REI Garda Terdepan Pembangunan Rumah Rakyat

Oleh : Nandi Nanti | Selasa, 04 April 2017 - 13:10 WIB · 12 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Melalui ajang musyawarah nasional (Munas) pada akhir November 2016, Soelaman Soemawinata, terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi pengembang Realestat Indonesia (REI) . DPP REI dibawah Kepemimpinan mantan Ketua DPD REIBanten itu, memiliki segudang rencana. Antara lain siap kerja, siap menggolkan rencana maupun target-target organisasi kedepannya.

Eman lebih familiar disapa, setelah dilantik, langsung tancap gas dengan memperkuat struktur organisasi berupa menambah divisi baru di kabinetnya, yaitu Kerja Sama Investasi. Harapan Eman, di era globalisasi dan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), investasi asing khususnya di bidang properti yang masuk, harus dijadikan peluang sehingga bisa memperbesar potensi bisnis maupun manfaat yang bisa diambil khususnya untuk pengembang lokal.

Pihak asing yang masuk ke Indonesia, kata dia, sudah pasti membawa modal dan kompetensi kerja yang baik. Pengembang lokal harus bisa memanfaatkan peluang ini karena sebagai pengusaha lokal lebih tahu mengenai situasi pasar dan hal teknis lainnya sehingga ini bisa dimanfaatkan dengan kerja sama dan memaksimalkan peran pengembang daerah. Sebagai sebuah asosiasi perusahaan developer properti yang membawahi sekitar 3 ribu perusahaan, REI, kata dia memiliki daya tawar yang tinggi dan bisa menjadi motor pembangunan Indonesia

Dengan anggota lebih dari 3 ribu developer, mulai dari pengembang besar hingga skala kecil, ekuitas yang dimiliki anggota REI jumlahnya mencapai Rp500 triliun. Ini merupakan jumlah yang sangat besar, yang jika dikelola dengan baik bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan bangsa dari sektor properti. Soal sektor property yang sedang lesu, Eman menegaskan di tahun 2017 harus berhenti mengeluh, berhentilah susah-susah, harus mendahului untuk bekerja.

Lebih jauh dengan Soelaman Soemawinata, beberapa waktu lalu, redaksi INDUSTRY.co.id, berbincang-bincang dengan Ketua Umum REI, Soelaman Soemawinata, berikut petikannya.

Seberapa strategis peran sektor properti dalam kontribusinya terhadap perekonomian nasional?

Sangat besar. Soalnya REI itu mempunyai anggota kira kira tiga ribu. Kalau hitung-hitungankapitalisasinya dan apabila juga membaca berita, dari 45 grup properti di Indonesia yang berada di bursa efek, kapitalisasinya itu kira kira Rp250 triliun.

Itu total kapitalisasi properti nasional?

Iya, itu mewakili kira- kira 40% saham yang dari total nilai perusahaannya. Berarti total dari 45 grup itukira-kira hampir 600 triliun. Kalau 3ribu anggota REI tadi dikali 4 atau 5-nya aja, sudah hampir 3 ributriliun. Kalau dikali 4 berarti 2400, kira-kira begitu. Kalau 2400 itu sesuatu yang bisa menggerakan ekonomi macam-macam. Apalagi kita bergerak di banyak sektor ya.

Kalau REI ini bedanya sama organisasi lain yang sejenis itu apa?

Kalau organisasi lain sejenis bicaranya cuma rumah-rumah kecil dan ruko-ruko. Kalau REI bergeraknya di multi produk. Bisa di resort, bisa di hotel, bisa di hospitality, bisa di pariwisata, bisa di apartemen, bisa di office, bisa di mall. Bisa macam-macam yang bergerak di kaitannya dengan pembangunan.

Jadi cerita developer itu bukan cerita membangun, tapi cerita menciptakan value. Nah value ini bisa bergerak ke empat sektor. Ke belakang, katanya dari penelitian, ada 174 industri ikutan. Teruskedepannya, bisa menciptakan investasi baru. Dengan adanya development yang bagus nanti akan menciptakan investasi baru. Kontribusi tehadap masyarakat, penyerapan lapangan kerja ,itu kan besar sekali.

