Ajak Industri Kelola Sampah dengan Baik, Kemenperin Bakal Siapkan Sejumlah Insentif

Oleh : Ridwan | Selasa, 29 Juni 2021 - 05:30 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah menyusun sejumlah insentif untuk industri yang konsisten dalam penerapan industri hijau.

Kebijakan ini diharapkan bisa merangsang industri untuk tertarik melakukan pengelolaan sampah demi menjaga lingkungan.

"Mekanisme fasilitasi insentif untuk industri hijau sedang kami susun. Ini untuk mendorong ketertarikan industri dalam pengelolaan sampah yang baik," kata Kepala Pusat Industri Hijau Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian R Hendro Martono pada acara pelatihan jurnalis tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular secara virtual, Senin (28/6).

Acara ini digelar Danone Indonesia yang berkolaborasi bersama Greeneration Foundation. Kegiatan ini diikuti oleh 40 jurnalis lokal dan nasional, serta 20 mahasiswa dari lembaga pers dan jurusan Jurnalistik di perguruan tinggi di Indonesia.

Saat ini, jelas Hendro, Kemenperin telah melakukan beberapa kegiatan dalam mendukung pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di antaranya adalah mendorong industri hulu untuk memproduksi bahan polimer plastik yang mudah terurai dan dapat didaur ulang.

Kemudian, mendorong pertumbuhan industri daur ulang dan produk daur ulang, bimbingan teknis sampah plastik sebagai bahan baku daur ulang, penyediaan mesin pendaur ulang sampah yg saat ini sudah dilakukan di enam lokasi.

Selanjutnya, pengembangan sampah "waste to energy", pedoman pengelolaan sampah kemasan, limbah elektronik dan daur ulang plastik sektor industri, penyusunan skema pengelolaan di sektor industri, serta penyusunan kajian dan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk eco-packaging, eco-industry, dan penyusunan peta jalan ekonomi sirkular pada industri.

Menurutnya, industri daur ulang dalam negeri yang jumlahnya sekitar 1.000 perusahaan dengan nilai investasi Rp5,15 triliun saat ini mampu mengelola 2 juta ton limbah plastik dari 6,8 juta ton sampah plastik yang dicatat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang ada di Indonesia.

"Jadi yang baru terkelola dengan baik sekitar dua juta ton, sisanya sebanyak empat juta ton ini tentunya membutuhkan investasi untuk dapat dikelola," tutur Hendro.

Dikesempatan yang sama, Kepala Seksi Bina Peritel Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Agus Supriyanto mengatakan, permasalahan sampah di Indonesia belum selesai, masalahnya masih kompleks. 

Sebanyak 67,2 juta ton sampah Indonesia masih menumpuk setiap tahunnya. Penumpukkan ini diperkirakan akan bertambah dua kali lipat pada tahun 2050 apabila tidak ada kebijakan tegas untuk sampah plastik yang akan berakibatkan pada pencemaran ekosistem dan lingkungan. 

"Upaya pencegahan juga telah dilakukan oleh masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat melalui usaha gaya hidup minim sampah dan juga regulasi UU pengelolaan sampah rumah tangga. Selain itu pelaku usaha atau produsen juga memiliki kewajiban untuk pengurangan dan pengelolaan sampah yang telah mereka distribusikan contohnya dengan pembatasan produksi dan reuse sampah kemasan. Apabila usaha dan gaya hidup ini terus dilakukan maka tujuan untuk pengurangan sampah dapat terealisasi dengan baik," kata Agus.

Salah satu cara mencapai target tersebut adalah dengan membangun pendekatan ekonomi sirkular yang merupakan sebuah konsep alternatif dari ekonomi linear (take-make-dispose) yang dirancang untuk mengurangi sampah dan polusi; memperpanjang waktu pakai produk dan material dan mendukung regenerasi sistem alami. 

Berdasarkan hasil studi laporan “The Economic, Social, and Environmental Benefits of Circular Economy in Indonesia” penerapan ekonomi sirkular dapat berpotensi mengurangi sampah di Indonesia hingga 18-52%. 

"Hingga saat ini, penerapan ekonomi sirkular di Indonesia juga telah memberikan mata pencaharian bagi lebih dari 5 juta masyarakat Indonesia yang menjadi bagian dari rantai nilai daur ulang," terangnya.

Vanessa Letizia, Executive Director Greeneration Foundation mengungkapkan, permasalahan sampah yang terjadi saat ini sudah pada tahap kedaruratan, walaupun kami melihat trend peningkatan pengetahuan dan kepedulian di masyarakat mengenai isu ini, tetapi tentunya kita masih harus melakukan berbagai upaya sebagai solusi permasalahan sampah di Indonesia.

"Untuk itu dibutuhkan peran lintas sektor termasuk jurnalis dan media dalam menginspirasi publik untuk lebih bijak dalam mengelola sampah dan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular," katanya 

Terkait hal ini, Arif Mujahidin, Corporate Communication Danone Indonesia menjelaskan, pihaknya menyadari, salah satu edukasi yang paling efektif bagi masyarakat adalah melalui media massa. 

Namun saat ini, menurutnya, belum banyak referensi mengenai pengolahan sampah dan ekonomi sirkular yang mendapatkan tempat dan menjadi pusat perhatian di media massa. 

"Padahal, kami sangat yakin bahwa media massa merupakan mitra penting untuk dapat mengubah stigma dan cara pandang masyarakat luas dalam menciptakan bumi yang lebih baik," kata Arif.

"Kami berharap kegiatan edukasi dan pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kapasitas jurnalis terhadap isu pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. Sehingga, jurnalis dan media di Indonesia dapat menjadi sumber informasi, terdepan dan terpercaya, yang dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat untuk menerapkan gaya hidup yang lebih berkelanjutan, lebih bijak dalam mengelola sampah sehingga lebih ramah lingkungan," tutup Arif.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →