Tingkatkan Ekspor Furnitur, Kemenperin Siapkan 6 Langkah Kongkrit

Oleh : Ridwan | Sabtu, 14 Maret 2020 - 19:40 WIB · 3 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Yogyakarta - Industri furnitur mampu mendobrak pasar internasional melalui berbagai produk unggulannya yang dinilai memiliki kualitas yang baik dan desain menarik. Kekuatan sektor ini didukung melalui ketersediaan sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia terampil, dan keragaman corak dari budaya lokal. 

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, tahun 2019 ekspor furnitur mencapai US$ 1,95 miliar atau naik 14,6% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 1,69 miliar, dengan negara tujuan utama ekspor ke Amerika, Jepang dan Australia.

"Hal ini tentu saja merupakan sinergi antara pelaku usaha, asosiasi, serta pemerintah dalam rangka membangkitkan geliat industri nasional untuk meningkatkan ekspor," kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih seusai membuka Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA 2020), Sabtu (14/3/2020).

Jika dilihat dari posisi ekspor furnitur dunia, lanjut Gati, Indonesia berada pada posisi 26 (dua puluh enam) dan di Asia menduduki posisi ke 5 setelah Cina, Vietnam, Malaysia dan Cina Taipei, sehingga perlu terus didorong dengan terobosan-terobosan untuk meningkatkan daya saing.

Menurut Gati, pameran JIFFINA tahun 2020 yang mengangkat tema “Serve The World with The Unique Diversity of The Eco Lifestyle”, mempunyai implikasi luar biasa bagi pelaku industri furnitur dan kerajinan dengan keunggulan bahan baku yang terbarukan seperti rotan dan bambu, serta kreatifitas desainer Indonesia dalam membuat furnitur ramah lingkungan. 

"Seharusnya Indonesia sangat bisa menjadi trendsetter dalam pengembangan eco lifestyle furnitur dunia," terangnya.

Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan ekspor industri furnitur dan kerajinan melalui enam langkah kongkrit antara lain, pertama, revitalisasi Unit Pelaksana Teknis (UPT). Kedua, pendirian Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu. Ketiga, memfasilitasi pameran baik di dalam negeri maupun di luar negeri. 

Selanjutnya, keempat, mendorong pembangunan Material Center untuk kontinuitas ketersediaan bahan baku yang berkualitas. Kelima, rencana Pendirian Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), dan keenam, mendorong Indonesia untuk berperan dalam Focus on Design pada Pameran Ambiente di Jerman untuk menampilkan kekuatan desain produk Indonesia pada pameran tersebut.

Tahun ini, Kementerian Perindustrian memberikan booth seluas 432 m2 dengan total peserta 21 IKM yang berasal dari 8 (delapan) sentra furnitur yaitu DI Yogyakarta, Ngawi, Blora, Klaten, Semarang dan Solo Raya. Dalam pameran ini, peserta melakukan inovasi terbaiknya dalam membuat produk untuk dipamerkan kepada buyer internasional.

"Kami ingin menegaskan bahwa kemajuan industri furnitur Indonesia bukan hanya usaha dari pemerintah semata, namun juga semua pihak dari hulu ke hilir, dimana IKM diharapkan tetap menjaga kualitas bahan baku dan produknya, serta melakukan inovasi dan selalu melakukan eksplorasi kekayaan budaya nasional serta mengikuti trend pasar global," papar Gati.

"Pameran JIFFINA 2020 membuktikan komitmen kita bersama dalam mempromosikan produk furniture dan kerajinan, dengan harapan, tentu saja, pameran ini menjadi katalisator peningkatan ekspor furnitur Indonesia," tutupnya.

Ridwan

Redaksi

Ridwan Permana merupakan lulusan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta yang saat ini berkiprah sebagai jurnalis ekonomi sektor riil. Ia memfokuskan diri pada peliputan isu-isu industri manufaktur dan properti, dua sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan gaya penulisan yang padat, ringkas, dan mudah dipahami, Ridwan dikenal mampu menyajikan informasi ekonomi dan industri yang kompleks menjadi lebih sederhana bagi pembaca. Dedikasinya dalam dunia jurnalistik ekonomi menjadikan Ridwan konsisten menghadirkan informasi yang relevan, faktual, dan bernilai bagi pelaku usaha, pemangku kepentingan, maupun masyarakat luas.

Lihat semua artikel →