Industri Baja Nasional Kian Perkasa: Ekspor CRC PT KBI ke Spanyol Tembus Rp571 Miliar

Oleh : Candra Mata | Jumat, 26 September 2025 - 07:35 WIB · 5 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri logam dasar terus menunjukkan kinerja gemilang sebagai penopang utama pertumbuhan sektor industri nasional. Pada triwulan II tahun 2025, kontribusi industri logam dasar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai 6,7 persen, dengan pertumbuhan mengesankan sebesar 14,7 persen secara tahunan (year-on-year).

“Capaian ini merupakan hasil ekspansi produksi yang semakin luas, didorong oleh permintaan global yang terus meningkat, khususnya dari sektor besi dan baja, serta keberhasilan program hilirisasi nasional yang konsisten menambah nilai produk dalam negeri,” ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Setia Diarta, mewakili Menteri Perindustrian dalam acara pelepasan ekspor produk Cold Rolled Coil (CRC) PT Krakatau Baja Industri (KBI) ke Spanyol di Cilegon, Banten, Kamis (25/9).

Setia menjelaskan bahwa industri baja nasional kini memiliki peranan vital dalam mendukung berbagai sektor strategis seperti infrastruktur, industri permesinan, otomotif, galangan kapal, dan energi. Berdasarkan data World Steel Association, Indonesia menempati posisi ke-14 dalam produksi crude steel dunia pada tahun 2024 dengan capaian 17 juta ton—naik signifikan 98,5 persen dibandingkan produksi 8,5 juta ton pada tahun 2019.

“Saat ini, kapasitas terpasang crude steel nasional mencapai 21 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi 27 juta ton pada 2029. Ini menunjukkan optimisme dan langkah ekspansif Indonesia dalam memperkuat daya saing di tingkat global,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, PT KBI memberikan kontribusi nyata terhadap performa positif industri logam dasar nasional. Sepanjang tahun 2025, PT KBI telah mengekspor 62 ribu ton produk CRC ke berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Polandia, dan Spanyol. Ekspor ke Spanyol kali ini melibatkan pengapalan lebih dari 54 ribu ton produk senilai Rp571 miliar.

“Momentum ekspor ini menjadi bukti nyata ketangguhan industri manufaktur Indonesia, khususnya industri baja, dalam menembus pasar internasional. Selain itu, menjadi bukti bahwa produk baja Indonesia memiliki peluang besar dan mampu bersaing di kancah global,” tegas Setia.

Lebih lanjut, Setia menyampaikan apresiasi atas kualitas produk PT KBI. “Pelepasan ekspor ini mencerminkan kemampuan industri baja nasional menghasilkan produk berkualitas tinggi yang mampu memenuhi standar internasional. Kami memberikan apresiasi kepada PT Krakatau Baja Industri atas konsistensinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui aktivitas ekspor yang berkelanjutan,” katanya.

Keberhasilan ini juga didukung sinergi kuat antara PT KBI sebagai industri penggilingan baja dengan PT Krakatau Steel sebagai penyedia bahan baku. “Kolaborasi ini mencerminkan kekuatan ekosistem industri baja dalam negeri dalam merespons permintaan global,” jelas Setia.

Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya inovasi dan keberlanjutan industri. “Industri besi dan baja memiliki peran krusial dalam memperkuat perekonomian nasional melalui penciptaan nilai tambah dan ekosistem hulu-hilir yang terintegrasi. Kami mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas produk, mengembangkan inovasi bernilai tambah tinggi, serta menerapkan proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Setia mengungkapkan rasa bangga terhadap kinerja PT KBI. “Keberhasilan ini kami harap dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri lain untuk terus meningkatkan daya saing dan memperluas pasar ekspor, sehingga industri Indonesia semakin diperhitungkan di kancah global,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT KBI, Arief Purnomo, menyatakan bahwa keberhasilan ekspor ini merupakan hasil dari komitmen perusahaan dalam menjaga mutu dan layanan. Menurutnya, pasar ekspor akan menjadi kekuatan utama PT KBI ke depan.

“Saat ini PT KBI sedang gencar bekerja sama dengan para mitra untuk mengakses pasar ekspor untuk produk CRC di berbagai belahan dunia. Kegiatan ekspor ini merupakan hasil kolaborasi Krakatau Baja Industri, Krakatau Posco sebagai penyedia bahan baku, dan Posco Internasional yang melakukan penguatan distribusi pasar internasional,” ungkap Arief.

Dengan ekspor ke Spanyol ini, PT KBI diharapkan dapat memperkokoh posisinya sebagai produsen baja global, sekaligus memperkuat Krakatau Steel Group dalam mewujudkan kemandirian industri baja nasional.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga momentum pertumbuhan industri baja nasional melalui berbagai kebijakan strategis.

Upaya tersebut antara lain mencakup penerapan trade remedies, pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, penyediaan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan produk dalam negeri pada proyek pemerintah, pemberian fasilitas fiskal, dan penerapan prinsip industri hijau.

“Kebijakan-kebijakan ini bertujuan memastikan adanya peningkatan kapasitas dan utilisasi produksi baja nasional secara berkesinambungan, serta memastikan produk baja dalam negeri mampu bersaing baik di pasar domestik maupun ekspor,” jelas Menperin.

Namun demikian, Menperin juga mengingatkan bahwa ekspansi industri baja menghadapi tantangan global seperti kebijakan proteksionisme (Trump Tariff), ketegangan geopolitik AS-Tiongkok, hingga konflik Rusia–Ukraina dan Iran–Israel.

“Kita menghadapi dinamika global mulai dari efek kebijakan proteksionisme seperti Trump Tariff, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok, hingga konflik terbuka seperti Rusia–Ukraina dan Iran–Israel. Semua ini berpotensi mengganggu perdagangan dan stabilitas rantai pasok, termasuk produk baja dunia,” paparnya.

Meski demikian, Agus tetap optimistis. "Industri baja nasional memiliki ruang untuk memperluas penetrasi pasar ekspor dengan memanfaatkan terbukanya peluang akibat pembatasan perdagangan di antara para pemain utama global,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Menperin kembali mengingatkan pentingnya inovasi dan keberlanjutan industri baja Indonesia. “Industri besi dan baja memiliki peran krusial dalam memperkuat perekonomian nasional melalui penciptaan nilai tambah dan ekosistem hulu-hilir yang terintegrasi. Kami mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas produk, mengembangkan inovasi bernilai tambah tinggi, serta menerapkan proses produksi yang efisien dan ramah lingkungan,” pungkasnya.