Gelar ASEAN Business Forum 2021, Standard Chartered Ajak Dunia Usaha Jawab Tantangan Investasi Berkelanjutan

Oleh : Ridwan | Rabu, 27 Oktober 2021 - 10:25 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Aktivitas bisnis dan investasi yang mengusung nilai keberlanjutan kini menjadi tuntutan pokok dalam tatanan global saat ini. Keberlanjutan dianggap bisa membawa transformasi cara hidup global demi tercapainya ekonomi hijau.

Hal tersebut turut diamini Global Head Sustainable Finance Standard Chartered Daniel Hanna dalam webinar Standard Chartered, ASEAN Business Forum: Is There an ASEAN Way to Sustainability? secara virtual, beberapa waktu lalu.

Namun, kata Daniel, masih ada sejumlah tantangan dan teknikal gap yang dihadapi dalam keberlanjutan ini. Terlebih, katanya, dalam Sembilan tahun kedepan kita perlu mengurangi emisi global sekitar 45%. ASEAN menjadi kunci memainkan ini. 

Utuk itu, lanjut Daniek, kita perlu beraksi sekarang juga untuk dekarbonisasi dan secepat mungkin termasuk memberikan kompensasi bagi yang terdampak, seperti ada program boundary carbon market yang dibentuk dengan standar tinggi dan dikombinasi teknologi. Karbon kredit ini akan memberikan bagi belahan dunia yang terdampak.

“Di sisi lain secara kritikal kita butuh menghentikan emisi adalah memberikan kapital dan  mengakselerasi teknologi. Dunia harus bersama-sama memulihkan lingkungan secara signifikan,” jelasnya.

Dikesempatan yang sama, Lucas Joppa, Chief Environmental Officer Microsoft mengatakan, berbagai pihak perlu mendalami masalah yang menghambat keberlanjutan ini dengan pengertian yang mendalam. Sebab keberlanjutan bukan hanya pertumbuhan saja. Ini tentang pertumbuhan melalui keberlanjutan.

Selain itu, keberlanjutan juga terkait beberapa bisnis spesifik dimana adanya resiko bisnis maupun kesempatan bisnis. Karena itu, pencapaian target dalam keberlanjutan bukan hal yang mudah karena kita harus memikirkan langkah-langkah bagi perusahaan seperti transformasi bisnis, perubahan sosial, pengalaman dan sebagainya yang harus diubah. Sehingga kita harus memiliki kesadaran diri masing-masing.

“Hal ini sulit sehingga kita perlu memahami solusi. Selain itu kita perlu bekerjasama dalam segala aspek mulai dari bisnis. Apalagi ini bukan sekedar culture point dalam organisasi, tetapi perubahan semua level termasuk pada ekosistem lain seperti suplier dan sebagainya,” jelasnya.

Microsoft sendiri memiliki pathway yang memudahkan menuju net zero. Hal Ini karena Microsoft sudah berkomitmen dan mempunyai progress yang baik serta pihaknya memahami ini tidak mudah sama seperti lainnya untuk reduksi emisi.

“Intinya keberlanjutan harus dilakukan sekarang karena masalahnya sulit dan kompleks untuk dipecahkan. Kita tak akan memecahkan masalah (keberlanjutan) ini besok. Meskipun akan memakan waktu tahunan bahkan dekade. Bahkan seharusnya kita sudah memulainya dari “kemarin," terang Lucas.

Sementara itu, Head of South East Asia COP26 Strategy, British High Commission Singapore Isabelle de Lovinfosse menyatakan, kemampuan investasi keberlanjutan sangat kritikal dan memangs sulit sehingga memerlukan persiapan COP26. Alhasil ini membutuhkan pendanaan yang memadai untuk mendukung bisnis dan inovasi demi mendukung transisi menjadi kenyataan.

“Sebenarnya kesempatan bisnis dan kompetensi termasuk mobilisasi keuangan untuk mendukung keberlanjutan ini sudah jelas sehingga kita bisa memulai dengan starting point bisa memulai dengan mempercepat dari sisi industry,” pungkasnya.

Menurutnya, ASEAN sendiri belum bergerak cepat untuk hal ini. Sebagai solusinya Pertama-tama harus ditumbuhkan rasa awareness terkait kebutuhan, kesempatan. Awareness ini juga membutuhkan LSM demi pertumbuhan keberlanjutan.

"Jadi, keberlanjutan jangan hanya dilihat dari 9 hal yang umum karena dibutuhkan pemahaman baru secara mainstream untuk kehidupan. Proyek EBT, deforestation dan lean manufacture perlu digerakkan menjadi hal available yang mainstream di ASEAN," papar Isabelle.

“Dari Pemerintah juga bisa memberikan subsidi untuk mendukung ini. Dari sektor keuangan bisa memberikan sesuatu yang baru sehingga bisa diberikan dari angle yang berbeda bukan hanya yang tradisional saja,” tutupnya.