2016, Mandiri Tunas Finance Salurkan Pembiayaan Bernilai Rp19 Triliun

Oleh : Abraham Sihombing | Kamis, 09 Maret 2017 - 11:41 WIB · 1 menit baca Baca versi lengkap →

INDUSTRY.co.id - Jakarta – PT Mandiri Tunas Finance (MTF) menggelontorkan pembiayaan bernilai Rp18,63 triliun pada 2016, atau tumbuh sekitar 8,68% dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp17,14 triliun.

“Pertumbuhan pembiayaan kami lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan industri pembiayaan rata-rata pada 2016 sebesar 6,67%,” ujar Ignatius Susatyo Wijoyo, Direktur Utama MTF, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (08/03/2017).

Susatyo mengemukakan, pembiayaan MTF tersebut terdiri dari pembiayaan retail sebesar Rp14,73 triliun, pembiayaan corporate fleet sebesar Rp2,21 triliun, kredit kendaraan bermotor (KKB) yang merupakan program refferal dari nasabah Bank Mandiri sebesar Rp1,64 triliun dan kredit multiguna sebesar Rp34,89 miliar.

Susatyo menjelaskan, pelemahan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat membuat MTF tetap menjalankan manajemen risiko yang ketat dalam proses kredit. Itu terlihat dari rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Finance/NPF) yang masih aman terjaga di level 1,49% per 31 Desember 2016.

Susatyo menuturkan, pertumbuhan pembiayaan yang digelontorkan MTF sejalan dengan NPF yang terjaga pada 2016 mengakibatkan perseroan mampu membukukan laba bersih sebesar Rp335 miliar.

“Laba tahun lalu masih lebih tinggi sekitar 9,1% dibandingkan dengan realisasi laba pada 2015 sebesar Rp307 miliar,” pungkasnya.

Susatyo menegaskan, pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan MTF pada 2016 menjadi Rp1,52 triliun dibandingkan pada satu tahun sebelumnya sebesar Rp1,28 triliun.***

 

Abraham Sihombing

Redaksi

Abraham Sihombing adalah seorang jurnalis dan analis keuangan senior yang berbasis di Indonesia. Dengan karier membentang lebih dari satu dekade di Industry.co.id,m. Spesialisasinya adalah pasar modal, saham, dan sektor keuangan—menjadikannya salah satu penulis paling produktif di bidang ekonomi dan bisnis. Abraham dikenal luas karena analisisnya yang tajam terhadap pergerakan IHSG, saham-saham blue chip seperti BBCA, TLKM, dan ICBP, serta komoditas strategis seperti CPO dan minyak dunia. Selain pasar modal, ia juga aktif menulis tentang sektor industri, agro, dan energi. Gaya tulisannya yang informatif dan berbasis data menjadikannya rujukan bagi pembaca yang membutuhkan wawasan mendalam tentang dinamika ekonomi Indonesia.

Lihat semua artikel →