Rudi Rubiandini: Harga Minyak Dunia Anjlok, Kita Hanya Bisa 'Melongo' dan Jadi Penonton

Oleh : Ridwan | Senin, 27 April 2020 - 16:05 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Harga minyak dunia anjlok akibat pandemi corona yang membuat permintaan menurun drastis, kini terjerembab di kisaran USD 20 per barel. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat negatif menjadi USD -14,08 per barel pada 21 April 2020.  

Negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS) justru mampu memanfaatkan momentum ini dengan melakukan pembelian besar-besaran, tapi sayangnya momentum ini tidak bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Pasalnya Indonesia tidak punya tangki penmyimpanan yang cukup besar.

Hingga saat ini, Indonesia hanya mempunyai tangki cadangan minyak untuk kebutuhan 14 hari, berbeda dengan Amerika Serikat (AS) yang punya tangki penyimpanan untuk kebutuhan minyak hingga 6 bulan.

"Sebenarnya bagi negara net importir seperti Indonesia, harusnya yang dilakukan adalah membeli dan menyimpan. Namun, situasinya berbeda, Indonesia tidak punya cukup tangki untuk menimbun, sehingga Indonesia hanya bisa menonton saja tidak bisa menikmati," kata Mantan Kepala SKK igas Rudi Rubiandini dalam keterangannya kepada Industry.co.id di Jakarta, Senin (27/4/2020).

"Nah, sekarang ketika kejadian seperti ini, kita tidak mampu mengambil keuntungan untuk cadangan beberapa bulan ke depan. Jadi hanya mengikuti saja gelombang naik turunnya harga minyak dunia," tambah Rudi.

Meski demikian, Indonesia sebagai importir bukannya tidak menikmati keuntungan dari jatuhnya harga minyak. Dalam kondisi seperti sekarang, Indonesia tak perlu menguras cadangan dolar AS untuk belanja minyak. 

"Kita yang biasanya menyiapkan uang dolar AS untuk impor minysk dengan harga yang cukup tinggi, sekarang hanya perlu menyiapkan lebih sedikit. Jadi artinya memang di dalam sistem belanja kita di dalam APBN berkurang, tetapi juga ada pengurangan yang signifikan dari pendapatan di industri migas hulu," terangnya.

Menurut perhitungan Rudi, ketika rata-rata harga minyak USD 60 barel per hari, Indonesia harus mengeluarkan USD 60 juta per hari untuk impor minyak. Sekarang ketika harga minyak anjlok ke kisaran USD 20 per barel, kebutuhan fiskal di Bank Indonesia berkurang USD 46 juta menjadi USD 14 juta per hari. "Dalam setahun, penghematannya mencapai USD 17 miliar," papar Rudi.

Lebih lanjut, Rudi mengungkapkan bahwa suka tidak suka harga BBM sudah semestinya turun. Dicontohkan Rudi, dengan harga minyak dunia sebesar 20 dola AS per barel ditambah 10 persen margin, sudah semestinya harga BBM itu sekitar Rp5.500 - 6.000 per liter. Namun hingga saat ini harga BBm masih juga belum diturunkan. 

Disisi lain, Pemerintah berdalih penurunan harga BBM harus dievaluasi dengan data dua bulan sebelumnya, sedangkan jika melihat harga minya du bulan kebelakang masih di kisaran 57 dolar AS per barel, sehingga harga jual ke masyarakat masih terbilang tinggi.

"Jika menggunakan peraturan yang berlaku sekarang mestinya bulan Mei 2020 harg BBM sudah harus turun di kisaran Rp7 ribuan, dan di bulan Juni mestinya yang hari ini Pertamax Rp9 ribuan itu sudah harus turun menjadi Rp5.500," jelas Mantan Wamen ESDM ini.

Rudi khawatir jika recovery harga minya dunia tidak bisa terlalu cepat akan ada dampak yang sangat mengerikan bagi industri hulu migas. "Dampak terdekatnya akan terjadi gelombang PHK kalau recovery hanrga minyak tidak bisa cepat. Jadi artinya, kalau ini terjadi sampai akhir tahun depan, benar-benar sangat mengerikan," jelasnya.

Untuk mengantisipasi agar hal tersebut tidak terjadi, Rudi meminta pemerintah melakukan replaning di berbagai sektor, bukan hanya di sektir migas saja tetapi juga termasuk di sektor ekonomi lainnya. 

"Apa yang sudah diteta[pkan di awal tahun kemarin, semua harus kembali difikirkan ulang dan saling bekerjasama satu sama lain untuk menghitung kembali jika kita tidak ingin terjerumus ke dalam resesi yang sebenarnya. Itu usulan saya, mudah-mudahan ada yang mendengar," harap Rudi.