Pelaku Industri Tekstil Teriak, Rakyat Butuh Pekerjaan bukan Barang Konsumtif

Oleh : Ridwan | Sabtu, 21 Maret 2020 - 14:05 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk merelaksasi impor di tengah meluasnya wabah Covid-19 di Indonesia. Namun, kebijakan tersebut dinilai bakal membuat industri dalam negeri semakin luluh lantah.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Chandra Setiawan mengatakan, pemerintah seharusnya melihat struktur industri nasional sebelum membuat kebijakan merelaksasi impor.

"Disaat sekarang ini rakyat perlu pekerjaan, bukan perlu barang murah untuk semakin konsumtif," kata Chandra saat dihubungi Industry.co.id di Jakarta, Sabtu (21/3/2020).

Dijelaskan Chandra, selama ini industri TPT dalam negeri sudah terlalu lama terjebak dengan solusi pintas dengan membuka keran impor, sehingga membuat sektor-sektor industri dalam negeri tidak bertumbuh.

"Perlu di catat bahwa sebelum kita bisa ekspor harus memperkuat penguasaan dalam negerinya terlebih dahulu," jelasnya.

Ia berharap pemerintah tidak gagal fokus dengan membuka keran impor lebih lebar dengan cara memberikan relaksasi impor disaat kritis seperti sekarang ini.

"Kurangi ketergantungan kita terhadap negara lain dengan cara fokus kepada integrasi setiap industri dari hulu ke hilir, substitusi impor dan cipta lapangan kerja di negara kita sendiri," tutup Chandra.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →