Di Ajang ICC 2022, Wamen BUMN Angkat Tiga Tantangan Industri Asuransi

Oleh : Ridwan | Rabu, 28 September 2022 - 15:25 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Reasuransi Indinesia Utama (Persero) atau Indonesia Re secara resmi menyelenggarakan "Indonesia Re International Conference (IIC) 2022" dengan mengusung tema "Reinsurance and Economic Resilience: Dealing with Climate Change, Pandemic and Geopolitical Challenges".

Perhelatan akbar tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo di Ritz-Carlton Jakarta, Rabu (28/9).

Dalam sambutannya, Kartika mengatakan, industri asuransi di Tanah Air masih mengalami banyak tantangan yang harus segera diperbaiki.

"Ini harus dijadikan pelajaran untuk perbaikan, dan bagaimana tata kelola yang baik akan menjadikan industri ini jauh lebih sehat dan stabil kedepannya," kata Kartika.

Secara garis besar, Wamen BUMN II ini mengungkaokan ada tiga tantangan besar industri asuransi di Indonesia yang harus segera diperbaiki. Pertama yaitu ketersediaan data.

"Data ini menjadi penting, dimana kita harus memiliki statistical database yang dapat memberikan satu forward looking estimations mengenai future clsim yang ada di Indonesia," jelasnya.

Kedua yaitu pricing. Dikatakan Kartika, pricing memang selalu menjadi tantangan di industri asuransi. Pasalnya, lanjut Kartika, dinamika persaingan industri di asuransi sering kali memiliki daya tawar dibawah perbankan.

Ketiga yaitu Risk Based Capital (RBC). Kartika menegaskan, ini salah satu tantangan yang harus segera dilakukan guna memastikan bahwa kesehatan industri baik di asuransi maupun reinsurance mampu meng-cover berbagi risiko masa depan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Indonesia Re Benny Waworuntu mengatakan, diperlukan kolaborasi atau sinergi banyak pihak untuk menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut.

Benny mengakui bahwa data menjadi peranan penting untuk industri asuransi. Oleh karena itu, Lanjutnya, pihaknya akan mengembangkan kembali keberadaan BPPDAN untuk mengumpulkan data-data yang memang benar-benar valid.

"Lewat IIC 2022, Indonesia Re akan kembali menggaungkan peran Badan Pengelola Pusat Data Asuransi Nasional (BPPDAN), yang merupakan bagian dari Indonesia Re, sebagai lembaga pengelola data asuransi kebakaran nasional, katanya.

"Di event ini pun, kami akan meluncurkan Indonesia Re Institute, organisasi penelitian dan pelatihan industri asuransi yang dimiliki Indonesia Re," tambahnya.

Terkait pricing, menurutnya, ini memang menjadi kendala di industri asuransi Tanah Air. "Ini menjadi tugas kita bersama untuk segera menyelesaikan tantangan ini," tegasnya.

Selanjutnya, terkait Risk Based Capital (RBC), Benny mengatakan, diperlukan kolaborasi dengan semua pihak termasuk dari regulator dalam hal ini OJK untuk bersama-sama memantau.

"Kita harus membuat sebuah dashborad yang "alert", kalau misalnya produk sudah diluncurkan itu sebenarnya inregular basis harus dilihat apakah future rebility untuk produk tersebut masih cukup atau tidak. Ini yang seharusnya kita diskusikan bersama," tutur Benny.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →