Serial Belajar Hidup ala S Dian Andryanto

Oleh : Herry Barus | Minggu, 22 Desember 2019 - 15:00 WIB · 4 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta-  Tak terbayangkan oleh S. Dian Andryanto, tahun 2019 ini, #sayabelajarhidup sudah lima tahun berjalan. Sejak edisi 1-3 #sayabelajarhidup Empati – Simpati – Harmoni diluncurkan 6 Desember 2015, dengan segala upaya tiga buku tersebut terbit secara independen.

Kemudian berlanjut pada tahun-tahun berikutnya terbit (juga independen) buku #sayabelajarhidup lainnya: Matur Suksma, Simfoni, Asmaradahana, Pita Garuda, Nyala Nyali, Nusantara Berkisah 1. Tidak hanya di Jakarta, buku-buku tersebut diluncurkan pula di Bali dan Yogyakarta.

Tentu saja, hal tersebut berkat dukungan dan sponsor dari beberapa pihak baik perorangan maupun perusahaan yang memberikan kepercayaan supaya buku-buku serial #sayabelajarhidup dapat terus diterbitkan.

Tak sedikit kemudian yang mempertanyakan bagaimana buku-buku yang diterbitkan independen bisa bertahan dan berkelanjutan terbit sampai hari ini, selama lima tahun ini. “Komunitas pembaca #sayabelajarhidup yang sudah tersebar di berbagai daerah menjadi motor mengapa buku ini terus diterbitkan. Jangan lari dari konsep awal #sayabelajarhidup untuk mengasah rasa empati kepada sekitar. Dan, jalin silaturahmi dengan siapapun, termasuk kepada perorangan atau perusahaan yang memberikan kepercayaan buku ini terbit dan tersebar,” kata S. Dian Andryanto.

“Dan, terus lakukan pengembangan dan terobosan dalam berbagai hal. Kami tengah menyiapkan buku-buku #sayabelajarhidup dalam bentuk e-book, sehingga permintaan pembaca di uar negeri atau berbagai daerah dapat terpenuhi. Pokoknya, kembangkan literasi, dan jarak bukan halangan,” kata Dian, menjelaskan.

Sebagian besar tulisan dalam status  S. Dian Andryanto di media sosial, khususnya di facebook, masih menjadi muatan utamanya. Termasuk buku ke-10 “di antara hening” ini. Buku ini sedikit berbeda dari buku-buku sebelumnya yang lebih dominan membicarakan tentang manusia. Di buku setebal 214 halaman dan memuat 75 tulisan esai ini, mengajak pembaca untuk memahami makna “awalan” dan “pengakhiran” atau kehidupan dan kematian.

“Saya merasa harus menuliskannnya, dan mengumpulkan tulisan-tulisan ini. Karena agar tak lupa, asyik dalam kehidupan di antara kehidupan dan kematian, tapi alpa mengingat tujuan kelahiran dan maksud kematian,” kata Dian. “Buku ini ditulis dengan bahasa populer, santuy, sehingga bisa dibaca berbagai kalangan, tidak sulit dicerna, tanpa menghilangkan maknanya,” katanya, menambahkan.

Sedangkan, buku Nusantara Berkisah 2 dengan tema “Orang-orang Sakti” ini, menjadi project mengembangkan penulis-penulis dari berbagai pelosok di Indonesia. Tahun lalu dengan Nusantara Berkisah 1 (bersama 30 penulis), sekarang Nusantara Berkisah 2 dengan 32 penulis.

“Pembaca #sayabelajarhidup ternyata banyak penulis-penulis berbakat dan hebat, hanya kendala untuk menerbitkan karya mereka dalam bentuk buku, nah kami memfasilitasinya, untuk menulis dalam satu buku bersama-sama S. Dian Andryanto,” kata Urry Kartopati, Manajer Produksi Langgam Komunika, penerbit independen tersebut. “Meskipun kecil, semoga bisa menjadi kontribusi kami untuk memberikan wadah dan ruang kepada para penulis di berbagai daerah untuk mengembangkan karyanya, dan memotivasi agar terus menulis,” kata Urry.

Sejak Agustus 2019 diumumkan, terkumpul sekitar 612 tulisan dari 73 penulis. Melalui seleksi yang ketat, terpilih 32 penulis dengan 65 tulisan yang dimuat dalam buku Nusantara Berkisah 2 ini.

Dian menjelaskan, mengapa tema orang-orang sakti? “Tulisan ini tentang orang-orang yang diabaikan, tak dianggap, tak terlihat. Tapi justru mereka sebenarnya bisa memberikan motivasi dan inspirasi dalam kehidupan kita. Dan, dengan  empati yang tinggi, penulis-penulis ini bisa menggalinya. Jadi, orang-orang sakti itu bukan hanya sumber penulisannya, tapi juga para penulis itu sendiri yang mampu menulis dengan hati,” kata Dian.

“Dukungan dan apresiasi yang tak henti-henti dari pembaca setia tulisan status saya di media sosial, para sponsor, khusunya dari kerabat  #sayabelajarhidup di banyak tempat, membuat buku ke-10 dan ke-11 #sayabelajarhidup, bisa terbit di akhir tahun dan menjadi kegiatan rutin,” kata S. Dian Andryanto.

 “Semoga senang membaca buku-buku ini, punya manfaat, dan mengingatkan kembali betapa berharganya kehidupan kita ini, dan menyadari betapa bernilainya yang kita tinggalkan setelah kematian,” kata Dian.

S. Dian Andryanto, kelahiran Yogyakarta 27 Desember 1970, menyadari sejak kecil tidak punya cita‐cita selain menjadi penulis. Hanya menulis saja yang diinginkannya. Menyelesaikan DIII Jurnalistik di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), langkah pendidikan formal yang ditempuhnya. Banyak hal berkaitan dengan profesi menulis kemudian dijalani, menulis cerita pendek untuk majalah anak‐anak dan remaja, penulis sandiwara radio, menulis panel‐panel di beberapa museum, menulis beberapa buku perusahaan dan majalah internal, sebagai penulis lepas hingga Redaktur Pelaksana di Majalah Matra, Pemimpin Redaksi di Majalah Manly, hingga penulis di Tempo Media Group. Menularkan semangat menulis sebagai pemateri di beberapa pelatihan jurnalistik mahasiswa dan instansi pun dilakoni.

Telah menyelesaikan 11 buku #sayabelajar hidup sejak 2015 - 2018: EMPATI – SIMPATI – HARMONI – MATUR SUKSMA – SIMFONI – ASMARADAHANA – PITA GARUDA – NYALA NYALI, NUSANTARA BERKISAH 1, DIANTARA HENING, dan NUSANTARA BERKISAH 2 “ORANG-ORANG SAKTI” bersama 30 penulis lainnya. Buku-buku tersebut diterbitkan independen dengan bendera Langgam Komunika.

 

Herry Barus Lihat semua artikel →