Pengaruh Buruk Pornografi untuk Anak, Bisa Sampai Depersi hingga Penyimpangan Seksual

Oleh : Chodijah Febriyani | Rabu, 22 September 2021 - 10:30 WIB

INDUSTRY.co.id - Menurut layanan menejemen konten Hootsuit dan agensi pemasaran media we are social penggun internet di Indonesia pada awal 2021 sudah mencapai 202,6 juta orang pengguna. Terkait peningkatan tersebut, ancaman terhadap bahaya internet pun ikut mengkhawatirkan. Sejak bulan Agustus 2018 hingga April 2019, tepatnya sebelum pandemi diketahui terdapat 898.108 konten pornografi di internet. 

"Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengungkap terjadinya peningkatan kekerasan anak didominasi kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender online meningkat hampir 300 persen selama pandemi," ujar Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, melalui siaran pers yang diterima Industry.co.id.

Pornografi menurut UU No.44 tahun 2008 merupakan sketsa, foto, tulisan, suara, animasi, kartun, atau bentuk desain lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi di muka umum yang membuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan masyarakat. Adapun pornografi memiliki bahaya kecanduan dan merusak fungsi otak di bagian prefrontal cortex.

Nandya mengatakan, pengaruh pornografi pada otak akan menyebabkan penurunan fungsi prefrontal cortex sehingga orang mudah berbohong, harga diri dan konse diri menurun, depresi, sulit konsentrasi, sulit berpikir kritis, sulit menahan diri, hingga gangguan bersosialisasi yang mengarah penyimpangan seksual, mengarah pada kekerasan seksual, dan seks bebas.

"Dengan segala bahaya tersebut, tentunya peran orang tua sangat dibutuhkan agar anak terhindar dari paparan buruk internet salah satunya pornografi," tuturnya.

Menurut Nandya pendekatan personal bisa menjadi solusinya, yaitu orangtua perlu membangun hubungan baik dengan anak agar komunikasi menjadi efektif penuh kasih sayang sehingga menimbulkan kepercayaan. Kemudian orangtua perlu memberikan pendidikan seksual sesuai usia anak dan memperkenalkan konsep berinternet aman pada anak. 

"Tapi tetap saja setelah itu semua, orangtua perlu mengawasi anak dengan konsep parental kontrol seperti membatasi penggunaan gawai dan memfilter apa yang ada di internet," tukasnya.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang narasumber seperti Henry V. Herlambang, CMO Kadobox, Syarief Hidayatulloh, Digital Marketing Strategic Hello Morning Monday, dan Shandy Susanto, Dosen di Universitas Podomoro. 

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.