Siswadhi Pranoto Loe: Digitalisasi Gudang Itu Langkah Awal, Bukan Tujuan Akhir

Oleh : Hariyanto | Rabu, 09 Juli 2025 - 10:45 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Digitalisasi di sektor logistik tidak boleh berhenti pada automasi gudang semata. Menurut Siswadhi Pranoto Loe, pakar transformasi logistik dan sistem rantai pasok, banyak perusahaan terjebak pada euforia teknologi tanpa memikirkan strategi jangka panjang yang terintegrasi.

“Digitalisasi gudang adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Transformasi logistik harus mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari pengadaan hingga layanan pelanggan, dan semuanya harus terhubung dalam satu ekosistem cerdas,” ujar Siswadhi dalam wawancara mendalam di Jakarta.

Ia menyoroti bahwa sebagian besar perusahaan logistik di Indonesia masih mengandalkan sistem manajemen gudang (WMS) yang berdiri sendiri (stand-alone) dan belum terkoneksi dengan sistem perencanaan permintaan, transportasi, maupun keuangan. Akibatnya, data tidak mengalir secara real-time, menyebabkan keterlambatan, duplikasi proses, dan biaya logistik yang tinggi.

Berdasarkan laporan dari World Bank Logistics Performance Index (LPI) 2023, Indonesia berada di peringkat ke-61 dari 139 negara, dengan skor rendah pada indikator efisiensi logistik dan teknologi informasi. Hal ini menjadi tantangan serius jika Indonesia ingin menjadi hub logistik regional.

Siswadhi Pranoto Loe

“Kalau kita mau naik kelas, digitalisasi tidak cukup hanya di gudang. Harus ada integrasi sistem dari awal hingga akhir, dan semua pengambil keputusan harus bisa melihat data secara real-time,” jelas Siswadhi.

Ia mencontohkan beberapa perusahaan yang berhasil meningkatkan efisiensi hingga 30% setelah mengintegrasikan sistem WMS dengan ERP dan transportasi berbasis cloud. Menurutnya, digitalisasi yang menyeluruh dapat menurunkan biaya logistik nasional yang saat ini masih sekitar 23% dari PDB — jauh lebih tinggi dibandingkan negara ASEAN lain seperti Thailand (14%) atau Malaysia (13%).

Siswadhi juga menegaskan bahwa transformasi digital harus dimulai dari audit proses internal dan kesiapan SDM. “Jangan buru-buru beli teknologi kalau proses bisnis belum dirapikan. Teknologi akan mempercepat apa yang sudah baik — atau memperparah yang buruk,” tambahnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa digitalisasi adalah bagian dari strategi kompetitif jangka panjang. “Kalau ingin bersaing di pasar global, logistik kita harus lincah, cerdas, dan terhubung. Dan itu tidak bisa dicapai hanya dengan mengganti software gudang.” pungkasnya.

Hariyanto

Redaksi

Herry adalah seorang jurnalis, kreator digital, dan editor yang berbasis di Indonesia. Berdasarkan rekam jejak kariernya, ia pernah menjadi staf pendukung di portal berita Inilah.com dan aktif sebagai jurnalis serta editor untuk media ekonomi dan bisnis Industry.co.id.

Lihat semua artikel →