Soemitronomics Kunci RI Melalui Berbagai Krisis Ekonomi Global

Oleh : Kormen Barus | Kamis, 21 Agustus 2025 - 15:27 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Medan- Ketidakpastian  terutama yang bersumber dari faktor eksternal hampir mewarnai perekonomian nasional setiap tahun. Selagi Pemerintah mampu menjaga dan mengelola permintaan domestik, maka optimisme perekonomian akan tumbuh sangat terbuka.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa dalam acara LPS Financial Literacy di Medan, Rabu (20/8) mengatakan Indonesia terbukti mampu melalui berbagai krisis ekonomi global, ketika menggunakan jurus "kearifan lokal" atau lokal wisdom.

"Jurus local wisdom itu bahkan sudah diperkenalkan jauh sebelum Indonesia Merdeka oleh Profesor Soemitro Djojohadikusumo tepatnya pada tahun 1943," kata Purbaya.

Soemitro sebut Purbaya dalam desertasinya mengenalkan trilogi pembangunan yang menekankan pada tiga pilar yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan dan stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam konteks trilogi itu, Prof Soemitro menekankan  pentingnya stabilitas perbankan. Beliau mengambil pelajaran dari The Great Depression di AS, dan dampaknya pada perekonomian Indonesia.

Jurus lokal wisdom ala Soemitronomics itu kata   Purbaya sudah terbukti ampuh meredam dampak krisis ekonomi global.

Purbaya mencontohkan saat krisis ekonomi global 2008 akibat subprime mortgage di AS dan saat pandemi Covid-19 tahun 2020-2021, ekonomi Indonesia cepat pulih karena bertumpu pada domestik demand.

"Respon kebijakan ekinomi pada 2008 tepat karena aktivitas ekonomi tetap jalan yang ditopang oleh ketersediaan likuiditas melalui uang beredar yang tumbuh'," kata Purbaya.

Situasi yang sama juga berlaku saat Pandemi. Meskipun saat itu hampir kolaps, tetapi Pemerintah cepat mengubah dan merespon dengan pelonggaran secara terbatas, sehingga RI sukses keluar dari resesi dan kembali tumbuh positif seperti pada 2009 dengan tumbuh 4,9 persen.

"Pada 2020 juga kita pakai ilmu yang sejenis, karena sudah pintar yaitu menjaga domestic demand," kata Purbaya.

Kondisi tersebut berbeda saat krisiis moneter 1997-1998. Saat itu kata Purbaya, respon kebijakan membingungkan karena suku bunga naik hingga 60 persen, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100 persen.

Dampaknya dengan suku bunga tinggi, tidak ada pelaku usaha yang berani meminjam ke bank. Sebaliknya, uang beredar yang melimpah dipakai menyerang rupiah kembali.

"Kebijakan yang membingungkan itu memberi bahan bakar menyerang rupiah kita," kata Purbaya.

Dari tiga krisis tersebut jelas Purbaya, dua diantaranya yaitu krisis global 2008 dan pandemi Covid-19 bisa dilalui dengan baik karena menggunakan pendekatan lokal wisdom, sedangkan krisis 1998 menyisakan celah yang dalam karena menggunakan resep dari luar.

"Jadi kita sudah punya modal yang besar, tinggal di manage dengan baik. Fokus pada diri sendiri dengan memanfaatkan domestik demand," kata Purbaya.

Kalau Pemerintah menargetkan  ekonomi tahun 2026 tumbuh 5,4 persen, Purbaya menilai itu sangat realistis.
Apalagi, jika dioptimalkan dengan dukungan pertumbuhan ekonomi dari daerah.
"Ekonomi dari pasar, sawah dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) itu merupakan penopang ekonomi nasional," kata Purbaya.

Ekonomi Sumatera Utara tambah Purbaya relatif lebih kuat dalam menopang perekonomian nasional. Apalagi bertumpu pada sektor perkebunan dan pariwisata yang termasuk sektor padat karya, sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

 

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →