Gawat, Data Acak Kadul Pembagian Bantuan Sosial Berantakan

Oleh : Ridwan | Senin, 27 April 2020 - 18:15 WIB · 2 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah mengungkap adanya potensi para penerima bantuan sembako maupun bantuan tunai menerima bantuan ganda atau double karena adanya distribusi bantuan sosial yang dianggap belum merata bagi warga.

Menteri Sosial Juliari Batubara mengemukakan bahwa bantuan sosial kepada masyarakat memang harus diatur dengan baik supaya tidak terjadi penumpukan. Bahkan, kondisi ini sudah terjadi di lapangan.

"Ada satu keluarga yang sudah terima bansos tunai dari Kemensos Rp 600.000, dia terima lagi bansos tunai dari dana desa Rp 600.000. Ini harus kita hindari supaya tidak terjadi kekacauan di bawah," kata Juliari dalam konferensi pers, Senin (27/4/2020).

Ia pun tak menampik bahwa bantuan sosial dari pemerintah tidak semuanya bisa disalurkan ke masyarakat. Pasalnya, pihak yang paling mengetahui betul pendataan warga adalah pemerintah daerah.

Maka dari itu, pemerintah pun menyatakan bahwa distribusi bantuan sosial bagi warga terdampak Covid-19 akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah agar bantuan bisa tepat sasaran dan merata.

"Data penerima bansos itu kami memberikan keleluasaan untuk seluruh pemerintah daerah tidak harus mengambil semua data yang ada di data terpadu. Jadi pemda juga silahkan," katanya.

"Kami tahu, teman-teman di daerah juga sangat memahami apa yang paling baik untuk daerahnya," katanya.

Sebagai informasi, pemerintah saat ini telah menyalurkan dua jenis bantuan sosial. Pertama, bantuan paket sembako senilai Rp 600.000 yang diberikan dua kali per bulan kepada 1,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di DKI Jakarta dan 600.000 KPM di Bodetabek.

Kedua, pemerintah memberikan bantuan sosial tunai (BST) sebesar Rp 600.000 per KPM yang disalurkan kepada 9 juta KPM di luar penerima program PKH maupun bantuan sembako di 33 provinsi.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →