Sampaikan Rumusan National Sugar Summit (NSS) 2023, Komunitas Pergulaan Sepakati Poin-poin Pembenahan Industri Gula

Oleh : Kormen Barus | Kamis, 21 Desember 2023 - 18:10 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta – Konferensi pergulaan terbesar di Indonesia National Sugar Summit (NSS) 2023 yang telah sukses digelar menghasilkan kesepakatan bersama untuk perbaikan sektor gula nasional. Hal ini merupakan bagian dari komitmen serta konstribusi Komunitas Pergulaan untuk perbaikan dan penguatan sektor gula nasional ke depan.

Pernyataan dan kesepakatan bersama tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat. Menurutnya, Komunitas pergulaan Indonesia beserta para stakeholder bertekad mendorong dan berkontribusi dalam program swasembada gula nasional.

“Gagasan dan berbagai pemikiran telah dituangkan selama pelaksanaan National Sugar Summit 2023 yang diselenggarakan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/Holding BUMN. Forum tersebut menyepakati upaya peningkatan produksi harus terus dilakukan dengan mengedepankan pemanfaatan teknologi terkini,” ujarnya.

Terdapat 4 poin kesepakatan terkait pemanfaatan teknologi yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi kemajuan industri gula tanah air, meliputi pembenahan sektor hulu atau on farm, off farm, tata niaga, dan hilirisasi.

Pertama, di sektor hulu/on farm, precision agriculture harus diterapkan melalui penggunaan teknologi Web GIS dan drone untuk pemetaan lahan dan data capture. Selain itu, penerapan penginderaan jauh dan rekomendasi pemupukan berbasis camera multispectral, blockchain, aplikasi smartfarming, dan sensor IOT perlu didorong bersama dan diterapkan secara masif.  Aspek hulu lainnya yaitu dukungan teknologi mekanisasi dan automatisasi dalam irigasi, pemeliharaan pertanaman, hingga pemanenan/harvesting serta digitalisasi proses tebang angkut untuk efektifitas dan optimalisasi pemasokan tebu ke pabrik.

Kedua, di sektor off farm automasi proses menjadi hal yang utama, meliputi penerapan dashboard monitoring dan process control menggunakan IOT guna meningkatkan efisiensi pabrik, menurunkan losses serta meningkatkan kualitas gula yang dihasilkan.

Ketiga, di sektor tata niaga gula, komunitas pergulaan bersepakat untuk meningkatkan penerapan praktik pelelangan gula secara digital, sehingga lebih transparan dan kompetitif. Selain itu, juga meningkatkan pemanfaatan platform digital marketing antar perusahaan, Big data dan Artificial Intelligence untuk memprediksi harga gula, penggunaan sistem informasi yang terintegrasi dalam penetapan harga acuan pembelian dan penjualan gula, serta platform logistic terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi pada rantai pasok gula.

Keempat, di Sektor hilir, aktivitas hilirisasi harus terus didorong dengan penggunaan teknologi terkini pada industri turunan gula, terutama Bioethanol untuk menghasilkan produk berkualitas dan efisien.

Terkait pelaksanaan dan kesepakatan yang dihasilkan NSS 2023, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero)/ID FOOD Frans Marganda Tambunan, dalam keterangannya, Rabu, (20/12/2023), di Jakarta, menyampaikan dukungan terhadap kesepakatan untuk peningkatan industri gula tersebut. Menurutnya, apa yang telah dirumuskan dan disampaikan sejalan dengan fokus pembahasan NSS 2023 selama dua hari penyelenggaraan, yaitu terkait urgensi pemanfaatan teknologi terkini di setiap lini kegiatan industri gula.

“Selain itu hal ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mendorong percepatan pembangunan industri gula nasional menuju swasembada gula konsumsi tahun 2028 dan gula Konsumsi dan industri pada tahun 2030, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel),” ujarnya.

Frans menambahkan, diperlukan dukungan dan kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan target swasembada gula sesuai dengan roadmap yang disepakati. Berbagai faktor kunci yang harus dipersiapkan di antaranya ketersediaan lahan seluas 700.000 ha (eksisting saat ini berkisar 500.000 ha), produktivitas tebu ditargetkan 98 ton/ha, dan rendemen ditargetkan 11,2%.

Untuk mencapai target tersebut, penggunaan teknologi secara masif dan berkelanjutan menjadi solusi terbaik. Frans menegaskan, pemanfaatan teknologi di industri gula mutlak sangat dibutuhkan. Pasalnya, keberhasilan sejumlah negara produsen gula terbesar dunia seperti Brazil dan India tidak terlepas dari inovasi di bidang teknologi.

Upaya peningkatan pemanfaatan teknologi ini juga bisa kita lakukan secara kolaboratif, bersama seluruh stakeholder gula nasional, termasuk investor, serta pemerintah tentunya melalui kebijakan dan regulasi yang mendukung penggunaan teknologi di industri gula. “Kolaborasi antar stakeholder pergulaan juga dapat mendorong penguatan kemitraan antar pabrik gula dan petani, ketersediaan dan keterjangkauan pupuk serta kemudahan akses pendanaan. Tak kalah penting adalah mendorong minat petani tebu, terutama generasi muda dengan  memberikan reward kepada petani yang berprestasi,” jelasnya.

Kormen Barus

Pimpinan Redaksi

Kormen Barus adalah seorang jurnalis dan editor senior yang saat ini dikenal sebagai Pimpinan Redaksi di media portal berita nasional ⁠Industry.co.id. Ia juga memiliki rekam jejak sebagai jurnalis untuk portal Infomoneter dan Redaktur Pelaksana di Majalah Business Review. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia adalah penulis yang telah menerbitkan karya di bidang lingkungan, seperti buku yang berjudul "Desa Mandiri Menuju Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Lihat semua artikel →