Terus kemudian mengikutkan ekonomi kerakyatan. Misalnya kalau masyarakat di sekitar pengembangan itu, mereka bisa bikin kost-kost-an. Bisa bikin ekonomi kerakyatan macam-macam lah gitu. Bisa berdagang, Terus kontribusi terhadap negara juga kan banyak, berupa pajak, retribusi,macam-macam. Kita bicaranya ga cuma satu sektor.

Bila melihat kebelakang, terjadi perlambatan ekonomi dan ini tantangan bagi pelaku di sektor properti. Bagaimana Anda melihat di ditahun ini?

Pelaku industri property itu kita sendiri. Industri properti adalah kita. Jadi kita tidak pernah mau meramal. Kita telah tiga tahun. Ini relative stuck-lah ya. Jadi tidak ada pertumbuhan. Terus perkembangan property-nya datar. Cenderung menurun. Menurun dari target kita. Di tahun 2017 kita harus berhentilah mengeluh, berhentilah susah-susah, kita harus bekerja, kita harus mendahului untuk bekerja.

Nah pertengahan Juli nanti, setelah selesai tax amnesti, setelah selesai dengan hiruk pikuk politik di Indonesia, kita harus mulai bekerja, kita harus mulai bergerak lagi. Jangan lagi berdiam diri. Jadi orang boleh meramal tapi kalau kitanya tidak bekerja, peramalnya jadi bohong. Tapi kalau kita, bukan mau meramal, kita mau bekerja. Jadi di pertengahan tahun 2017, kita mau mulai bekerja, meningkatkan kinerja sehingga menciptakan pertumbuhan ekonomi.

Kalau itu sudah mulai bekerja, tahun 2018 lanjutkan terus. Ekonomi Indonesia selalu diributkan dengan masalah ekonomi global. Kalau kata salah satu pengamat ekonomi, jangan terlalu melihat keluar karena diluar itu tidak bisa ditebak akan selalu begitu. Sekarang ada Donald Trumph, Trumph efek seperti apa? Masalah proteksi Amerika, nah kalau kita memikirkan seperti itu lagi kita ga akan pernah bisa bekerja.

Apa yang menjadi Fokus REI ?

REI ini mempunyai dua fokus, satu fokus ke pertumbuhan ekonomi yang tadi saya maksud, kita akan menggerakan seluruh sektor properti, sub sektornya. Sektor perhotelan, apartemen, office semua suruh minta bekerja. Satu lagi fokus ke sub sektor perumahan. Perumahannya itu adalah perumahan MBR-Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Kita akan fokuskan REI itu kesana. Mengapakita pilih ke MBR. Karena di sini ada konsep di mana unsur-unsur pemerataannya itu terjadi. artinya kita ingin membantu program pemerintah di dalam membangun rumah rakyat.

Terkait MBR, Kebijakan apa yang dibutuhkan atau diharapkan oleh REI agar dapat menstimulus program pemerintah tersebut?

Sebenarnya dari sisi kebijakan-kebijakannya nya sudah ada, satu untuk konsumen ya, konsumen bisa DP nya 1% tapi kebanyakan mereka pakai 10%, itu minimalnya 1% itu yang pertama. Yang kedua beban konsumen untuk PPn yang 10% kan tidak ada dihilangkan, terus kredit KPR-nya Cuma 5%, ada bantuan uang muka, yang 4 juta untuk seluruh program. Nah untuk pegawai negeri khusus selain yang 4 juta ada lagi yang sesuai dengan golongannya, ada yang 5,2 , 5,5.

Terus dari sisi pengembang kita punya insentif PPh nya itu dikenakan 2,5%. Ada lagi penyederhanaan perijinan yang sekarang sudah keluar dengan PP yang 64 itu untuk sekarang lagi di implementasikan, lagi di sosialisasikan ke daerah supaya jadi perda-perda.

Lalu bagaimana dengan Penyederhanaan perijinan, apakah sudah terpenuhi semua seperti yang diharapkan?

Secara teori sudah dipenuhi. Tapi penyederhanaan perijinan itu sebenarnya hanya untuk proses untuk membangun rumah MBR. Tapi kita berharap sebenarnya REI semua sektor yang berkaitan dengan perijinan di sektor property, tidak hanya MBR tapi itu mungkin bertahap. Sekarang pemerintah lagi menggenjot rumah MBR, kita ikut di situ. Tapi kita berharap diseluruh sub sektor property itu juga ada penyederhanaan perijinan, supaya tidak hanya untuk rumah tapi untuk seluruh sub sektor itu bisa berkembang lebih cepat.

Termasuk insentifnya?

Termasuk insentif-insentifnya. Itu yang sebenarnya kita mau, Cuma kan ini bertahap. Yang sudah ada, kita jalankan saja dulu maksimal. Kalau merasa kurang, ya kita minta lagi sama pemerintah. Yang penting mereka kan tahu kita punya kontribusi besar terhadap negara ini. Jadi baik secara pertumbuhan ekonomi maupun pemerataan, artinya memberikan perumahan untuk MBR, itu sebenarnya memberikan kontribusi besar terhadap negara ini. Jadi pengembang besar, pengembang kecil semuanya mempunyai tugas masing-masing di dalam negara ini untuk membangun atau menyediakan rumah.

Boleh tahu berapa backlog perumahan itu totalnya sekarang?

REI, terus terang tidak meneliti itu, dengar-dengar 11,4 juta itu berkaitan dengan kepemilikan dan hunian. Itu yang selama ini kita genjot, kenapa? Karena percepatan dari backlog ini juga mungkin ada bertambah juga. Kenapa? Di Indonesia ini kalau lihat dari beberapa majalah (media ) atau beberapa sumber menyatakan pertumbuhan penduduk Indonesia kan 1%, 1,2% maksimal. Kalau itu yang terjadi berarti ada 3 juta bayi lahir di Indonesia setahun. Kan 250 juta sekarang, kalau 1% berarti 2,5 juta lahir bayi di Indonesia,kalau 1,2 berarti 3 juta lahir bayi di Indonesia. Artinya akan banyak ruang kosong yang diekspansi oleh manusia-manusia ini untuk tempat hidup.

Ruang kosongnya tinggal kemana?

Ya, Mau ke darat, apa kelaut itu saja. Di darat apakah yang tersedianya itu hutan, perkebunan, sawah, tinggal itu. Tinggal kita memilih mana yang mau di ekspansi, itu fakta. Apalagi sekarang manusia di Indonesia masih belum kaya di luar negeri yang semuanya serba apartemen. Vertikal residence ini kan sebenarnya masih tidak terlalu sekuat landed, horizontal residence. Horisontal residence kaya landed house itu sangat boros dengan penggunaan tanah/pemakaian tanah. Itu yang jadi kendala, tantangan kita bagaimana caranya supaya masyarakat ini bisa hidup di vertical residence.

Lalu bagaimana sejauh ini respon publik terhadap FLPP dan imbasnya terhadap pertumbuhan demand bagi perumahan?

Kalau FLPP sih sudah captive market, jelas sudah 11,4 juta backlog itu diantaranya itu pasti ada yang MBR. Backlog perumahan itu bukan hanya MBR, seluruh sub sektor. Perumahan besar, perumahan kecil, MBR bahkan ada masyarakat-masyarakat miskin yang harus bisa dilaksanakan, dijawab dengan rusunawa rumah-rumah sewa. Sekarang peran REI apa? REI dengan bisnisnya bisa memiliki kontribusi terhadap rumah-rumah yang berkaitan dengan pembangunan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, rumah-rumah MBR, rumah menegah, rumah besar.

Termasuk program sejuta rumah?

Ya . Itu termasuk semua dalam program sejuta rumah, dan REI berperan dan berkomitmen dalam program tersebut.

Sudah terealisasi semua?

Belum , Tahun ini, sudah membangun 800 ribu dari sejuta yang ditargetkan. Artinya, yang dibangun baik rumah subsidi, rumah non subsidi, rusunami, rusunawa, apartemen, rumah swadaya itu semuanya itu dihitung 800 ribu. Dan REI itu berperan di salah satu jenis pembangunan rumah itu.

Lalu, Terkait kebijakan wilayah, apakah kebijakan pengembangan wilayah Pemerintah itu bertentangan dengan kebijakan para pengembang?

Kebijakan pengembangan wilayah, jadi gini kebijakan tata ruang itu dalam rangka menjawab bagaimana sistem perkotaan ini bisa serasi, ya akhirnya nyaman untuk masyarakatnya. Cuma yang namanya tata ruang itu harus menjawab juga bagaimana mengalokasikan masyarakat, manusia-manusia ini yang terus bertambah setiap tahunnya. Kalau di kota lebih parah lagi selain dengan kelahiran alami ada migrasi dari desa-desa yang kearah perkotaan oleh karena itu sebenarnya salah satu konsep yang harus dijalankan juga oleh kita ini, bagaimana banyak membangun rumah-rumah sewa, rumah sewa itu artinya rusunawa untuk orang-orang yang bekerja di sekitar industry maupun area pengembangan perkotaan.

Misalnya daerah kawasan-kawasan, perdagangan. Mengapa? Orang-orang kampung itu datang ke Jakarta karena ingin mencari pekerjaan, dia jangan disiapin rusunami atau rumah landed yang memiliki karena dia akan sepanjang hidupnya akan memenuhi kota itu. Konsepnya harus agak berbeda, sewa. Dia bekerja disini tapi dia menyewa rumah dan sisa uangnya dia tanam inves lagi dikampungnya. Beli rumah, beli sawah, sehingga pada saat dia makmur dia kembali lagi ke kampungnya. Jangan malah disiapkan rusunami dan lain-lain sehingga dia beranak pinak disini. Karena itu akan membenani kota, yang sekarang harus kita lakukan itu adalah bagaimana uang ini kembali ke kampung.

Konsep Pemerataan ya?

Ya, Pemerataan. jadi orang, uang yang ditabung sama orang dari kampung yang datang ke kota kerja, jangan dia beli rumah di kota, harusnya beli rumahnya di kampung. Dia bangun kampungnya. Jadi disini hanya sewa doang. Jadi kembali, uang itu harus kembali ke kampungnya.

Apa yang Anda ingin capai sebagai Bos REI? Ada Ambisi khusus?

Jadi pengurus kan memang baru hampir dua bulan lebih. Keinginan saya, saya berambisi untuk supaya pengembang-pengembang daerah bertumbuh. Pengembang daerah bertumbuh dengan membangun rumah MBR maupun perumahan. Rumah subsidi maupun non sibsidi. Kalau pengembang daerah bisa bertumbuh artinya ekonomi didaerah bertumbuh kan, kalau ekonomi didaerah bertumbuh artinya kesejahteraan itu tidak hanya berada di sekitar Jakarta atau disekitar kota2 besar tapi kembali ke daerahnya masing-masing itu namanya pemerataan.

Jadi yang namanya pemerataan itu adalah bertumbuh di seluruh Indonesia, bertumbuh tapi merata di seluruh Indonesia. Itu namanya fase pemerataan ya, bukan kita bagi-bagi uang ya. Ada uang disebar-sebar, bukan itu. Tapi bertumbuh, makanya salah satu yang kita dukung itu adalah kawasan ekonomi khusus, kawasan pariwisata, kawasan industri yang berada di luar jawa maupun di jawa tapi di daerah-daerahlah, kita konsen kesana.

Di REI sendiri, target nya apa?

Begini, kepengurusan saya kan sampai 2019 minimal saya ada istilah destinasi, destinasi REI 2019 artinya selama kepengurusan saya, ingin mencapai sebuah status, image bahwa REI ini adalah sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional,dengan 3 ribu anggota yang kita miliki. REI menjadi Garda terdepan pembangunan rumah rakyat. Artinya bangun rumah rakyat itu adalah pembangunan untuk rumah untuk MBR, itu yang di ingin kita canangkan. Jadi pengembang besar, pengembang kecil itu saya berkali-kali bilang mempunyai tugas mulia yang sama di negara ini.

Maksudnya bagaimana?

Maksudnya itu jangan kita melihat para pengembang besar itu sebagai orang-orang yang di iri-iriin, karena mereka sudah menciptakan ribuan tenaga kerja dan itu untuk masyarakat Indonesia. Jadi jangan lagi kalau ada pengembang-pengembang yang bikin mall itu, waduh ada mall nanti begini begitu. Dia harus dilihat bahwa berapa ribu orang yang akan bekerja disana. Berapa kost-kostan yang akan bisa diciptakan oleh penduduk setempat di sekitar situ. Jadi mereka mempunyai tugas mulia yang sama di negara ini.

