Safari Politik Jelang Pemilu Demi Kerek Elektabilitas
INDUSTRY.co.id-Menjelang tahun politik pemilihan umum atau Pemilu 2024, partai dan tokoh sudah ancang-ancang meningkatkan elektabilitas.
Dalam konteks politik, terutama dalam sistem demokrasi, popularitas partai dan atau popularitas kader adalah keniscayaan. Ideologi, visi, misi, program yang baik dari seorang politisi (kader) ataupun dari partai tidak akan menjadi pilihan, jika tidak populer. Artinya tanpa ada komunikasi dari seorang politisi atau partai yang ideal tidak akan maksimal dalam perolehan suara. Maka dari itu, seringkali pencarian popularitas menjadi arena pertarungan dalam pemilihan umum (election) dalam sebuah negara demokrasi. Karena dengan begitu kader atau partai berebut mendapat simpati dan juga berharap menjadi calon pilihan bagi pemilih. Menuju Pemilu 2024, para tokoh politik, politisi maupun ketua umum partai gencar memanaskan mesin politiknya dengan melakukan safari politik ke berbagai daerah. Berbagai partai politik berusaha menyusun strategi untuk menggaet suara rakyat. Selain melalui janji-janji manis kampanye, para petinggi parpol juga mengiklankan slogan khas mereka. Misalnya, berusaha merebut suara rakyat kecil dengan menamakan partainya sebagai partai wong cilik.
Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia, safari perjalanan atau petualangan jarak jauh dalam suatu kegiatan ekspedisi, penyelidikan, penelitian, wisata, dan sebagainya. Safari berarti perjalanan. Safari politik kunjungan dengan tujuan bermuatan kepentingan politis. Adapun jika merujuk arti itu, safari politik kegiatan kunjungan seseorang atau kelompok yang bertujuan politis. Fungsi safari politik strategi yang dilakukan tokoh politik meningkatkan citra partai di mata masyarakat. Hasil dari safari politik juga dianggap mempengaruhi elekbilitas. Elektabilitas berbeda dengan popularitas. Popularitas tingkat keterkenalan. Belakangan ini, setidaknya ada tiga parpol yang mengklaim sebagai partai wong cilik, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Gerakan Indonesia (Gerindra). Seperti diketahui, partai pertama berlambang banteng moncong putih itu telah dikenal sebagai partainya wong cilik.
Sebutan tersebut tentu memiliki korelasi dengan ideologi yang dijunjung Soekarno, marhaenisme, untuk melawan ketidakadilan. Anak keduanya, Megawati Soekarno Putri, kemudian memoles marhaenisme sebagai alat juang PDIP. Yakni disimbolkan dengan slogan PDIP partainya wong cilik. Artinya sebuah partai yang terus memperjuangkan kaum tertindas.
Selain itu, dalam momen ziarah bersama Cak Imin ke makam almarhum Taufiq Kiemas di Taman Makam Pahlawan atau TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Puan Maharani menyebut bahwa PKB juga termasuk partai wong cilik. PDIP dan PKB merasa memiliki kesamaan sebagai partai wong cilik.
Manuver Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menggencarkan safari politik berpotensi mengubah konstelasi politik nasional menjelang Pemilu 2024. Tak hanya dua kali memenangi pemilu, partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri itu juga dapat mengusung kandidat presiden-wakil presiden sendiri sekaligus memiliki tokoh potensial dengan elektabilitas tinggi. Modal politik itulah yang membuat langkah PDI-P selalu dinanti oleh parpol lain. PDI-P mengawali rangkaian safari politik pada Senin, 22 Agustus 2022. Safari politik diawali dengan kunjungan Ketua DPP PDI-P Bidang Politik dan Keamanan Puan Maharani ke Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Menurut rencana, PDI-P juga akan menemui parpol lain selama dua bulan safari politik.
Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri memerintahkan Puan untuk menjalin komunikasi politik dengan parpol lain.
Pertimbangannya, Puan adalah Ketua DPP PDI-P sekaligus Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Presiden ke-5 RI itu melihat safari politik yang dilakukan Puan langsung menuai reaksi, baik dari parpol maupun elite politik lain. Padahal, PDI-P baru bertemu dengan satu parpol, yakni Nasdem. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai, safari politik PDI-P pada akhirnya sangat berpotensi mengubah konstelasi politik nasional. Sebab, PDI-P memiliki beberapa magnet politik yang signifikan. Salah satunya, PDIP merupakan parpol pemenang dalam dua kali pemilu terakhir. Selain itu, PDIP juga menjadi satu-satunya parpol yang bisa mengusung capres-cawapres sendiri pada Pemilu 2024. Pasalnya, PDIP menguasai 128 atau 22,3 persen kursi DPR, melebihi syarat pencalonan presiden dan wakil presiden yang diatur Undang-Undang Pemilu, yakni 20 persen kursi DPR.
PDIP juga memiliki beberapa tokoh berpotensi capres dengan elektabilitas tinggi, di antaranya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Puan Maharani. Ganjar, bahkan, selalu menduduki posisi tiga teratas tokoh berpotensi capres dengan elektabilitas tinggi dalam survei berbagai lembaga. Dalam survei Litbang Kompas, Juni lalu, misalnya, Ganjar berada di urutan kedua setelah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dengan elektabilitas 22 persen. Keberadaan tokoh dengan elektabilitas tinggi itulah, yang menurut Adi, bisa menarik parpol lain untuk bergabung dengan koalisi yang akan dibentuk PDIP. Mengutip dari publikasi Komunikasi Politik dan Pencitraan membahas gaya safari politik Megawati Soekarnoputri. Megawati beberapa kali melakukan safari politik mengunjungi pasar-pasar, desa terpencil, hingga pelelangan ikan.
