Ngeri! Ini yang Bakal Terjadi Jika Menkeu Sri Mulyani Tak Segera Teken Perpanjangan Safeguard Keramik

Oleh : Ridwan | Rabu, 06 Oktober 2021 - 11:40 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyebut peningkatan impor produk keramik semakin merajalela.

Tercatat, periode Januari -  Agustus 2021, impor produk keramik meningkat tajam diatas 60%.

Kenaikan angka impor tersebut didominasi oleh produk keramik asal Tiongkok yang meningkat 105%, serta India sekitar 20%.

"Peningkatan angka impor yang demikian tinggi jika tidak diantisipasi melalui perpanjangan safeguard atau Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP), maka kelangsungan industri keramik nasional semakin tidak pasti," kata Ketua Umum Asaki Edy Suyanto kepada INDUSTRY.co.id, Rabu (6/10/2021).

Disamping itu, tambah Edy, peningkatan impor juga akan menimbulkan kerugian negara berupa penerimaan bea masuk yang diperkirakan berkisar Rp 90-100 miliar per bulan dengan data besaran impor keramik bulanan rata-rata Rp500 miliar per bulan.

Oleh karena itu, Asaki mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk segera melakukan perpanjangan safeguard atau BMTP yang akan berakhir pada 11 Oktober 2021.

Lebih lanjut, Edy mengatakan, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) melalui Menteri Perdagangan (Mendag) telah mengirimkan surat rekomendasi perpanjangan safeguard atau BMTL untuk tiga tahun kedepan kepada Menteri Keuangan.

"Namun, hingga saat ini berdasarkan informasi yang kami terima masih dalam proses di Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu hinga beberapa hari menjelang berakhirnya BMTP," jelas Edy.

"Kekhawatiran kami terhadap gangguan berat yang serius akan terjadi jika perpanjangan safeguard atau BMTP keramik tidak dilakukan tepat waktu," tambahnya.

Seperti diketahui, industri keramik nasional sudah mulai kembali bergeliat pasca pelonggaran PPKM yang dilakukan pemerintah. Hal ini terlihat dari tingkat utilisasi produksi selama Januari - Seotember 2021 yang berada di level 75%, dan menjadi yang tertinggi sejak tahun 2015.

Edy optimis pasca penurunan harga gas menjadi USD 6 per MMBTU, industri keramik nasional bisa bangkit kembali ke tingkat utilisasi di atas 90%, seperti yang terjadi di tahun 2011 - 2104 lalu.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →