Dosen UNJ Ajari Santri Budidaya Ikan Lele dan Tanam Kangkung di Dalam Ember

Oleh : Herry Barus | Minggu, 14 November 2021 - 20:45 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Dosen Program Studi Pendidikan Ilmu Sosial (PIPS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengajari santri Rumah Tahfidz Al-Maa'uun membudidayakan ikan lele dan patin sekaligus menumbuhkan sayuran.

Uniknya, cara membudidayakan lele dan patin yang diajarkan kepada santri adalah dengan menggunakan metode budidamber alias budidaya ikan dalam ember dengan sistem aquaponik.

"Kami bekerjasama dengan Rumah Tahfidz Al-Maa’uun memberikan pelatihan dan pendampingan kepada santri guna mengelola Aquaponik sebagai bekal kemandirian pangan serta perilaku kepedulian terhadap lingkungan," ujar Dian Alfia Purwandari, Dosen Program Studi PIPS, UNJ dalam siaran pers.

Kegiatan tersebut diawali dengan identifikasi kebutuhan Rumah Tahfidz Al-Maa'uun dengan kondisi lingkungan serta sarana dan pra sarana yang dimiliki di asrama. Kemudian dilanjutkan dengan menceri inovasi yang tepat guna optimalisasi pemanfaatan sumberdaya.

Dengan identifikasi tersebut, Tim Dosen dan Mahasiswa PIPS memilih teknologi aquaponik dengan budidamber modifikasi yang berkolaborasi dengan Komunitas Hydroponik Jaktim.

Pelaksanaan Pendampingan dimulai 15 September 2021 hingga 13 November 2021. Selama Pendampingan santri diberikan keterampilan pengelolaan ikan dan tanaman kangkung dengan sistem piket.

Pendampingan ini berakhir setelah santri telah  mampu mengatasi permasalahan yang umumnya ditemui pada aquaponik secara mandiri.

Menurut Dosen Prodi PIPS, UNJ Dian Alfia Purwandari, kegiatan pendampingan aquaponik ini diharapkan dapat menjadi bekal kemandirian pangan serta pengembangan minat prilaku peduli terhadap lingkungannya.

"Dengan memamnfaatkan lahan terbatas di asrama, para santri bisa merawat sayuran kangkung sekaligus membudidayakan lele dan patin. Banyak hal yang bisa mereka pelajari dengan teknologi aquaponik ini," ujar Dian.

Pendampingan ini cukup berhasil hal ini diindikasikan dengan kematian ikan lele hanya 5 ekor dan patin 1 ekor dari 25 ekor ikan patin dan 30 ekor ikan lele, serta sayur yang telah dipanen.

Para santri dan ustadz pembimbing merasakan manfaat dari kegiatan budidaya dan tana sayuran dengan teknologi aquaponik ini. Mereka bisa menambah wawasan dan pengalaman.

"Tadinya kami tidak tahu bagaimana budidaya ikan lele tanpa harus memakan tempat yang luas. Dengan cara aquaponik ini kita bisa meminimalisir tempat. Mudah-mudahan santri dan ustadz bisa mengembangkan budidaya aquaponik di lingkungan masing-masing setelah lulus nanti," ujar Syamsul, salah satu ustadz pengabdian.

Herry Barus Lihat semua artikel →