Prabowo Subianto juga salah satu publik figur yang melakukan safari politik. Berbeda dengan Megawati, Prabowo melakukan safari politik dengan kunjungan ke sejumlah tokoh penting sebelum penetapan Kabinet Indonesia Maju.
Berdasarkan hasil survei KedaiKOPI yang diadakan pada 3 Agustus hingga 18 Agustus 2022 dengan metode face to face interview. Terdapat 1.197 responden yang tersebar secara proporsional di seluruh wilayah Indonesia.
Sementara itu menurut Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menjelaskan deretan elektabilitas tokoh politik. Urutannya, Ganjar Pranowo 26 persen, Prabowo Subianto 18 persen, Anies Baswedan 14,5 persen. Belakangan juga dikabarkan elektabilitas Puan Maharani melonjak ke angka 9,6 persen. Nama Puan sering masuk dalam pemberitaan setelah langkahnya melakukan safari politik ke ketua umum partai lainnya.
Elektabilitas Ketua DPP PDIP Puan Maharani kini berada di lima besar urutan calon presiden atau Capres 2024 berdasarkan hasil survei Lembaga KedaiKOPI. Meningkatnya elektabilitas Puan Maharani ini beriringan dengan naiknya penerimaan publik terhadap presiden perempuan. Menurut hasil survei KedaiKOPI, pada November 2021 penerimaan itu nilainya hanya 34,2 persen, lalu pada Agustus 2022 nilainya naik pesat menjadi 55,5 persen. (Tempo, 5 September 2022).
Elektabilitas Puan kini menyalip tokoh lainnya seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar. Salah satu yang turut menjadi sorotan dalam kegiatan safari politik yakni Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY. AHY, sosok yang digadang-gadang dimajukan Partai Demokrat sebagai calon presiden (Capres) pada pemilihan presiden (Pilpres) 2024, mulai melakukan safari ke sejumlah elit partai politik lain.
Tercatat, pada 23-24 Juni ada tiga tokoh yang ditemui putra sulung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu, pertama AHY bersama sejumlah pengurus Partai Demokrat menemui Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di kantor DPP Partai Nasdem, Nasdem Tower, Jakarta. Kedua, saat menunaikan shalat Jumat, AHY bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang juga mendirikan shalat Jumat di Masjid Nurul Hidayah, Jakarta Selatan. Ketiga, malamnya giliran Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang disambangi oleh AHY dan jajaran pengurus Demokrat. Dua orang berlatar belakang militer itu mengadakan pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar 2 jam. Seusai pertemuan, AHY menyebutkan, Demokrat ingin terus membangun komunikasi yang baik dengan Partai Gerindra. (Kompas.com, 25 Juli 2022).
Mengutip dari publikasi Survei dan Konsultan Politik: Membangun Popularitas dan Elektabilitas Politik, mesin politik dan popularitas dua variabel yang dipercaya menentukan siapa saja yang ingin tampil ke permukaan sebagai calon pemimpin publik. Solid atau tidak jajaran elite politik yang bersangkutan pun menentukan sejauh mana mampu mengatasi segala model resistansi yang berkembang.
Elektabilitas politik tingkat keterpilihan partai atau politikus dalam pemilihan, seperti pemilihan umum atau pemilu. Elektabilitas ini dipengaruhi berbagai hal, rekam jejak partai atau politikus, hingga upaya kampanye.
Tak kalah penting, terkait fluktuasi popularitas tokoh yang ditawarkan. Menurun popularitas tokoh juga mempengaruhi tingkat kekuatan mesin politik. Popularitas pun bermakna untuk pergerakan mesin politik.
Mesin politik yang sederhana diyakini mampu bergerak lincah, seiring makin menguat popularitas tokoh. Sebaliknya, mesin politik yang kokoh bisa memudar, seiring merosotnya popularitas tokoh utamanya. Dengan demikian, fungsi safari politik strategi yang dilakukan tokoh politik meningkatkan citra partai di mata masyarakat. Hasil dari safari politik juga dianggap mempengaruhi elekbilitas. Elektabilitas berbeda dengan popularitas. Popularitas tingkat keterkenalan.
Kendati begitu, elektabilitas beriringan dengan popularitas. Sesuatu yang populer lebih tinggi tingkat elektabilitas dibanding yang tidak. Populer belum tentu layak dipilih jika tidak memiliki kriteria elektabilitas. Sebaliknya, meskipun memiliki elektabilitas, tapi tidak populer, persentase keterpilihannya juga rendah. Elektabilitas politik tingkat keterpilihan partai atau politikus dalam pemilihan, seperti pemilihan umum atau pemilu. Elektabilitas ini dipengaruhi berbagai hal, rekam jejak partai atau politikus, hingga upaya kampanye. Mengutip dari publikasi Survei dan Konsultan Politik: Membangun Popularitas dan Elektabilitas Politik, semakin populer suatu partai atau politikus, makin tinggi pula elektabilitas.
Penulis Jurnalis Media Televisi Nasional dan Mahasiswa S2 Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta