Utilisasi Capai 77%, APGI Akui Diskon Harga Gas Pacu Geliat Industri Gelas Kaca Indonesia

Oleh : Ridwan | Selasa, 29 Juni 2021 - 15:45 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Stimulus harga gas untuk industri sebesar USD 6 per MMBTU sesuai dengan implementasi Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 tentang penentapan harga gas bumi diyakini mampu mendongkrak utilisasi dan daya saing sektor industri manufaktur di tanah air sehingga akan memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya pemulihan ekonomi nasional.

Adapun, regulasi turunan dari PP 40/2016 tersebut, yakni Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rekomendasi Pengguna Gas Bumi Tertentu serta Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8 Tahun 2020 tentang Tata Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

Moncernya kinerja industri manufaktur juga turut diakui Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI) Henry Sutanto.

Dijelaskan Henry, industri gelas berbentuk/berongga (hollow glass) sedikit demi sedikit mulai bergerak kembali setelah lebih dari satu dekade ini mengalami sakit dan mengalami penurunan drastis karena tidak kompetitif.

"Peningkatan kinerja industri gelas ini disebabkan karena penurunan harga gas menjadi USD 6/MMBTU sejak bulan April 2020 melalui Kepmen ESDM No 89K tahun 2020," kata Henry saat dihubungi INDUSTRY.co.id di Jakarta, Selasa (29/6/2021).

Lebih lanjut, dijelaskan Henry, walaupun daya beli dan mobilitas barang maupun orang masih terhambat akibat krisis ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19, tetapi industri gelas mulai bergeliat.

"Terbukti, utilisasi produksi di tahun 2020 sudah mendekati 77%," terangnya.

Pada tahun 2000 awal, ungkap Henry, Indonesia memproduksi lebih dari 1 juta ton gelas berbentuk/berongga per tahun dalam berbagai bentuk seperti botol atau ampul gelas, alat-alat rumah tangga dari gelas, bata dari gelas dan lainnya.

"Produk-produk tersebut digunakan baik di dalam negeri maupun di ekspor ke mancanegara seperti Timur Tengah, Amerika Serikat, Amerika Latin, Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan," papar Henry.

Akan tetapi, lanjutnya, saat ini industri gelas berbentuk nasional hanya memproduksi kurang dari 800 ribu ton per tahun. Menurutnya, penurunan tersebut terjadi akibat produk Indonesia kalah bersaing di pasar internasional.

"Salah satu faktornya adalah mahalnya harga energi di dalam negeri," jelas Henry.

Dijelaskan Henry, energi berperan besar dalam industri gelas. "Sebelum harga gas diturunkan biaya energi memakan sekitar 30-35% biaya produksi. Sekarang hanya sekitar 25-30%," paparnya.

Oleh karena itu, APGI merasa sangat bersyukur dengan kebijaksanaan pemerintah dalam hal menyediakan harga gas yang kompetitif.

"Kami berharap harga gas ini bisa diperluas untuk sektor lainnnya sehingga industri nasional bisa bersaing dengan industri luar negeri yang memiliki harga gas antara USD 3-5 per MMBTU," tutup Henry.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →