Awal Pekan Diperkirakan IHSG Mencoba Naik
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Secara teknikal IHSG bergerak rebound dan memiliki pola candlestick bullish harami dengan rebound tepat pada area lower bollinger bands. Indikator Stochastic bergerak golden-cross dan RSI bullish reversal momentum memberikan signal pertama rebound ditengah tekanan bearish masih membayangi pergerakan.
"Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak kembali mencoba pada zona hijau dengan support resistance 4100-4287," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta,Senin (23/3/2020).
Saham-saham yang masih dapat dicermati setelah mengalami penurunan tajam diantaranya; ASII, BBNI, BMRI, BBRI, KLBF, JSMR, WSKT.
IHSG (+2.18%) ditutup menguat 89.52 poin kelevel 4194.94 setelah sempat melemah lebih dari empat persen dan meninggalkan level 4000 diawal sesi perdagangan mengiringi penguatan yang optimis pada bursa saham Tiongkok dan Hongkong. Pergerakan IHSG cenderung optimis menjelang sesi kedua setelah spekulasi terjadinya intervensi pemerintah pada mata uang Rupiah yang sempat melemah lebih dari Rp16000 per USD. Sebelumnya Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan Triple Interventions guna menahan pelemahan rupiah disaat Greenback yang sangat kuat saat ini. Sektor Konsumsi (+7.79%) dan Infrastruktur (+5.75%) memimpin penguatan indeks sektoral. Saham GGRM (+19.98%), INAF (+17.71%) dan HMSP (+16.45%) naik optimis setelah berhasil rebound dari auto rejection. Sedangkan saham EXCL (+13.12%) dan TLKM (+9.92%) menjadi pemimpin penguatan sektor infrastruktur. Investor asing masih melakukan aksi jual bersih sebesar Rp794.03 Miliar rupiah.
Bursa Eropa dibuka menguat dengan indeks Eurostoxx (+5.36%), FTSE (+2.99%) dan DAX (+5.47%) naik optimis lebih dari lima persen menjelang akhir pekan ditengah tanda-tanda tentatif dari kembalinya investor yang tertarik pada aset berisiko mengiringi kenaikan indeks future di AS. Dollar terkoreksi setelah mengalami apresiasi lebih dari 8% Meskipun demikian perdagangan aset berisiko masih dilapisi ketidakpastian. Presiden Donald Trump berusaha meyakinkan kaum Republikan yang skeptis bahwa ia bertujuan untuk membantu para pekerja pada saat krisis setelah data menunjukkan klaim pengangguran A.S. datang lebih tinggi dari yang diharapkan. Selanjutnya investor masih terus menantau data kasus pandemic coronavirus di dalam negeri maupun diluar negeri guna mengukur penurunan permintaan dan aktifitas bisnis serta perlambatan perdagangan internasional.