Buka Pembekalan Fasilitator Daerah Tahap Pertama, Kepala Perpusnas Sebut TPIBS Kurangi Kemiskinan

Oleh : Nina Karlita | Kamis, 30 Maret 2023 - 21:44 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id

Perpusnas Berharap Peran Fasilitator Daerah Dalam Program TPIBS

Jakarta — Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang menjadi program unggulan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dinilai berhasil menguatkan konsep literasi.

Namun TPIBS membutuhkan peran fasilitator daerah (fasda) yang memiliki kesamaan persepsi tentang perpustakaan dan literasi untuk menguatkan komitmen dan perannya dalam menjalankan program TPBIS.

TPBIS adalah salah satu program prioritas nasional yang bertujuan memperkuat peran dan fungsi perpustakaan melalui peningkatan kualitas layanan perpustakaan.

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, menyampaikan fasda merupakan representasi pemerintah pusat melalui Perpusnas untuk bertemu dengan pemerintah daerah. Untuk itu, fasda harus paham betul peran dari Perpusnas.

"Peran Perpusnas adalah supporting dalam men-trigger stakeholder," ungkapnya dalam pembukaan Pembekalan Replikasi Fasilitator Daerah tahap pertama Program TPBIS yang diselenggarakan secara daring, pada Kamis (30/3/2023).

Esensinya, TPBIS berupaya mengurangi kemiskinan masyarakat marginal melalui pendayagunaan perpustakaan umum di daerah di Indonesia. Para penerima manfaat mendapatkan pelatihan yang meningkatkan keterampilan serta kegiatan promosional seperti penyuluhan, sosialisasi, wisata literasi, storytelling, dan lainnya.

Kepala Perpusnas menjelaskan ada empat faktor penyebab kemiskinan yakni kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan, minimnya kreativitas dan inovasi, kurang akses terhadap permodalan, serta kultur malas yang masih ada di masyarakat.

Karenanya, peran perpustakaan dibutuhkan untuk meningkatkan skill masyarakat dengan menyediakan berbagai buku ilmu terapan. "Fasilitator hadir untuk mendampingi masyarakat dalam memproduksi barang maupun jasa," lanjutnya.

Misalnya, ketika ada produk makanan yang dihasilkan masyarakat, maka dapat didampingi untuk pengujian mutu ke BPOM. Tak hanya itu, fasda juga dapat memberikan pendampingan cara penjualan produk tersebut.

"Bagaimana menarasikan pilihan ekonominya, bagaimana kualitasnya dan dia harus kita latih untuk memasukkan produknya ke dalam pasar global melalui online," terangnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas, Adin Bondar, mengatakan kehadiran perpustakaan bertujuan meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Tidak perlu diragukan lagi, peran perpustakaan sangat strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kita," ungkapnya.

Dikatakan, Perpusnas telah melaksanakan program TPBIS sejak tahun 2018. Program ini memiliki dampak yang luas dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama empat tahun berjalan, program TPBIS telah menyentuh sebanyak 2.133.918 anggota masyarakat.

Bahkan sudah ada 1.125 desa di 18 kabupaten/kota yang telah mereplikasi program ini sebagai program mandiri yang didanai oleh APBD.

"Bagi pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota yang belum mereplikasi kami mendorong agar program ini juga dapat di replikasi di daerah," pungkasnya.

Pembekalan replikasi fasda tahap 1 diikuti sebanyak 338 fasilitator. Dengan rincian 66 fasda dari 33 provinsi dan sebanyak 272 fasda dari 136 kabupaten/kota se-Indonesia dan jumlah mitra sebanyak 450 perpustakaan.