Pendapatan Widodo Makmur Perkasa Ditargetkan Rp7 Triliun pada 2022
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pendapatan PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP) ditargetkan sebesar Rp7,136 triliun pada 2022, atau tumbuh sekitar 14% dibandingkan dengan realisasi pendapatan pada 2021 sebesar Rp6,235 triliun.
Pada 2021, sekitar 42% dari pendapatan tersebut dikontribusikan dari segmen unggas, sebesar 35% berasal dari segmen peternakan sapi, sekitar 15% dari segmen daging sapi, 5% dari segmen komoditas dan sisanya 2% dari segmen konstruksi.
Komposisi kontribusi pendapatan perseroan pada 2022 ini diperkirakan akan berubah menjadi sekitar 45% total pendapatan berasal dari segmen unggas, 30% dari segmen peternakan sapi, 13% dari segmen daging sapi, 10% dari segmen komoditas, dan sisanya 2% dari bisnis konstruksi.
“Perubahan signifikan persentase kontribusi pendapatan pada 2022 ini adalah di segmen komoditas yang mengalami peningkatan sekitar dua kali lipat,” ujar Tumiyana, Presiden Direktur WMPP, dalam acara paparan publik di Jakarta, Rabu (15/06/2022).
Tumiyana mengemukakan, komoditas perseroan berupa pakan ternak untuk ayam dan sapi yang dapat diproduksi dengan biaya yang lebih murah mengingat banyak bahan baku yang mudah ditemukan di Indonesia, misalnya jagung dan kulit padi.
“Ke depan, kami juga akan mendayagunakan bungkil kedelai. Akan tetapi karena kedelai yang banyak diproses menjadi berbagai makanan hidangan di Indonesia adalah kedelai impor, maka harga bungkil kedelai impor itu masih relatif tinggi. Nanti kami akan mencari solusi untuk mendayagunakan bungkil kedelai itu sebagai bahan baku pakan ternak yang akan kami produksi,” papar Tumiyana.
Ternyata, peningkatan pendapatan yang dikontribusikan oleh produk komoditi olahan berupa pakan ternak ini merupakan langkah strategis perseroan karena bisnis ini memiliki marjin keuntungan yang paling tinggi dibandingkan segmen bisnis perseroan lainnya.
Apalagi, lini produksi pabrik yang memproduksi komoditi olahan ini nantinya akan diperluas dalam rangka peningkatan volume produksi. Untuk itu, manajemen melakukannya melalui efisiensi energi, yaitu pemasangan rangkaian solar cell (sel-sel matahari penghasil listrik). Ini adalah salah satu langkah penggunaan renewable energy untuk menghasilkan listrik yang dibutuhkan guna mengaktifkan mesin-mesin pabrik komoditi olahan tersebut.
Tumiyana mengungkapkan, jika target pendapatan 2022 tersebut dapat dicapai perseroan, maka bottom line perseroan diperkirakan dapat mencapai Rp498 miliar pada 2022, atau meningkat 60% dibandingkan pada 2021 sebesar Rp311 miliar.
“Itu artinya, marjin laba bersih perseroan pada 2022 tercatat sekitar 6,98% atau hampir 7% dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar 4,99% atau hanya 5%. Kenaikan marjin laba bersih ini menjadi acuan bahwa bisnis perseroan ke depan sangat memiliki prospek yang sangat baik,” jelas Tumiyana.
Pasalnya, demikian Tumiyana, pendapatan dari bisnis komoditi pakan ternak ayam dan sapi ini sangat menjanjikan, paling tidak dapat dikonsumsi perseroan sendiri karena adanya segmen bisnis ayam dan sapi. Itu karena pertumbuhan segmen kelas menengah merupakan faktor utama bagi kenaikan daya beli masyarakat terhadap berbagai produk daging sapi dan ayam di Indonesia.
“Hal itu karena sekitar 30% dari total penduduk Indonesia merupakan segmen kelas menengah,” tukas Tumiyana.
Selain itu, Tumiyana menuturkan, umur produktif penduduk Indonesia pada kisaran 15-64 tahun kini hampir mencapai tiga per empat dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. “Segmen populasi penduduk ini juga merupakan pendorong utama bagi perubahan tren makanan dan hidangan baru yang sangat berpotensi mendukung sektor industri makanan dan minuman serta berbagai industri yang terkait dengan berbagai daging olahan,” imbuh Tumiyana.***