SD Darmono, Sosok Kunci Dibalik Bisnis Jababeka (KIJA)
INDUSTRY co.id - PT Jababeka Tbk (KIJA) menegaskan prospek bisnisnya masih menjanjikan di masa depan. Hal ini diungkapkan oleh Founder sekaligus Direktur Utama PT Jababeka Tbk, Setyono Djuandi Darmono, yang menekankan bahwa perjalanan panjang dan diversifikasi bisnis perusahaan menjadi fondasi kuat menghadapi tantangan global.
Nama Darmono sendiri merupakan sosok yang tak asing di dunia properti Indonesia. Pada tahun 2015, Darmono (Setyono Djuandi Darmono) menerima penghargaan Lifetime Achievement Award for National Industrial Estate Development sebagai Tokoh Kawasan Industri dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi besarnya dalam pembangunan kawasan industri nasional.
Perjalanan karir sang tokoh kawasan industri ini dimulai dari pendidikan di Akademi Tekstil Berdikari, Bandung. Selepas kuliah dirinya kemudian berkarier di Imperial Chemical Industry (ICI) di bidang zat warna tekstil.
Dari pengalaman di ICI, Darmono belajar bagaimana sebuah perusahaan kecil di Blackley, Manchester, bisa berkembang menjadi raksasa dunia dengan membangun industri yang mengubah desa menjadi kota modern.
“Pengalaman itu sangat memengaruhi cara pandang saya,” kenang Darmono kepada redaksi baru-baru ini.
Di tahun 1982 Darmono memasuki bisnis properti dan kemudian pada 1989 membentuk konsorsium 21 pemegang saham untuk mendirikan Jababeka sebagai kawasan industri terpadu pertama di Indonesia dengan slogan “World Class Industrial Estate, Fully Integrated, Environmentally Friendly”.
“Dari ICI saya belajar bagaimana industri bisa mengubah desa-desa menjadi kota-kota modern. Prinsip itulah yang saya terapkan ketika membangun Jababeka,” ujarnya.
Konsep kota modern yang menggabungkan industri, perumahan, pendidikan, dan kesehatan terinspirasi dari model pembangunan Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew.
Seluruh refleksi perjalanan ini dituangkan di kemudian hari dituangkan dalam trilogi bukunya: “Think Big, Start Small, Move Fast”, “Building A Ship While Sailing”, dan “Bringing Civilization Together”.
“Semua pengalaman saya, dari membangun Jababeka sampai memikirkan masa depan bangsa, saya tulis dalam trilogi buku sebagai warisan gagasan,” jelasnya.
Sejak muda, Darmono telah memiliki keyakinan bahwa investasi adalah jalan menciptakan nilai jangka panjang. Ia menegaskan tujuan berinvestasi bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga menciptakan lapangan kerja dan manfaat luas bagi masyarakat. Investasi pertama yang ia lakukan adalah di bidang tanah dan properti.
“Tanah tidak bisa diproduksi ulang, sementara kebutuhan manusia tidak pernah berhenti,” tuturnya.
Seiring waktu, portofolio bisnisnya berkembang ke infrastruktur, hospitality, pendidikan, pariwisata, hingga sektor riil. Diversifikasi ini dilakukan agar pembangunan tidak berhenti pada properti semata, melainkan saling menopang antar sektor.
“Industri, infrastruktur, dan hospitality (pariwisata) saya pandang sebagai tiga pilar pembangunan yang saling menopang,” katanya.
Dalam perjalanan investasinya, Darmono mengakui bahwa keuntungan besar memang diperoleh melalui pertumbuhan nilai aset dan jejaring global. Namun, ia juga tidak menampik pernah mengalami kerugian, khususnya saat krisis ekonomi 1997/1998 yang hikmahnya membuatnya kian berhati-hati dan disiplin dalam berbisnis.
“Krisis membuat saya sadar: investasi adalah lari maraton, bukan sprint,” ungkapnya.
Saat ini, portofolio KIJA tetap dominan di bidang properti dan kawasan industri serta infrastruktur, dengan komposisi sekitar 40% properti, 40% infrastruktur, dan 20% hospitality (pendidikan dan pariwisata).
“Saya percaya sektor riil memberi dampak nyata bagi ekonomi dan masyarakat,” ujarnya.
Menatap ke depan, Setyono menaruh perhatian pada bioteknologi, ekonomi digital, serta art and design sebagai pilar baru pengembangan Jababeka.
“Kalau Indonesia mau maju, kita harus berani melompat ke masa depan, bukan hanya mengejar ketertinggalan,” tegasnya.
Bagi investor pemula, Darmono berpesan untuk tidak terburu-buru mengejar keuntungan cepat. Ia menekankan pentingnya memahami instrumen investasi, menyisihkan dana cadangan, dan melakukan diversifikasi.
“Investasi itu bukan spekulasi, tapi penciptaan nilai berkelanjutan,” katanya.
Di luar bisnis, Darmono memiliki kegemaran membaca sejarah, menulis, berdiskusi, dan bermain golf.
Ia juga aktif membangun President University dan Tidar Heritage Foundation, dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbesar.
“Kalau bangunan bisa runtuh, maka manusia unggul akan melahirkan peradaban baru,” pungkas Darmono seraya menutup pembicaraan.