P2MI Gelar Workshop Bersama Profesor IPB, Luruskan Stigma Negatif Micin (MSG)

Oleh : Nina Karlita | Selasa, 18 April 2023 - 01:36 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menjadi penyedap rasa andalan, namun di Indonesia, Monosodium Glutamat (MSG) atau micin, masih mendapat stigma negatif. Mulai dianggap sebagai penyebab kanker, obesitas, hingga penyebab kebodohan.

Bertujuan untuk memberikan informasi yang benar mengenai MSG atau micin, Perkumpulan Pabrik Mononatrium Glutamat dan Asam Glutamat Indonesia (P2MI) mengadakan silaturahmi dan workshop bertajuk “Cinta Pakai Micin, Why Not?”.

Dalam wokrshop P2MI yang beranggotakan PT Ajinomoto Indonesia, PT Ajinex International, PT Sasa Inti, dan PT Daesang Ingredients Indonesia itu, hadir Prof. Dr. Dede Robiatul Adawiyah yang merupakan Dosen Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor.

"Makanya kami gelar workhosp bersama rekan-rekan media, juga demo masak sambil bersilahturahmi  bersama," ujar Satria Gentur Pinandita, Ketua Bidang Komunikasi P2MI (17/4/2023).

Micin atau MSG  aman dikonsumsi oleh semua tahapan usia. Kadar keamanan MSG dijelaskan pada Permenkes dan  BPOM. Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan menjelaskan bahwa MSG dikategorikan sebagai bahan tambahan pangan. 

Sifatnya tidak menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan dengan batasan pemakaian secukupnya. Bahkan lembaga internasional seperti  Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organisation (WHO) juga telah memverifikasi keamanan MSG.

Menurut Prof. Dr. Dede, MSG mempunyai rasa umami yang merupakan rasa dasar kelima, selain asin, asam, manis dan pahit, karena MSG memiliki reseptor sendiri pada permukaan lidah dan aman dikonsumsi. 

"Hoax yang beredar di masyarakat mengenai micin adalah tidak benar. MSG atau micin MSG memiliki acuan nilai asupan harian (ADI) sebagai not specified atau tidak dinyatakan, ini berarti MSG adalah bahan yang aman," beber Prof. Dr. Dede. 

Bahkan kenyataannya, kadar natrium (Na) pada MSG lebih sedikit ketimbang garam dapur. MSG mengandung 12% Na, sedangkan garam dapur 39%. Artinya, kandungan Na di MSG lebih  sedikit dibandingkan garam dapur sehingga risiko hipertensi akibat konsumsi Natrium berlebih lebih tinggi pada garam dapur.

Saat ini juga ada beberapa Produk Makanan yang meng-“klaim” tanpa ada penambahan MSG, dan hanya mengandung Jamur, Yeast dan sebagainya. Namun secara ilmiah, produk makanan ini sebenarnya juga mengandung asam glutamate yang juga terkandung dalam MSG, bahkan produk makanan ini dijual dengan harga yang lebih mahal dari MSG. 

"Khusus untuk menjelaskan perihal tersebut kami mengundang Prof. Dr. Dede Robiatul Adawiyah untuk memberikan penjelasan lebih jelas. Untuk itulah Rekan Media dapat memberikan informasi yang benar dan berimbang kepada Masyarakat agar tidak tertipu,” ujar Doddy S. Widodo, Ketua P2MI.

Acara yang  berlangsung hangat hari itu ditutup dengan buka puasa bersama antara media dan pengurus P2MI. Melalui acara ini, terungkap stigma negatif yang selama ini melekat pada micin adalah tidak benar. 

"Bahkan nyatanya micin merupakan material yang juga bermanfaat. P2MI berharap, melalui kegiatan sore hari ini masyarakat dan terinformasikan mengenai amannya mengkonsumsi MSG dan tidak lagi khawatir dalam menambahkan micin pada masakan”, tutup Satria di akhir pembicaraan.

Micin yang terbuat dari garam natrium dan asam glutamat itu pertamakali ditemukan di Jepang pada tahun 1908 oleh seorang professor bernama Kikunae Ikeda. Kikunae Ikeda mengekstrak dan mengkristalkan glutamat dari kaldu rumput laut untuk dijadikan butiran MSG.