Posisi Strategis Indonesia dalam Jalur Sutra Baru Abad ke 21

Oleh : Herry Barus | Senin, 15 Mei 2017 - 09:48 WIB

INDUSTRY.co.id - Beijing- Dua negara yang dipilih Presiden Xi Jinping untuk mencetuskan inisiatif OBOR pada 2013 masing-masing memiliki makna strategis. Presiden Xi mengemukakan konsep Sabuk Ekonomi Jalur Sutra di Kazakhstan, dan konsep Jalur Sutra  Baru Abad Ke-21 di Indonesia.

Kazakhstan dan Indonesia adalah negara besar di kawasan masing-masing, dan diharapkan menjadi poros utama bagi kedua elemen Jalur Sutra Baru abad milenium.

Profil Indonesia dengan luas wilayah perairan sekira 3.257.483 kilometer persegi, dan berada di posisi silang antara dua samudra dan dua benua, menjadikan Indonesia sangat strategis secara geopolitik dan geostrategic, termasuk bagi inisiatif OBOR.

Namun, meski memiliki potensi sangat besar, Indonesia tidak memiliki infrastruktur maritim yang memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonominya serta mengukuhkan identitasnya sebagai negara bahari.

Pemerintah baru Indonesia berusaha mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara bahari hingga pada November 2014 Presiden Joko Widodo memaparkan lima pilar utama untuk menjadikan Indonesia Poros Maritim Dunia atau PMD.

Di antaranya adalah komitmen untuk mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim, dengan membangun Tol Laut, pelabuhan laut dalam, logistik, industri perkapalan, serta pariwisata bahari.

Visi Indonesia menjadi PMD sangat berpotensi bersinergi dengan inisiatif OBOR yang dicetuskan China. Untuk mewujudkan visinya, Indonesia perlu melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur maritim, termasuk 24 pelabuhan strategis dan 5 pelabuhan laut dalam.

Pembangunan Tol Laut pada periode 2015-2019 diperkirakan membutuhkan anggaran 57 miliar dolar AS.

Kehadiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam KTT Belt and Road Forum (BRF) itu, selain untuk mempelajari konsep OBOR juga bertujuan untuk meningkatkan investasi bagi pembangunan infrastruktur di Tanah Air, untuk mewujudkan visi PMD.

Indonesia akan memanfaatkan KTT itu untuk menarik para pebisnis mancanegara agar lebih banyak menanamkan modal di sektor infrastruktur Indonesia. Pasalnya, melalui KTT itu, pelaku perekonomian global akan mencoba melakukan sinkronisasi di bidang infrastruktur.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dalam sebuah kesempatan mengatakan sekalipun Indonesia telah bergabung, dalam realisasi programnya masih tertinggal dari berbagai negara lain.

Berkaca pada negara lain, Thomas menuturkan Indonesia akan melirik program infrastruktur perhubungan seperti jalan tol, pelabuhan dan perkeretapian.

"Pakistan itu sudah ambil 55 miliar dolar AS dari program OBOR. Malaysia sudah ambil lebih dari 30 miliar dolar AS. Sedangkan Indonesia baru 5 hingga 6 miliar dolar AS. Artinya kita ketinggalan sekali," ujarnya kepada awak media.

Sebagai negara yang dinilai strategis bagi pelaksanaan OBOR, Indonesia hendaknya mampu memainkan posisi tawar dan kepercayaan strategis itu bagi kepentingan nasional. Sinergi PMD dan OBOR haruslah saling menguntungkan, tidak saja bagi Indonesia dan China, melainkan juga bagi Indonesia dengan negara-negara di sepanjang Jalur Sutra Abad Milenium.

Untuk memproyeksikan diri sebagai Poros Maritim Dunia, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar infrastruktur laut yang tangguh, tetapi Indonesia harus mampu memainkan peran yang lebih besar dan strategis dalam hal diplomasi kelautan.

Sinergi PMD dan OBOR hendaknya mampu juga meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dan China, Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam OBOR.

Perubahan struktur ekonomi di China, dari yang semula berorientasi ekspor menjadi konsumsi menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk-produk konsumsi ke China.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China pada 2016 sebesar 16,785 miliar dollar AS. Adapun nilai impor Indonesia dari China sebesar 30,800 miliar dollar AS. Neraca perdagangan Indonesia terhadap China pada 2016 defisit sebesar 15,576 miliar dollar AS.

Sebagai negara yang dianggap strategis dalam sinergi PMD dan OBOR hendaknya jangan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk-produk China. Indonesia harus mampu memanfaatkan konektivitas yang dibangun melalui sinergi PMD dan OBOR untuk meningkatkan ekspor non migas ke China dan negara-negara peserta OBOR.(Ant)