Kebijakan Fiskal Kurangi Perlambatan Moneter
INDUSTRY.co.id - Jakarta - analis Bank DBS menilai Kebijakan fiskal terlihat lebih berfokus pada kebijakan di sisi suplai untuk meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang dan memberikan dukungan netral untuk pertumbuhan jangka pendek. Infrastruktur tetap menjadi prioritas dengan sedikit perubahan sehingga lebih terfokus pada pengembangan infrastruktur antarpulau.
"Dalam hal anggaran, pengeluaran untuk bidang pendidikan ditetapkan sebesar 20% oleh undang-undang. Penekanan baru dalam bidang SDM ini kemungkinan akan mempengaruhi kualitas pengeluaran dan prioritas, bukan dari jumlah yang dialokasikan. Fokus pada SDM sangat penting mengingat kualitas pendidikan Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga," ujar Masyita Crystallin, Economist Bank DBS di Jakarta, dikutip Selasa (27/8/2019).
Menurut dia, ada ruang anggaran memadai untuk mendukung pertumbuhan jangka pendek. Kebijakan fiskal dapat memainkan peran penting untuk mengurangi dampak dari perlambatan saat transmisi kebijakan moneter terkendala oleh kondisi likuiditas, yang agak ketat.
Selain itu, meskipun utang luar negeri telah meningkat sejak tahun lalu, utang Indonesia masih relatif rendah, dengan total utang luar negeri terhadap PDB (publik dan swasta) tidak sampai 36,2% dari PDB pada tahun 2018.
"Anggaran tahun 2020, dengan target defisit 1,76% (dibandingkan dengan 1,93% untuk tahun 2019) dan keseimbangan primer mencapai Rp21 triliun (dari Rp34,7 triliun tahun ini), terlihat cukup seimbang," katanya.