Jadi kita pengembang itu bekerja dengan uang sendiri dan uang pinjaman dari bank dan harus dikembalikan, kita harus pertanggungjawabkan. Itu yang paling penting. Uang kita bukan datang dari pajak, majakin orang terus kemudian dibangun. Fungsinya beda. Kalau kita ada fungsi profit, ada fungsi penyerapan tenaga kerja, ada fungsi pertumbuhan ekonomi. Kalau dari sisi pemerintah, justru menggerakan supaya kita ini bergerak. Tugas pemerintah dua sebenarnya, menciptakan/membuat kebijakan yang sportif, kebijakan yang menunjang. Kedua membangun infrastruktur utama termasuk ada stabilitas politik tentu.

Lalu, apakah sejauh ini REI menganggap pemerintah sudah memberikan perhatian yang cukup?

Saya rasa cukup. Pemerintah sekarang terbuka untuk usulan yang dari masyarakat. Kalau kita memang bergerak untuk kesejahteraan rakyat, kalau ada hambatan, ya kita minta saja. Pak ini menghambat, kita bicara saja. Karena pemerintah sekarang ini cukup mendengar terhadap input-input yang bergerak di masyarakat demi kesejahteraan rakyat. Dan kita pun dengan value yang tiga, empat itu kan bukan hanya mencari profit. Kita kan efeknya banyak ketiga value-value ini kan, ada value terhadap lingkungan lebih baik,jalan di besarin, jalan diperbaikin. Itu kan efek-efek terhadap lingkungan dan infrastruktur.

Hobi Bapak disela kesibukan, apa?

Hobi saya nonton. Coba dengerin musik, ya kalau ada show-show saya datang

Termasuk Java Jazz kemarin?

Java Jazz karena anak saya di wisuda jadi tidak nonton. Satu-satunya java jazz yang tidak saya nonton kemarin haha. Gara-gara ada anak saya wisuda biasanya saya nonton dari Sembilan kali yang lalu, sepuluh kali ya.

Berapa lama nyemplung di dunia Properti?

Kalau dari konsultan sudah dari tahun 1984, saya belum lulus saya sudah kerja praktek di Perencana Jaya, konsultan. Dia mengerjakan BSD, tahun 1988 saya lulus masih mengerjakan BSD. Terus tahun 1994 saya masuk ke perusahaan membangun pengembangan besar. Jadi saya bukan masuk ke perusahaan property besar loh, saya masuk membangun untuk mengembangkan property itu menjadi besar. Memang grupnya grup besar, yang alam sutera, tahun 1994 ga ada namanya Alam Sutera, grupnya Agro Pantes, kuat. Tapi di sisi property kan nol, saya masuk menjadi tim membangun perusahaan itu menjadi property yang besar.

Itu di tahun 1994 ya?

Dari 1994 sampai sekarang, berarti sudah 23 tahun

Sampai sekarang di Executif?

Saya sudah lewat, sekarang saya di komisaris. Jadi kita bukan masuk ke perusahaan besar ya, saya membangun perusahaan itu menjadi besar. Perusahaan asalnya tidak ada menjadi ada dan menjadi besar.

Punya putra atau putri berapa?

Putri 1, baru kuliah S2 di inggris

Nandi Nanti

Pimpinan usaha Industry.co.id

Nandi Nanti adalah Pendiri Industry.co.id, portal berita ekonomi dan bisnis. Karir jurnalistiknya dimulai sejak 2004 di Koran Pelita hingga Majalah Investor Group, lalu mendirikan Majalah Industry pada 2012 dan media online Industry.co.id pada 2017. Beliau aktif di organisasi media sebagai Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) DKI Jakarta periode 2019–2023, Bendahara Umum di Forum Media Digital Indonesia di 2016. Di bidang kelembagaan, Nandi juga aktif di Kadin Indonesia dan terakhir menjabat Ketua Komtap Media & Kelembagaan di Aptrindo (ALB Kadin).

Lihat semua artikel →