Hasil Pertanian Tidak Sesuai Harapan, Darmin Mengaku Risau

Oleh : Ridwan | Rabu, 16 Agustus 2017 - 07:36 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Besar pasak dari pada tiang, Menko Perekonomian, Darmin Nasution risau, karena, dana negara untuk pertanian sebesar Rp50 triliun yang digelontorkan, ternyata tidak setimpal dengan hasil yang didapat selama satahun ini.

"Kalau digabung setahun sekitar Rp50 triliun. Pertanyaannya hasilnya kira-kira berapa? Sepadan tidak dengan itu," kata Darmin dalam rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kebutuhan di Jakarta,akhir tahun lalu.

Dana tersebut meliputi tiga hal yaitu, subsidi pupuk, pencetakan sawah baru, dan pembangunan irigasi. Subsidi pupuk mengambil porsi paling besar dengan nilai mencapai Rp30 triliun.

Darmin menilai, penyebabnya adalah program yang tidak tersambung dengan benar. Pembangunan irigasi misalnya, menurut Darmin banyak irigasi yang dibangun, namun jalurnya tidak berdekatan dengan sawah. Sehingga pengairan tidak berjalan baik.

"Irigasi itu jangan dikira yang 5 kilometer, tetapi berapa luas lahan yang bisa diairi. Sering sekali masalahnya irigasi lewat tapi tidak di sawah," tukasnya.

Selain itu, kurangnya hasil pertanian semakin terbukti dengan pola panen padi yang semakin melemah. Dari dulu hingga sekarang hanya ada dua masa panen, yakni ketika usai musim hujan. Ketika hujan datang berarti para petani bisa menanam padi.

"Jadi bukan irigasi, tapi hujan. Kalau hujan berarti orang bisa menanam padi," tegas Darmin.

Oleh karena itu, agar program berjalan maksimal, dibutuhkan one map policy. Darmin menjelaskan, ini adalah peta yang menggambarkan kondisi Indonesia dengan lebih rinci. Sehingga pemerintah lebih tepat dalam pengambilan keputusan.

"Menurut kita ini sangat krusial, mulai dijalankan dengan baik adalah mendudukan irigasi dengan sawah. Karena selama ini banyak tidak nyambung," tukasnya.

Padahal menurut Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri mengatakan, angka kemiskinan di desa diakibatkan oleh kontribusi beras sebanyak 26,46% dan di kota sebanyak 20,11%. "Cara paling efektif untuk mengentaskan kemiskinan adalah instrumen beras," kata Faisal.

Faisal mengatakan, pemerintah seharusnya mengutamakan peningkatan produksi dan fokus ke hulu. Peningkatan produksi, katanya , akan menyelesaikan masalah disparitas harga. Dia menyebutkan, pemerintah seharusnya meningkatkan mekanisme untuk menggenjot produktivitas.

Diketahui, Berdasarkan data Outlook Padi 2016 Kementerian Pertanian, produktivitas padi Indonesia 2010-2014 hanya mencapai 5,7 ton per hektare (Ha), masih dibawah Vietnam yang mencapai 6,67 ton per Ha. Padahal lahan pertanian padi di Vietnam tidak sebesar Indonesia, namun produktivitasnya lebih tinggi.

 

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →