Gawat! Utang BUMN Makin Bengkak, Wamen Kartika Beberkan Biang Keroknya

Oleh : Ridwan | Kamis, 28 Januari 2021 - 18:30 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah mencatat utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus membengkak. Hingga September 2020, posisi utang perusahaan negara mencapai Rp1.682 triliun.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodojo mengatakan, BUMN ditugaskan membangun banyak infrastruktur. Perintah tersebut tetap dilaksanakan di tengah kesulitan keuangan akibat pandemi Covid-19.

"Memang kami sangat diharapkan membangun infrastruktur dasar seperti tol, bandara, pelabuhan membuat secara posisi utang BUMN meningkat mencapai Rp1.682 triliun di bulan sembilan 2020," kata Kartika dalam BRI Group Economic Forum 2021, Kamis (28/1/2021).

Dijelaskan Kartika, tren kenaikan utang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Data Kementerian BUMN, utang perusahaan pelat merah tercatat Rp942,9 triliun. Kemudian, utang kembali naik pada 2018 menjadi Rp1.251,7 triliun.

Pada 2019, utang meningkat lagi menjadi Rp1.393 triliun. Pada tahun lalu, peningkatan signifikan terjadi karena BUMN kekurangan dana membangun.

"Covid-19 memang secara signifikan memengaruhi seluruh perusahaan tak kecuali BUMN," terangnya.

Di sisi lain, tambahnya, pendapatan BUMN tertekan di tengah pandemi. PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) contohnya, menjadi salah satu sektor yang terdampak cukup signifikan.

"Kalau kita lihat growth revenue (pertumbuhan pendapatan) di mana yang paling berdampak sektor energi, di mana konsumsi BBM dan listrik selama sembilan bulan lalu karena Covid-19 ini membuat demand dan pembelian energi menurun drastis," katanya.

Tak hanya itu, BUMN sektor lain juga terdampak seperti BUMN karya dan pariwisata. "Sektor tourism pendukung, termasuk airport, Garuda, hotel, ITDC yang terdampak signifikan pandemi Covid-19," tutup Mantan Dirut Bank Mandiri ini.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →