibabat,” katanya.
Saat ini, kapasitas produksi pabrik Sagolicious yang berlokasi di Jakarta Utara mencapai beberapa ton per hari, dengan bahan baku utama berasal dari Papua, Ambon, dan Maluku. Ia juga berencana memperluas pabrik ke wilayah Sukabumi, Jawa Barat bekerja sama dengan pelaku UMKM.
“Kami harap pemerintah memberi kemudahan bagi UMKM penggiat sagu agar bisa berkembang dan bersaing secara global,” ujarnya.
Pionir Sagu dan Rekor MURI
Sebagai bentuk konsistensi, Sagulicious telah meraih tiga penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), di antaranya sebagai pelopor produk pangan berbahan sagu dengan varian terbanyak serta rekor pembuatan 4.000 mie sagu dalam satu kegiatan fun run di Artagading, Jakarta.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi masyarakat untuk kembali pada pangan lokal yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
“Indonesia tidak akan krisis pangan kalau rakyatnya mau makan sagu. Ini pangan masa depan yang berkelanjutan dan bergizi tinggi,” pungkasnya.