Genjot Hilirisasi, Menperin Agus: RI Bakal Menjadi Negara Petrokimia Nomor Satu di ASEAN
INDUSTRY co.id - Jakarta, Menteri Perindusterian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus mengakselerasi program hilirisasi industri, seperti hilirisasi industri berbasis migas, agro, batubara dan bahan tambang serta mineral.
Menurut Menperin, sejatinya hilirisasi industri dapat mendorong daya saing serta nilai tambah produk industri, termasuk didalamnya peningkatan investasi dan lapangan kerja.
“Program hilirisasi akan memiliki nilai tambah lain berupa peningkatan investasi dalam negeri, pembukaan lapangan kerja, dan penyerapan tenaga kerja,” ujar Menperin Agus seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Minggu (5/2/2022), dari keterangannya dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI beberapa waktu lalu.
Dijelaskan Menperin lebih lanjut, terkait hilirisasi industri disektor migas dan batubara, saat ini sedang berjalan investasi pembangunan pabrik petrokimia pengolahan naphta oleh PT Chandra Asri dan PT Lotte Chemicals.
Kedua korporasi tersebut tengah mengolah naphta yang kemudian diproduksi menjadi etilena, propilena, butadiena, benzena, dan lainnya dengan total mencapai 6,8 juta ton pertahun.
Perlu diketahui naphta itu sendiri adalah suatu kelompok yang terdiri dari beberapa jenis hidrokarbon cair produk antara kilang minyak yang digunakan terutama sebagai bahan baku produksi komponen bensin oktan tinggi melalui proses reformasi katalitik.
Nafta atau naphta juga digunakan dalam industri petrokimia untuk memproduksi olefin dalam perengkah uap (steam cracker) serta digunakan sebagai pelarut atau solven dalam industri kimia.
Selain Chandra Asri dan Lotte Chemical, menurut Menperin Agus, saat ini PT Pertamina (persero) juga sedang berinvestasi mengembangkan proyek petrokimia terbesarnya yang berada di wilayah Balongan dan Tuban.
"Dengan semua investasi tersebut diharapkan Indonesia akan menjadi negara petrokimia nomor satu di ASEAN,” jelas Menperin Agus.
Adapun hilirisasi berbasis agro, lanjut Menperin, industri kelapa sawit nasional hingga saat ini terus menunjukkan peningkatan hilirasi yang sangat baik.
Dimana pada tahun 2021, ratio volume ekspor bahan baku terhadap produk hilir adalah 9,27% bahan baku dibanding 90,73% produk hilir.
"Sedangkan, untuk ragam jenis, terdapat 168 jenis produk hilir kelapa sawit pada tahun 2021," jelasnya.
Selanjutnya, upaya hilirisasi industri disektor tambang dan mineral juga telah menunjukkan pertumbuhan pesat.
Dimana industri smelter nikel di tanah air kini telah mampu menghasilkan produk Nickel Pig Iron (NPI) feronikel, nikel hidrat dan stainless steel.
“Hingga saat ini terdapat 27 smelter (pyrometallurgy dan hydrometallurgy nickel) yang sudah beroperasi, 32 di tahap konstruksi, dan 6 tahap di feasibility study,” jelasnya.
Dari hilirisasi bijih nikel ini, sambung Menperin, akan dihasilkan produk stainless sebagai bahan baku produk-produk di hilir atau produk jadi seperti peralatan kesehatan, peralatan dapur, peralatan makan, kedirgantaraan dan kendaraan listrik.
“Peningkatan nilai tambah dari bijih nikel melalui hilirisasi bisa mencapai 340-400 kali lipat,” tandasnya.
Sementara itu, Kemenperin menghitung nilai tambah hilirisasi logam berbasis bauksit, dari bijih bauksit menjadi ingot aluminium, sebesar 12,25 kali lipat.
“Nilai tambah ini akan terus meningkat ketika ingot aluminium tersebut diolah menjadi produk manufaktur siap pakai atau produk jadi. Diperkirakan bisa meningkat 2-3 kali lipat dari ingot aluminium,” pungkas Menperin Agus.