Restoran Cepat Saji Global di Indonesia Diharapkan Bisa Jamin Kualitas Produk

Oleh : Abraham Sihombing | Minggu, 13 November 2022 - 23:36 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pernah ada seorang teman membuka pembicaraan dengan menanyakan kenapa sekarang tubuh tikus-tikus liar sangat besar-besar dibandingkan dulu tidak sampai sebesar itu.

 

Teman itu mengungkapkan, perubahan ukuran tikus-tikus itu disebabkan oleh obat-obatan yang digunakan para peternak ayam ras untuk membesarkan ayam-ayam tersebut sebelum akhirnya menjadi bahan baku berbagai perusahaan restoran cepat saji global di Indonesia.

 

Teman itu juga mengatakan, obat-obatan tersebut menyerap ke dalam tubuh ayam tersebut hingga ke tulang-tulangnya. Ketika tulang-tulang tersebut dibuang ke tempat sampah karena tidak dikonsumsi, banyak tikus-tikus yang menggeret tulang-tulang tersebut sebagai pakan mereka.

 

Akibatnya, obat-obatan yang terserap di tulang-tulang tersebut juga diserap oleh tubuh tikus-tikus tersebut. Itulah yang menyebabkan ukuran tikus-tikus tersebut tumbuh membesar.

 

Kendati tidak mengetahui dengan pasti kebenaran cerita tersebut, tetapi World Animal Protection (WAP) dalam laporan studinya yang berjudul The Pecking Order 2022 menilai, banyak restoran cepat saji global di Indonesia yang mengabaikan kesejahteraan hewan ternak yang disajikan kepada konsumen.

 

Rully Prayoga, Manajer Kampanye WAP Indonesia, mengemukakan, laporan studi seperti itu sudah diluncurkan sejak 2020. Dalam laporan terbaru WAP Indonesia tersebut menunjukkan bahwa salah satu restoran ayam goreng cepat saji global yang terkemuka dan mengusung nama sebuah negara bagian di Amerika selalu menghindar dan beralasan atas komitmen kesejahteraan ayam dalam rantai pasokan mereka.

 

“Restoran ayam goreng cepat saji global tersebut perusahaan yang berada pada peringkat keenam atau terburuk untuk menangani kesejahteraan ayam dan rantai pasokan dagingnya. Hal itu telah dievaluasi WAP Indonesia sejak 2020. Perusahaan itu tidak ada kemajuan untuk mewujudkan komitmen terhadap kesejahteraan ayam,” ujar Rully dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/10/2022).

 

Rully menuturkan, sekitar 60 miliar ayam di dunia setiap tahun menderita di tangan perusahaan perusahaan makanan cepat saji yang menolak untuk menganggap serius kesejahteraan ayam dalam rantai pasokan mereka. Pasalnya, hewan ternak yang ingin hidup secara alami ini sepanjang hidupnya mengalami sakit kronis, menderita kepincangan, gangguan pernafasan dan bahkan gagal jantung.

 

“Hal itu karena ayam hidup berdesakan di pabrik peternakan dengan sedikit atau tanpa lingkungan yang sehat dan mendukung. Ayam broiler yang merupakan produk seleksi genetika membuat mereka tumbuh besar dengan cepat, yakni hanya sekitar 27-30 hari. Kondisi itu memberikan tekanan besar pada jantung, paru-paru dan kaki ayam serta membatasi mereka berperilaku secara alami,” ujar Rully.

 

Oleh karena itu, demikian Rully, WAP Indonesia mendesak industri pangan untuk berkomitmen pada perubahan kebijakan yang akan meningkatkan kesejahteraan ayam melalui penggunaan bibit ayam yang tumbuh lebih sehat. Pasalnya, laju pertumbuhan ayam yang dipercepat, kurangnya penerangan cahaya alami, serta ruang gerak yang tidak cukup dapat menyebabkan ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan yang serius, termasuk gagal jantung dan paru-paru, kelemahan otot dan pincang saat berdiri.

 

“Karena tidak ingin mengalami banyak kematian populasi ayam akibat penyakit seperti ini yang pada akhirnya menimbulkan kerugian, maka banyak perusahaan peternakan ayam broiler tersebut menggunakan berbagai obat-obatan untuk menganggulangi gangguan kesehatan ayam tersebut. Inilah yang menjadi kekhawatiran ibu-ibu jika ingin memberikan produk ayam goreng cepat saji bagi anak-anak mereka. Mereka khawatir obat-obatan tersebut bisa mempengaruhi kesehatan anak-anak mereka,” papar Rully.

 

Rully mengungkapkan, para pihak yang berwenang di berbagai perusahaan peternakan ayam broiler tersebut diharapkan bisa memberikan kesempatan kepada ayam-ayam di peternakan itu untuk berprilaku alami, seperti bertengger, mematuk, madi debu dan mengepakkan sayap. Selain itu, mereka juga bisa memperoleh pencahayaan alami sebagai salah satu syarat ruang hidup berkualitas tinggi bagi ayam-ayam tersebut.

 

“Di samping itu, mereka juga diminta agar dapat memastikan ayam yang disembelih dilakukan secara manusiawi sebelum dipotong, tanpa menjungkir-balikkan ayam tersebut hidup-hidup,” imbuh Rully.***

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →