Kerja Nyata Kementan Buahkan Hasil Manis, Swasembada Beras di Depan Mata

Oleh : Ridwan | Jumat, 17 Oktober 2025 - 14:47 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY co.idBogor nbsp;— Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan pangan global, sektor pertanian Indonesia menunjukkan performa gemilang. Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berhasil menjaga bahkan meningkatkan produksi beras nasional. Capaian ini menempatkan Indonesia di ambang swasembada beras, dengan produksi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai 3 ,19 juta ton, meningkat 1 ,62 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi Indonesia mencapai 3 ,6 juta ton, dan FAO  menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan produksi beras tertinggi kedua di dunia dengan proyeksi 35,6 juta ton.

Capaian ini dipaparkan dalam Forum Tematik Bakohumas Kementerian Pertanian 2025, yang digelar di Kebun Percobaan Muara, Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/10/2025). Kegiatan yang dikemas melalui talkshow bertajuk “Bicara Padi, Bicara Swasembada Beras” tersebut juga menampilkan demonstrasi alat mesin pertanian (alsintan) dan panen padi langsung di lapangan, sebuah simbol transformasi pertanian modern di Indonesia.

“Alhamdulillah, swasembada sudah di depan mata. Insya Allah, Desember nanti kita akan deklarasikan swasembada beras. Produksi beras nasional kini mencapai titik tertinggi dalam tujuh tahun terakhir,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono.

Arief menyebut, keberhasilan ini tidak lepas dari kepemimpinan Menteri Andi Amran Sulaiman yang dikenal cepat mengambil langkah dan berani melakukan terobosan.

“Pak Mentan sangat menguasai soal pertanian. Ini hasil kerja keras kita semua — petani, kementerian dan lembaga, BUMN pangan, TNI, Polri, semuanya terlibat. Ini kerja besar bangsa,” kata Arief.

Sejak awal 2025, Kementan menggulirkan berbagai strategi intensifikasi dan modernisasi pertanian, di antaranya, optimalisasi lahan dan cetak sawah barupompanisasi  dan perbaikan irigasimodernisasi alat mesin pertanian,kebijakan harga gabah (HPP) yang menguntungkan petani, serta penyaluran pupuk bersubsidi secara tepat sasaran.

Menurut Arief, program intensifikasi berhasil meningkatkan frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali per tahun. “Inilah kunci lonjakan produksi luar biasa. Dengan alsintan, petani bekerja lebih efisien dan produktivitas meningkat signifikan,” ujarnya.

Peningkatan produksi juga memperkuat stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang kini mencapai 4 2 juta ton.Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 124,36, menandakan peningkatan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

Arief menyebut, kebijakan revolusioner Presiden Prabowo Subianto yang menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram (GKP) turut memberi dampak langsung terhadap pendapatan petani.

“Sekarang petani lebih sejahtera. Mereka bahagia karena HPP dinaikkan dan produksi meningkat. Ini kebijakan revolusioner yang berpihak pada rakyat,” ujar Arief.

Capaian ini juga menjadi perhatian dunia internasional. FAO dan USDA menempatkan Indonesia sebagai contoh sukses transformasi sektor pertanian di tengah krisis pangan global. “Dunia mengakui produksi beras Indonesia. Sekarang kita sudah tidak impor, ini pencapaian luar biasa di era Presiden Prabowo,” tambah Arief.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Digital, Molly Prabawaty, menilai capaian tersebut sebagai wujud nyata kemandirian bangsa.

“Sebagaimana pernah disampaikan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Swasembada beras ini adalah bukti bahwa Indonesia bisa mandiri,” ujarnya.

Molly menekankan pentingnya peran komunikasi publik dalam menyebarluaskan capaian pertanian nasional agar semangat optimisme dan kemandirian bangsa dapat menggema hingga ke pelosok negeri.

“Kita harus memastikan masyarakat tahu dan bangga bahwa bangsa ini mampu berdiri di atas hasil kerja petani sendiri,” katanya.

Dengan capaian produksi yang terus meningkat dan stok beras yang aman, Kementerian Pertanian optimistis akan mendeklarasikan swasembada beras nasional pada Desember 2025.

Transformasi yang digerakkan di bawah kepemimpinan Amran Sulaiman bukan hanya menjawab tantangan pangan global, tetapi juga menandai babak baru kedaulatan pangan Indonesia.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →